Jogjaaaaa!

Seminggu pertama dari Bulan Februari 2017 ini kuhabiskan di Kota Gudeg Yogyakarta, atau yang lebih akrab disapa dengan Jogja. Jogja selalu menyimpan banyak cerita dari sejak pertama kali aku berkunjung ke sana di tahun 2004. Bisa dibilang aku selalu mengunjungi kota ini dengan berbagai alasan setahun sekali sejak aku lulus dari SMA. Berbicara tentang Jogja, ada banyak hal yang bisa diceritakan mulai dari keramahan para penghuninya hingga kekayaan budayanya dengan tempat-tempat bersejarahnya. Walaupun begitu, aku mencoba menghindari untuk memilih kuliah di Jogja karena tempat ini adalah zona nyaman yang luar biasa bagiku. Kali ini, aku ingin mencoba membahasnya dari segi yang sedikit pribadi melalui hal-hal yang memberiku kesan ‘nostalgia’.

  1. Kacamata

Kenapa aku harus membahasnya mulai dari kacamata? Beberapa hari sebelum aku sampai di Jogja tanggal 1, aku mengalami peristiwa tragis (sebenarnya nggak tragis-tragis banget sih) yang menyebabkan kacamata yang biasa aku pakai sejak tahun 2015 itu patah menjadi 2 bagian. Peristiwanya terjadi ketika jalan-jalan penutupan kepanitiaan Pemira IKM UI 2016 di wahana Ice Age Dufan. Gelapnya pemandangan di wahana tersebut membuatku tidak fokus dan menabrak dinding tak terlihat itu dengan begitu kerasnya. Kacamataku patah menjadi dua, dan ada sebuah bekas lecet di dekat mata sebelah kananku. Tragis bukan? (mencari simpati, wkwk)

Sebenarnya ada satu kacamata cadangan yang kumiliki, tapi ia hilang tak berbekas entah ke mana ketika aku pindah tempat tinggal ke asrama.

Mendengar penuturan ceritaku itu, Kak Rani, yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, kemudian memberiku sebuah kacamata dengan lensa minus satu yang sebenarnya nggak pas dengan mataku. Kacamata yang diberikan Kak Rani itu adalah sebuah kacamata dengan frame merah, dengan kesan feminin yang ditampakkannya. Namun, ternyata kacamata itu sangat cocok dengan wajahku. Entah kenapa, hampir semua kacamata cocok jika disandingkan dengan wajahku. Kata Kak Rani, aku bisa menggunakan frame dari kacamata pemberiannya untuk digunakan dengan lensa kacamata lamaku yang telah patah. FYI: kacamata yang diberikannya padaku itu adalah pemberian mantannya dulu.

Tapi dasar orang sibuk, aku benar-benar nggak punya waktu dari pagi sampai malam untuk pergi ke optik sekadar untuk membetulkan kacamataku, walaupun aku harus bertingkah seperti orang setengah buta dalam setiap kegiatanku. Dari luar, orang melihatku biasa saja karena aku memakai kacamata yang diberikan oleh Kak Rani sebelumnya. Namun, sebenarnya aku melihat seperti orang yang tidak memakai kacamata. Lalu aku jadi bertanya-tanya, “Seperti inikah yang dirasakan oleh temanku Hadhara saat Youth Adventure dari Jogja ke Jakarta atau temanku Andin saat FLS berlangsung?” Sungguh rasanya aku telah benar-benar bergantung pada kacamata ya, sejak aku pertama kali memakainya di tahun 2006.

Alhasil, begitu keretaku sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, hal yang pertama kali kulakukan adalah mencari toko optik yang masih buka sampai menjelang tengah malam. Berbekal bantuan Google Maps, aku menemukan Optik Tugu yang di hari itu masih buka sampai jam 10 malam, kebetulan letaknya juga dekat dengan Stasiun Tugu yang hendak kutuju setelahnya. Akhirnya aku segera menuju ke tempat itu sambil menggondol kacamata lamaku yang patah.

“Wah, ini nggak bisa kalo cuma ganti frame. Harus bikin kacamata baru mas.”

Pernyataan dari mbak-mbak di toko optik itu cukup membuatku bingung, karena bagiku ini adalah alamat mengeluarkan uang lebih untuk bulan ini.

“Kalau bikin baru harganya berapa mbak?”

“Di sini kami ada 2 pilihan mas. Kalau yang cuma lensa doang garansinya, itu 350 ribu. Kalau yang frame-nya juga garansi, itu 650 ribu mas.”

Berhubung keuanganku sedang cukup terbatas dan belum tentu ada waktu lain untuk bikin kacamata lagi, akhirnya kuputuskan untuk membeli kacamata yang harganya 350 ribu. Kalau berpikir mahal murahnya, anggap saja ini investasi. Kali ini aku memilih frame kacamata berwarna ungu. Mungkin ungu kesannya feminin, tapi memang pada dasarnya aku ini senang dengan hal-hal yang sifatnya feminin. Contohnya, kerapian kamar, warna favorit, lagu-lagu yang kudengarkan, ketidaksukaanku pada pekerjaan pertukangan, dan sampai saat ini kebanyakan dari wanita yang pernah mengisi hatiku pun punya kepribadian tomboi.

img_20170211_210234
Kacamata baruku!

Oleh-oleh pertamaku dari Jogja, kacamata baru!

  1. Garda dan Bayu

Bayu Rakhmatullah, mahasiswa Fisika ITB angkatan 2013 yang sedang pusing karena TA, adalah orang yang sukses mengompori diriku untuk pergi ke Jogja dengan kemampuan persuasifnya yang mengagumkan. Padahal pada awalnya, aku sempat ragu untuk pergi ke Jogja karena ada beberapa orang yang jarang ketemu, yang aku sudah punya janji untuk ketemuan di wisuda semester gasal UI yang jatuh tanggal 4 Februari 2017. Tapi setelah menimbang-nimbang, karena aku juga ada Musyawarah Nasional (Munas) Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia (KORBI) di Kaliurang, Yogyakarta dari tanggal 3-4 Februari, akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke Jogja dan membatalkan janji yang lebih awal.

Sedikit prolog tentang Bayu, dia sangat sering melontarkan kata-kata “zonk” dan “t*i kucing” ketika menemui sesuatu yang tidak dia sukai. Seperti halnya ketika kami menemui Pantai Baron yang ternyata sedang keruh airnya karena musim hujan. Penampilannya sangat jauh dari anak ITB yang kesannya kaku. Terlepas dari itu semua, Bayu adalah orang yang benar-benar memikirkan orang lain sampai mungkin kita akan merasa kalau dia begitu berlebihan. Seperti usai kunjungan kami ke Sarkem, Bayu tampak begitu paranoid untuk memastikan Garda tidak mampir lagi ke sana. Yang kusuka dari Bayu adalah, ia selalu menjadi dirinya sendiri di mana pun dia berada. Sangat jarang aku melihat orang yang topengnya tetap sama di mana pun ia berada. Ia akan tetap mengatakan “zonk” dan “t*i kucing” sambil tertawa kencang dengan siapa pun ia berbicara.

Sedangkan Garda adalah tuan rumah yang rela menampung Bayu dan diriku di rumahnya yang sederhana di Bantul. Pertama kali melihat Garda, mungkin kamu akan berpikir kalau dia orangnya kaku dan kurang bisa diajak ngobrol. Tapi percayalah, semakin kamu mengenal Garda, kamu akan melihat sosok seseorang yang peka terhadap kebutuhan orang lain dan punya cara yang tidak biasa dalam mengekspresikan niat baiknya untuk membantu orang lain. Seperti misalnya ketika kami sedang di perjalanan mengendarai motor melewati jalan desa di sore hari, Garda berhenti sesaat sambil berbicara dengan seorang bapak tua yang sedang memanggul sebuah kayu besar di pundaknya. Tadinya aku dan Bayu mengira kalau ia sedang menanyakan arah jalan. Sesaat kemudian, bapak tua tersebut sudah ada dalam boncengannya. Rupanya ia menawarkan untuk mengantarkan bapak tua itu sampai depan rumahnya!

Bersama kedua orang ini, aku mengunjungi beberapa tempat terkenal di Jogja dan sekitarnya seperti Malioboro, Benteng Vredeburg, Bukit Rhema yang muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta, Pantai Indrayanti, dan SARKEM! Aku yakin kalian semua tahu atau minimal pernah mendengar sesuatu tentang Sarkem atau Pasar Kembang. Ia adalah sebuah tempat lokalisasi legal yang letaknya tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Malam itu kami bertiga menguji keberanian kami berjalan memasuki gang Pasar Kembang.

Begitu masuk, kami diminta uang ‘keamanan’ 5 ribu rupiah per orang. Kala itu masih jam 8 malam, tetapi para kupu-kupu malam sudah menunggui kami di pelataran depan rumahnya masing-masing sambil menyapa kami ramah. Di dalamnya, ternyata gang tersebut cukup luas, ada banyak tempat karaoke dan kafe juga. Yang membuatku terkesan, ternyata masih ada musala dan sebuah taman kanak-kanak yang berdiri di gang tersebut. Hasil observasi kami malam itu, selalu ada sisi baik dan buruk dari sesuatu yang membuat kita tak bisa begitu saja menghakiminya sebagai baik atau buruk. Cerita yang lebih mendetail dari ini sepertinya kurang layak untuk dipublikasikan karena sumbernya masih kurang lengkap dan tidak diperbolehkan untuk memotret secara langsung kondisi dalam gang tersebut.

img_20170205_122321
Kiri: Bayu, Kanan: Garda. Di Foodpark UGM.

Bayu dan Garda kini sama-sama sedang berjuang untuk menuntaskan pendidikan sarjana mereka. Mari kita doakan mereka segera lulus dan diwisuda tahun ini. Amin.

  1. Musyawarah Nasional KORBI

Acara ini yang bisa dibilang menjadi agenda utamaku di Jogja awal Februari ini. Sejujurnya aku baru beberapa bulan bergabung dengan KORBI atau Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia ini sehingga belum terlalu mengenal baik secara keorganisasian maupun orang-orangnya. Namun, aku mendapat kesan yang baik dari berinteraksi dengan para pengurus KORBI dari berbagai regional. Saat ini, KORBI memiliki chapter di Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Jogja yang saat itu menjadi tuan rumah. Sebenarnya ada beberapa chapter lain yang saat ini sedang non aktif seperti Pekanbaru, Bandung, dan Surabaya. Namun, ada kendala-kendala yang biasa dialami oleh organisasi yang baru berdiri seperti jarak dan komitmen yang masih berbeda-beda dari pengurusnya.

14677432_590028677858985_6980584653694435328_n
KORBI Depok di Munas KORBI. Dari kiri ke kanan: Kak Hasan, Kak Arga, Kak Aldi, remah-remah sari roti, Kak Tri, Kak Musfiq, Kak Hasima, Kak Sri.

Memulai sesuatu itu adalah hal yang sulit, lebih sulit dari mempertahankan. Dan kurasa itulah yang sedang dialami oleh KORBI. Seperti halnya masalah-masalah yang dibahas saat Munas yang lebih berkutat ke hal-hal yang sifatnya fundamental seperti mematangkan lagi AD/ART dan platform dari program-program KORBI. Kuharap seterusnya KORBI bisa lebih baik lagi dalam menunjang Anak Baik Indonesia dan menjangkau tempat-tempat yang belum terjangkau saat ini dan bisa berbagi lebih banyak kebermanfaatan.

  1. Andin

Nama panggilannya Andin, lengkapnya Raden Roro Erika Purwa Andini. Bertemu dengan Andin adalah salah satu tujuan utamaku datang ke Jogja. Apa yang membuatku harus repot-repot menemuinya dalam kunjungan singkatku? Aku juga masih mencari jawabannya, karena aku merasa kalau harus bertemu dengannya walaupun hanya sebentar. Ketika pertama kali bertemu dengan Andin di FLS awal Oktober lalu, aku merasakan semangatnya untuk belajar bahasa asing. Ia tampak berbeda dari kebanyakan mahasiswa yang biasa kutemui di FIB UI. Passionate. Mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya dengan satu kata. Kembali ke pertanyaan di atas, aku juga masih bingung dengan jawabannya. Entah, mungkin aku mencari sosok diriku pada dirinya? Atau mungkin aku mencoba mencari orang yang satu frame, sepemikiran denganku pada sosok Andin? Coba tanyakan saja pada rumput bergoyang. Hahaha.

freshpaint-7-2017-02-11-09-44-14
Penggambaranku mengenai Andin, berhubung aku tak punya fotonya! Haha.

Ketika kami bertemu di tanggal 5, dia baru saja sampai di Jogja sehari sebelumnya. Kulihat dia terbatuk beberapa kali dan wajahnya tampak kuyu kelelahan dari perjalanan jauh. Mungkin waktu itu bukan waktu yang terbaik untuk bertemu dengannya. Ditambah lagi aku yang telat datang dari waktu yang sudah dijanjikan sebelumnya. Namun, ia masih menyempatkan untuk menemaniku berkeliling Sunmor (Sunday Morning, sebutan untuk pasar kaget hari Minggu pagi di sekitar kampus UGM dan UNY) hingga akhirnya kami mengobrol di sebuah bangku di kampus FIB UGM. Kami mengobrol tentang banyak hal, dari seputar kegiatan perkuliahan kami hingga pandangan-pandangan kami mengenai kehidupan.

Mungkin Andin adalah sosok sahabat yang kuharapkan, yang tak bisa kutemukan di Depok. Seorang sahabat yang dengannya kau bisa menghabiskan berjam-jam mengobrol tentang banyak hal yang random sesuai suasana hati kami saat itu. 3 jam waktu yang kami habiskan di hari itu terasa seperti berabad-abad (lebay). Intinya aku merasa butuh seorang sahabat seperti Andin, seorang sahabat yang punya mimpi sama, umurnya berdekatan, jurusan kuliahnya mirip, hobinya hampir sama. Andin juga suka menulis, dan sepertinya lebih ahli daripada diriku dalam hal ini. Tulisan-tulisan Andin bisa dilihat di http://erikaseprijadi.wordpress.com atau http://miarachan.blogspot.com (ngiklan dikit). Ia juga suka membacakan puisi yang dibuatnya sendiri melalui akun Soundcloud-nya (silakan dicari sendiri).

  1. Waroeng SS

Brace Yourself, ini adalah cerita tentang Waroeng SS atau biasa juga dikenal dengan Waroeng Spesial Sambal.

Aku ingin membuat satu bagian khusus mengenai tempat makan favoritku ini. Bagi mahasiswa UI, Waroeng SS di Jalan Margonda Raya Depok adalah sebuah tempat sakral tempat ngumpul bareng teman organisasi atau sekadar makan-makan biasa. Tempatnya pun selalu penuh di berbagai jam, tidak terkecuali saat Bulan Ramadhan. Yang spesial dari Waroeng SS adalah penggabungan konsep kearifan lokal menggunakan sambel khas Indonesia dengan konsep restoran yang kekinian dan disukai oleh anak muda.

Dalam perjalananku ke Jogja ini pun aku sempat mengunjungi cabang Waroeng SS yang letaknya dekat dengan kampus UGM. Konon ceritanya, Waroeng SS pada awalnya berdiri di Jalan Kaliurang dekat dengan kampus UGM sebelum pada akhirnya memiliki banyak cabang di mana-mana di seantero Pulau Jawa. Yang menjadi concern-ku adalah kesamaan dari rumah makan ini di cabang mana pun. Baik dari segi kesan yang ditimbulkan, rasa makanannya, penampilan tempatnya, dan pelayanannya.

14733495_661409667350935_8659318105039699968_n
Reunian UI Ambitchious Club di Waroeng SS Margonda Depok bulan Mei 2016 (foto ini agak nggak nyambung sebenarnya).

6. The Happiness Project

Aku selalu mengusahakan untuk selalu membawa satu buku bacaan ketika bepergian, terutama ketika bepergian jauh. Karena ternyata hal ini merupakan solusi yang sangat ampuh untuk mengusir kebosanan. Terutama ketika harus duduk diam selama hampir 9 jam di dalam kereta dengan jarak 546 kilometer antara Jakarta-Jogja. Mengobrol dengan orang sekompartemen 10-20 menit mungkin bisa, tapi kita akan bosan ketika semua orang di kereta sudah mulai tertidur. Tidur di kereta bagiku cukup membuang waktu, kecuali memang ketika kita sedang sangat lelah. Karena itu, aku lebih memilih untuk membaca buku.

img_20170211_211929
The Happiness Project karya Gretchen Rubin.

The Happiness Project karya Gretchen Rubin adalah buku yang kuputuskan untuk menemani perjalananku kali ini. Sebenarnya aku sudah membaca 2 bab pertamanya sebelum berangkat, tapi aku menghabiskan sebagian besar dari buku ini hingga bagian akhirnya dalam perjalanan dan di Jogja sendiri. Satu fakta yang kutemukan, kita akan lebih mudah untuk mengingat kesan yang kita alami di suatu tempat dan di suatu waktu ketika kita memiliki sesuatu untuk dikaitkan. Dalam hal ini, bagiku adalah buku The Happiness Project. Ketika mencoba membaca ulang buku tersebut, akan mudah bagiku untuk mengingat-ingat kembali memori dari kejadian yang terjadi di sekitarku selama rentang aku membaca buku itu. Aku menyebutnya teknik asosiasi, karena kita mencoba mengaitkan antara satu hal dengan hal yang lain.

Sedikit menambahkan, buku The Happiness Project sendiri adalah buku yang sempat menjadi best seller di Amerika Serikat pada akhir dekade lalu. Buku ini menceritakan tentang percobaan Gretchen untuk menjadikan hidupnya lebih bahagia dengan mencoba hal-hal yang berbeda tiap bulannya dari Bulan Januari hingga Desember. Dan hasilnya adalah Gretchen menjadi orang yang lebih bahagia yang bisa mengendalikan diri dengan baik dan membawa aura positif ke lingkungannya.

Kesimpulan

Sebenarnya ini bukan paragraf yang akan menyimpulkan tentang perjalanan di atas. Yang ingin kusampaikan hanya lah agar para pembaca sekalian bisa mengamalkan konsep living life to the fullest. Karena terlalu banyak orang yang hidup dengan membawa-bawa pemikiran tentang masa lalu atau pun masa depan yang belum pasti sehingga lupa menjalani hidupnya di waktu sekarang. “Orang yang berbahagia bukanlah orang yang memiliki segalanya. Mereka hanya melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tetapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”

Advertisements

Summer Enrichment Programme – University of Malaya (UM), Malaysia

Cerita ini ditulis 35 hari sejak kepulangan saya dari Kuala Lumpur, Malaysia. Yang artinya informasi yang ada disini dituliskan berdasarkan ingatan semata, karena saya tidak menulis catatan harian selama berada disana.

Awal Perjalanan

Awal Bulan Desember 2015, saya membaca sebuah pengumuman tentang kesempatan untuk mengikuti short-term student exchange ke Chung Ang University, South Korea di laman International Office (IO) UI. Pengumuman itu saya baca pada tanggal 2 Desember 2015, sementara tenggat waktu yang diminta untuk pengumpulan berkas adalah pada tanggal 10 Desember 2015. Persyaratan yang diminta dari IO ketika itu adalah surat rekomendasi dari fakultas, transkrip akademik, curriculum vitae, serta sertifikat TOEFL ITP (min 550)/IELTS (min 6.0). Ketika itu, saya sedang tidak memiliki sertifikat profisiensi Bahasa Inggris yang masih aktif dan sedang merencanakan untuk mengikuti tes TOEFL ITP di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) UI pada tanggal 5 Desember 2015. Hal yang menjadi concern saya waktu itu adalah bagaimana mendapatkan keringanan pengumpulan berkas menjadi tanggal 15 Desember atau lebih lama dari itu, karena hasil TOEFL ITP baru bisa diambil paling cepat 7 hari kerja dari tanggal tes yang berarti tanggal 15 Desember. Akhirnya saya putuskan untuk mengirim email kepada Mbak Meita yang namanya tertera di pengumuman tersebut. Kesalahan yang saya buat adalah saya tidak segera mengurus berkas yang lain karena masih menunggu balasan email dari Mbak Meita yang baru dibalas 2 hari sebelum deadline pengumpulan berkas. Pada akhirnya, di tanggal 8 Desember Mbak Meita menjawab kalau saya bisa mengumpulkan sertifikat TOEFL ITP pada tanggal 15, serta mengumpulkan berkas lainnya pada tanggal 10. Tentu saja hal ini membuat saya bingung, pasalnya tanggal 9 Desember ada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Depok yang membuat segala aktivitas kampus diliburkan. Pupuslah harapan saya untuk bisa menghabiskan liburan semester di Korea.

Tanggal 15 Desember 2015, keluarlah hasil dari tes TOEFL ITP yang saya ikuti 10 hari sebelumnya. Hasilnya ternyata nilai saya mencapai 567! Alhamdulillah, di satu sisi saya bersyukur karena ada peningkatan, namun juga sedikit kesal karena gagal mendapatkan kesempatan untuk bisa pergi ke Korea. Keesokan harinya di tanggal 16 Desember 2015, muncul pengumuman dari IO tentang adanya kesempatan untuk bisa terpilih sebagai perwakilan UI untuk UI Creates Short-term Exchange Program at University of Malaya, Malaysia. Pada awalnya jujur, saya kurang antusias melihat judul pengumuman tersebut, karena Malaysia dekat dengan Indonesia dan menurut pandangan saya ketika itu, menghabiskan waktu disana tidak akan terasa berbeda jauh dengan di Indonesia. Namun, hal tersebut berubah ketika saya melihat persyaratan yang diminta sama persis dengan short-term exchange program ke Chung Ang University yang saya lihat sebelumnya! Kemudian, saya coba googling mengenai University of Malaya (UM) karena sejujurnya saya belum mengetahui tentang universitas ini sebelumnya. Dari hasil penelusuran, saya mengetahui bahwa University of Malaya adalah perguruan tinggi paling bergengsi di Malaysia yang baru-baru ini menempati peringkat ke-3 perguruan tinggi di ASEAN setelah National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU). Ibaratnya perguruan tinggi ini adalah UI-nya Malaysia. Hal tersebut yang membuat saya pada akhirnya antusias untuk mendaftar pada program ini. Nothing to lose lah, kalaupun gagal saya masih bisa menghabiskan liburan di Bontang, kampung halaman saya. Saya mendaftar bersama Wildan, salah satu teman saya di Prodi Belanda UI, dan mengumpulkan berkas sesegera mungkin sebelum tenggat waktu tanggal 23 Desember 2015.

Sebenarnya, tanggal 22 Desember 2015 kegiatan perkuliahan di semester gasal 2015/2016 sudah selesai. Namun, saya sengaja menunda kepulangan ke kampung halaman karena berniat menunggu pengumuman dari program ke UM tersebut. Berbagai kegiatan saya lakukan mulai dari travelling ke Serang, Banten maupun ke Semarang, Jawa Tengah. Sampai kemudian saya pulang ke Bontang pada tanggal 8 Januari 2016, belum ada pengumuman mengenai diterima atau tidaknya saya dalam program tersebut. Saya pun berspekulasi bahwa saya belum lolos dalam program tersebut karena sudah kurang dari 10 hari dari jadwal keberangkatan (program tersebut dijadwalkan dari 17 Januari 2016 – 7 Februari 2016) masih belum ada pengumuman. Hingga kemudian di suatu siang bolong, saat itu sekitar pukul 11.15 WITA di tanggal 13 Januari 2016, tiba-tiba ada telpon dari sebuah nomor asing yang masuk ke ponsel saya. “Selamat siang. Ini benar dengan Bagus Anugerah Yoga Pratomo? Selamat ya, kamu lolos program UI Creates yang ke Malaysia,” kurang lebih begitu redaksinya. “Sebentar ya mbak, saya mau minta izin ke orangtua dulu. Nanti saya akan telpon lagi.” Bagai kejatuhan durian monthong, saya bingung harus melakukan apa dulu. Langsung saja saya berdiskusi dengan Ibu dan Ayah saya mengenai tindakan yang harus diambil, dan akhirnya mereka mengizinkan saya untuk berangkat serta membelikan tiket pesawat Balikpapan-Jakarta untuk keberangkatan esok harinya. Benar-benar tak terbayangkan kalau itu akan menjadi hari terakhir di rumah untuk liburan itu, liburan singkat yang hanya 6 hari di rumah.

Keesokan harinya, tanggal 14 Januari 2016, saya diantar oleh kedua orangtua saya pagi-pagi sekali pada pukul 6 menuju pool bus Samarinda Lestari yang akan mengantarkan saya dari Bontang ke Balikpapan. Ayah saya memberi tambahan uang yang tidak ingin saya sebutkan nominalnya. Perjalanan 6 jam dari Bontang ke Balikpapan berlalu tak terasa. Saya sampai pada pukul 11.39 WITA di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Waktu masih tersisa banyak, sementara keberangkatan pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta masih pada pukul 16.20 WITA. Ketika membaca berita, ternyata di hari itu Jakarta sedang mengalami peristiwa pemboman di beberapa titik yang diduga didalangi oleh ISIS dan bermula dari pemboman di Gedung Sarinah di Jalan M.H. Thamin. Awalnya saya agak panik, namun kepanikan itu hilang ketika mengobrol dengan seorang bapak yang duduk di sebelah saya di ruang tunggu bandara ketika itu. Beliau ternyata adalah seorang perajin mebel yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Bicara tentang mebel, saya mengawali dengan menceritakan pengalaman saya menemukan mebel buatan Indonesia di Rusia pada Oktober lalu. Ternyata membuat kerajinan mebel tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Prosesnya berlangsung cepat, serta dilakukan langsung di lokasi tempat mebel tersebut ingin dipasang. Umumnya perajin mendatangkan kayu dari beberapa daerah di Indonesia, biasanya Surabaya dipilih jika ingin membuat mebel di Kalimantan. Lalu perajin akan datang ke tempat tersebut dan mengerjakan langsung di sana. Beliau sendiri sudah pernah bepergian ke banyak kota di Indonesia karena pekerjaannya sebagai perajin mebel. Waktu 2 jam tak terasa, kami pun check-in dan menuju ke gate pesawat kami masing-masing. Mbak-mbak yang memeriksa boarding pass saya hanya tertawa sambil bertanya “Jakarta ya mas?” Hal tersebut wajar mengingat berita yang saya baca tadi, haha.

Sesampainya di Jakarta, saya langsung menuju ke Depok. Tujuan ke Depok hari itu adalah mempersiapkan untuk keberangkatan ke Malaysia pada tanggal 17, karena memang belum ada persiapan apa-apa. Apalagi program tersebut akan berlangsung selama 3 minggu lamanya yang artinya saya perlu mempersiapkan banyak kebutuhan untuk itu. Keesokan harinya, Jumat tanggal 15 Januari 2016, adalah pertama kalinya saya bertemu dengan beberapa dari delegasi yang lain untuk mendengar briefing dari International Office UI. Kesan pertama yang saya rasakan sebelum berangkat adalah TAKUT! Kenapa? Saya takut tidak mampu bersosialisasi dengan teman-teman delegasi yang lain, juga dengan kehidupan di Malaysia nantinya. Padahal, ini kedua kalinya saya pergi ke luar negeri dan dengan tujuan yang mirip juga. Oh iya, untuk program ini, UI membiayai penuh mulai dari tiket pesawat PP Jakarta-Kuala Lumpur, biaya program yang sudah termasuk akomodasi dan makan selama mengikuti program.

17 Januari 2016, pagi-pagi sekali saya pergi bersama Yoga, salah seorang delegasi yang kebetulan rumah kosnya sangat dekat dengan saya di daerah Kukusan Teknik, menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng. Berdua, kami mendorong koper hingga ke gerbang pintu Kutek. Naik ojek hingga ke Stasiun UI. Kemudian disambung KRL hingga Stasiun Pasar Minggu. Dan berakhir dengan bus menuju ke Bandara dari Pasar Minggu. Di Bandara, kami turun di Terminal 2D untuk keberangkatan internasional. Masih segar dalam ingatan saya rasanya, 3 bulan yang lalu berangkat dari situ untuk menuju ke Hong-Kong yang disambung ke Vladivostok, Rusia. Dan kemudian, saya berdiri kembali untuk menuju ke Kuala Lumpur dengan tujuan belajar selama 3 minggu.

Di Terminal 2D itulah, pertama kalinya saya mengenal delegasi-delegasi yang lain. Ada 15 delegasi yang dikirim oleh UI untuk program pertukaran pelajar singkat ini. Yang pertama ada Fitri Purnama Sari (Fitri) dari Fasilkom UI 2012 yang merupakan ketua dari rombongan ini. Kemudian dari FISIP ada 3 orang, yaitu Alita Claudia (Alita), Anissa Dini (Anis), dan Neildeva Despendya Putri (Neil); ketiganya dari Departemen Ilmu Komunikasi. Dari Fakultas Teknik juga ada 3 orang, Amelia Anggraini Bakrie (Amel) dari Arsitektur Interior 2013, Rokhmatun Inayah (Inay) dari Teknik Lingkungan 2012, dan Zulfah Zikrina (Zulfah) dari Teknik Perkapalan 2013. Dari FEB, ada Suryaputra Wijaksana (Surya) dari Ilmu Ekonomi 2014 dan Irene Tamara (Irene) dari Akuntansi 2013. Dari FMIPA, ada Refina Muthia Sundari (Refina) dari Biologi 2013 dan Angga Dunia Saputra (Angga) dari Geografi 2012. Lalu yang tersisa ada Alfi Lailiyah (Alfi) dari FKM 2012, Khairunisa Damayanti (Ica) dari Psikologi 2013, Yoga Dwi Oktavianda (Yoga) dari Pendidikan Dokter 2013, dan saya sendiri. Ketika tulisan ini ditulis, Inay sedang berjuang di posisi 5 besar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik UI; Surya sedang bersiap bersama timnya untuk mengikuti EuroMUN di Den Haag, Belanda; Refina sedang menjadi Kepala Departmen Pendidikan dan Keilmuan BEM FMIPA UI 2016; dan Zulfah sedang bersiap bersama tim robotnya untuk mengikuti kompetisi di Virginia, USA (sukses buat kalian ya ^^). Menurut saya, keempatbelas dari mereka merupakan orang-orang yang menginspirasi dan punya kelebihan di bidang mereka masing-masing sehingga memang layak dijuluki UI Ambitious Community (kami menamai grup kami di Whatsapp dengan nama tersebut).

Untuk menceritakan kegiatan selama 3 minggu disana, tentu akan sangat panjang. Karena itu saya ingin merangkum kegiatan selama di Malaysia dengan melihat nilai-nilai positif yang saya dapatkan selama belajar disana.

Multiculturalism

Malaysia merupakan negara dengan penduduk multietnik. Menurut The World Factbook yang dikeluarkan oleh CIA, komposisi etnik di Malaysia terbagi menjadi 3 etnik utama, yaitu Melayu (57 %), Tionghoa (24 %), Tamil (7 %), sisanya diisi oleh masyarakat lain yang merupakan minoritas. Keberadaan masyarakat yang multietnik ini adalah suatu keniscayaan yang membuat Malaysia menjadi unik. Pasalnya orang-orang Melayu, Tionghoa, dan Tamil yang berada di Malaysia masih tetap mempraktikkan tradisi dan budaya dari leluhurnya. Jika kita perhatikan, ada perbedaan antara orang Tionghoa warga negara Indonesia dengan orang Tionghoa dari Malaysia. Pada umumnya, orang Tionghoa di Indonesia tidak bisa berbahasa Cina lagi, sedangkan masyarakat Tionghoa di Malaysia masih paham pada bahasa leluhurnya dan mempraktikkannya dalam keseharian mereka. Disini ada bagian dari budaya yang hilang pada masyarakat etnik Tionghoa di Indonesia. Namun jika dilihat dari perspektif lain, fenomena tersebut terjadi di Malaysia akibat adanya penyekatan antara beberapa etnik tersebut. Masing-masing kelompok etnik memiliki tempat hidupnya masing-masing yang terpisah satu sama lain.

Menurut seorang driver GrabCar yang pernah saya ajak bicara ketika di perjalanan dan juga beretnik Tionghoa, masih ada sekat yang besar dan perasaan sentimen yang besar antara etnik Melayu dan etnik lain di Malaysia, dimana etnik Melayu merasa memiliki tanah tersebut sementara etnik lain seperti Tionghoa dan Tamil dianggap pendatang. Berdasarkan penuturan beliau, Semenanjung Malaya pada mulanya merupakan tanah tak bertuan yang hanya dihuni oleh Suku Orang Asli yang masih memiliki cara hidup primitif. Kemudian datanglah imigran dari utara (Tionghoa), selatan (Melayu), dan barat (Tamil). Sehingga seharusnya setiap pendatang itu memiliki hak yang sama atas tanah tersebut. Hanya saja, hal ini hanya berupa penuturan dari seseorang dan menurut kaidah ilmiah belum dapat dipastikan sebagai data. Bukan bermaksud untuk menyinggung SARA, namun yang ingin saya tekankan disini adalah keberagaman masyarakat disini yang benar-benar menunjukkan multikulturalitas yang berbeda kasusnya dengan yang terjadi di Indonesia. Konon ceritanya, slogan pariwisata Malaysia Truly Asia juga berasal dari anggapan tersebut bahwa kelompok etnik yang ada di Malaysia (Melayu, Tionghoa, Tamil, dll) merepresentasikan kelompok-kelompok etnik yang ada di Asia.

Teamwork!

Kekeluargaan yang saya maksud disini adalah kekeluargaan antara kami para delegasi dari UI, para buddies dari UM, serta peserta lain dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selama kami berada di UM, ada beberapa orang buddies yang siap menemani kami serta tinggal di dekat kami. Para buddies tersebut yaitu Mutalib Nordin (Talib), Clerence Clement (Claire), Khairunnisa Abd Mumen (Yung), Nabila Zainal Arif (Bela), Nurfaraian Mahadzir (Raiyyan), Noor Asmimi Shahira Mohd Asri (Mimiey), dan Nur Asyiqin Bashir (Syiqin). Mereka semua adalah mahasiswa Ilmu Sejarah di UM, kecuali Yung yang belajar Studi Korea dan Bela yang belajar Ilmu Hubungan Internasional. (Lagi-lagi ~~ Ketika tulisan ini ditulis, Claire dan Yung sedang belajar dalam rangka pertukaran pelajar ke Korea, Talib dan Mimiey ke Jepang, dan Bela ke Indonesia; Semoga sukses semuanya ^^) Selain itu, dari UIN Bandung ada 20 orang lagi yaitu Ifa, Bustomi, Deris, Dini, Robby, Nadya, Niken, Onyong, Willy, Rafi, Revi, Rifki, Rio, Anti, Taufan, Vicky, Vidya, Zakki, Zimam, dan Tia. Sepertinya tak perlu saya ceritakan apa  yang bisa membentuk rasa memiliki diantara kami. Karena 21 hari menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam, hal tersebut membuat memori yang tak terlupakan.

Kerjasama tim yang saya rasakan, mungkin terangkum dalam 2 kegiatan. Yang pertama adalah presentasi. Selama program ini, ada 2 kali presentasi yang kami lakukan. Yaitu presentasi tentang universitas kami dan Indonesia, serta presentasi untuk me-review kegiatan kami selama di UM. Mulai dari pengumpulan materi hingga proses melakukan presentasi menurut saya adalah rangkaian kerjasama tim yang menarik. Yang kedua, adalah performance yang kami lakukan di hari terakhir program pada tanggal 6 Februari 2016. Di acara penutup ini; delegasi UI menampilkan 2 tarian yaitu Tari Saman yang dilakukan bersama oleh 15 orang; serta Tari Kembang Jatuh yang dilakukan berenam oleh Angga, Yoga, Ica, Irene, Zulfah, dan saya sendiri. Proses berlatih tersebut tak bisa dibilang mudah, karena tidak setiap malam kami bisa berkumpul untuk latihan. Bahkan ada kalanya ketika moody menerjang, membuat malas latihan, termasuk menimpa saya sendiri di salah satu sesi latihan. Tapi ketika menampilkan kedua tarian tersebut di acara penutupan, ada kebanggaan tersendiri walaupun dalam praktiknya masih ada beberapa gerakan tarian kami yang perlu dievaluasi.

Farewell ceremony

Organizing and Presenting Our Ideas!

Melakukan presentasi, saya rasa setiap orang bisa melakukannya. Tetapi melakukannya dengan baik dan menarik hingga membuat audiens terdiam memperhatikan penjelasan kita, sepertinya tidak semua orang bisa melakukannya. Presentator yang kurang ahli, biasanya melakukan presentasi dengan menggunakan media slide Powerpoint yang dipenuhi dengan banyak teks serta melakukan presentasi dengan membaca tulisan yang telah ia copy paste pada halaman slide tersebut. Kenyataannya adalah, slide Powerpoint hanyalah salah satu media yang dapat membantu kita untuk melakukan presentasi. Presentasi sendiri pada dasarnya dapat dilakukan tanpa menggunakan slide Powerpoint dan hanya dengan mulut kita. Karena sifatnya hanya membantu, otomatis hal-hal yang perlu ditampilkan di slide adalah poin-poin yang bisa menjelaskan garis besar dari hal yang akan kita presentasikan.

Selain memperbaiki media dalam melakukan presentasi, saya juga belajar tentang critical discourse analysis atau yang lebih sering disingkat dengan CDA. CDA merupakan penjabaran mendetail secara kritis tentang hal yang kita presentasikan. Pada dasarnya, presentasi yang kita lakukan itu bukanlah mengulang suatu pengetahuan atau definisi yang sudah ada, tapi kita melakukan studi mendalam terhadap suatu hal yang kita presentasikan tersebut. Ada suatu pembuktian melalui analisis secara kritis sehingga kita dapat meyakinkan para audiens terhadap hal yang kita presentasikan tersebut pada akhirnya. Untuk pengetahuan tentang presentasi ini, saya ingin secara khusus berterima kasih kepada Mr. Hilmi, salah seorang dosen UM yang dengan senang hati menjadi penanggung jawab dari program Summer Enrichment Programme ini.

Penulis sedang melakukan presentasi
Mr. Hilmi

Visiting Some Historical Places

Selama di Malaysia, ada beberapa tempat yang saya kunjungi yang menurut saya menarik. Tempat-tempat tersebut ada yang di Kuala Lumpur dan ada juga yang di luar Kuala Lumpur.

  • Muzium Negara Kuala Lumpur (National Museum)
IMG-20160119-WA0030
Berfoto di depan Muzium Negara Kuala Lumpur

National museum merupakan museum utama di Kuala Lumpur merupakan tempat yang sangat menyenangkan bagi saya yang menyukai peninggalan-peninggalan bersejarah. Bagi saya, ini adalah museum kedua yang saya kunjungi di luar negeri setelah FEFU Museum di Vladivostok. Museum ini berisi 4 segmen utama, yang terdiri dari Malaysia pada zaman prasejarah, Malaysia pada zaman kerajaan-kerajaan, Malaysia pada zaman kolonialisme, dan Malaysia modern. Setiap segmen dari museum tersebut memberikan getaran yang berbeda. Seperti misalnya, segmen Malaysia zaman prasejarah menunjukkan kemiripan dengan kehidupan prasejarah di Indonesia. Proses diferensiasi mulai terlihat pada zaman kerajaan-kerajaan dan zaman kolonial. Menurut saya, ini adalah salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Dilengkapi dengan dukungan audio visual, serta pencahayaan yang baik membuat museum ini tak terlihat seperti museum konvensional.

  • Putrajaya
IMG-20160123-WA0022.jpg
Story-telling session di sebuah Sekolah Kebangsaan di Putrajaya

Putrajaya merupakan ibukota pemerintahan dari Malaysia. Segala gedung kementerian serta rumah dari Perdana Menteri Malaysia bertempat di Putrajaya. Menurutku, konsep dari Putrajaya mirip dengan Den Haag di Belanda. Seperti yang kita tahu, ibukota negara Belanda adalah Amsterdam, namun ibukota pemerintahan dari Belanda adalah Den Haag. Segala kantor pemerintahan, organisasi-organisasi internasional yang bermarkas di Belanda, serta kedutaan besar negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Belanda berada di Den Haag. Begitu juga dengan Putrajaya yang memiliki fungsi serupa. Menurut saya, konsep dua ibukota ini bisa juga diterapkan di Indonesia. Jika pandangan untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta butuh waktu yang lama untuk implementasinya, maka kita bisa meniru Malaysia dan Belanda yang membuat dua jenis ibukota. Dengan begitu, masalah kepadatan penduduk dan kemacetan yang terjadi di Jakarta bisa dikurangi. Menurut saya, hal ini juga bisa meningkatkan produktivitas pejabat pemerintahan karena dengan ketiadaan macet, seharusnya tingkat stres dan keterlambatan bisa dikurangi. Hal lain yang saya lihat dari Putrajaya adalah keteraturan kota ini yang benar-benar bebas macet.

Ada sebuah cerita tentang Putrajaya. Konon, di dinding kamar saya sejak akhir tahun 2014 tertempel sebuah postcard Malaysia bergambar sebuah masjid di tengah danau. Postcard tersebut diberikan oleh Kak Icha, Kepala Biro Hubungan Antarbangsa SALAM UI 17, berhubung dulu SALAM pernah menjadi tempat magang organisasi saya.
260f6e99-e014-4618-9ed1-de3b516e0fa7

Foto di samping adalah ilustrasi pemandangan di dinding kamar saya ketika itu. Masjid tersebut adalah Masjid Putra yang juga merupakan masjid terbesar di Putrajaya dan berhadapan langsung dengan rumah dari Perdana Menteri Malaysia.

 

 

 

 

 

IMG-20160220-WA0000
Di depan Masjid Putra, Putrajaya

Foto yang kedua ini adalah ketika saya berfoto di depan Masjid Putra.

 

 

 

 

 

 

 

  • Malaka

Malaka merupakan salah satu kota tertua di Malaysia yang terkenal dengan peninggalan-peninggalan bersejarahnya. Dahulu di tempat inilah pusat kerajaan Malaka yang sempat berkuasa di semenanjung Malaya dan sebagian wilayah Sumatera. Sampai kemudian Portugis datang pada tahun 1511 dan menjadikan wilayah tersebut sebagai koloninya. Hal yang unik dari Malaka adalah, daerah ini pernah menjadi wilayah jajahan 3 negara Eropa yang berbeda: Portugis, Belanda, dan Inggris. Hal tersebut yang menjadikannya menarik untuk dikunjungi, karena ada beberapa peninggalan kebudayaan yang berbeda disana.

98ff3e1c-bfed-42d8-9804-a4fe3b2497a6.jpg
A Famosa, benteng yang dibangun oleh Alfonso d’Albuquerque pada 1512 setelah ia menaklukkan Malaka. Pada foto di atas adalah bangunan yang tersisa dari A Famosa setelah berabad-abad lamanya berdiri.
Kuburan Belanda di Malaka
8da6d027-91c7-4ca5-9df2-b52bfc85a1b7.jpg
Malacca Riverside, dahulu sungai ini merupakan salah satu jalur tersibuk di samudera Hindia.
94a74fee-575a-40d9-9e45-81da7112645f.jpg
Melihat sunset di Pantai Klebang, Malaka
  • Cameron Highlands

Cameron Highlands merupakan tempat yang bisa dibilang mirip dengan kawasan Puncak di Kabupaten Bogor atau Lembang di Kabupaten Bandung Barat. Dengan ketinggian beberapa ratus meter di atas permukaan laut, tempat ini memiliki suhu yang cukup dingin. Sepanjang yang saya perhatikan, di Cameron Highlands industri pengolahan perkebunan berkembang pesat. Pemasarannya pun cukup baik ke berbagai wilayah di Malaysia, tapi tentu saja membeli langsung di tempat produksinya lebih murah harganya.

Perkebunan di Cameron Highlands

3000 kata, kurasa tak cukup ungkapkan perjalanan selama 3 minggu ini. Terima kasih untuk semuanya! Спасибо болшоеь 🙂

Sumber foto: Koleksi pribadi, Grup Facebook Summer Enrichment Programme