Jogjaaaaa!

Seminggu pertama dari Bulan Februari 2017 ini kuhabiskan di Kota Gudeg Yogyakarta, atau yang lebih akrab disapa dengan Jogja. Jogja selalu menyimpan banyak cerita dari sejak pertama kali aku berkunjung ke sana di tahun 2004. Bisa dibilang aku selalu mengunjungi kota ini dengan berbagai alasan setahun sekali sejak aku lulus dari SMA. Berbicara tentang Jogja, ada banyak hal yang bisa diceritakan mulai dari keramahan para penghuninya hingga kekayaan budayanya dengan tempat-tempat bersejarahnya. Walaupun begitu, aku mencoba menghindari untuk memilih kuliah di Jogja karena tempat ini adalah zona nyaman yang luar biasa bagiku. Kali ini, aku ingin mencoba membahasnya dari segi yang sedikit pribadi melalui hal-hal yang memberiku kesan ‘nostalgia’.

  1. Kacamata

Kenapa aku harus membahasnya mulai dari kacamata? Beberapa hari sebelum aku sampai di Jogja tanggal 1, aku mengalami peristiwa tragis (sebenarnya nggak tragis-tragis banget sih) yang menyebabkan kacamata yang biasa aku pakai sejak tahun 2015 itu patah menjadi 2 bagian. Peristiwanya terjadi ketika jalan-jalan penutupan kepanitiaan Pemira IKM UI 2016 di wahana Ice Age Dufan. Gelapnya pemandangan di wahana tersebut membuatku tidak fokus dan menabrak dinding tak terlihat itu dengan begitu kerasnya. Kacamataku patah menjadi dua, dan ada sebuah bekas lecet di dekat mata sebelah kananku. Tragis bukan? (mencari simpati, wkwk)

Sebenarnya ada satu kacamata cadangan yang kumiliki, tapi ia hilang tak berbekas entah ke mana ketika aku pindah tempat tinggal ke asrama.

Mendengar penuturan ceritaku itu, Kak Rani, yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, kemudian memberiku sebuah kacamata dengan lensa minus satu yang sebenarnya nggak pas dengan mataku. Kacamata yang diberikan Kak Rani itu adalah sebuah kacamata dengan frame merah, dengan kesan feminin yang ditampakkannya. Namun, ternyata kacamata itu sangat cocok dengan wajahku. Entah kenapa, hampir semua kacamata cocok jika disandingkan dengan wajahku. Kata Kak Rani, aku bisa menggunakan frame dari kacamata pemberiannya untuk digunakan dengan lensa kacamata lamaku yang telah patah. FYI: kacamata yang diberikannya padaku itu adalah pemberian mantannya dulu.

Tapi dasar orang sibuk, aku benar-benar nggak punya waktu dari pagi sampai malam untuk pergi ke optik sekadar untuk membetulkan kacamataku, walaupun aku harus bertingkah seperti orang setengah buta dalam setiap kegiatanku. Dari luar, orang melihatku biasa saja karena aku memakai kacamata yang diberikan oleh Kak Rani sebelumnya. Namun, sebenarnya aku melihat seperti orang yang tidak memakai kacamata. Lalu aku jadi bertanya-tanya, “Seperti inikah yang dirasakan oleh temanku Hadhara saat Youth Adventure dari Jogja ke Jakarta atau temanku Andin saat FLS berlangsung?” Sungguh rasanya aku telah benar-benar bergantung pada kacamata ya, sejak aku pertama kali memakainya di tahun 2006.

Alhasil, begitu keretaku sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, hal yang pertama kali kulakukan adalah mencari toko optik yang masih buka sampai menjelang tengah malam. Berbekal bantuan Google Maps, aku menemukan Optik Tugu yang di hari itu masih buka sampai jam 10 malam, kebetulan letaknya juga dekat dengan Stasiun Tugu yang hendak kutuju setelahnya. Akhirnya aku segera menuju ke tempat itu sambil menggondol kacamata lamaku yang patah.

“Wah, ini nggak bisa kalo cuma ganti frame. Harus bikin kacamata baru mas.”

Pernyataan dari mbak-mbak di toko optik itu cukup membuatku bingung, karena bagiku ini adalah alamat mengeluarkan uang lebih untuk bulan ini.

“Kalau bikin baru harganya berapa mbak?”

“Di sini kami ada 2 pilihan mas. Kalau yang cuma lensa doang garansinya, itu 350 ribu. Kalau yang frame-nya juga garansi, itu 650 ribu mas.”

Berhubung keuanganku sedang cukup terbatas dan belum tentu ada waktu lain untuk bikin kacamata lagi, akhirnya kuputuskan untuk membeli kacamata yang harganya 350 ribu. Kalau berpikir mahal murahnya, anggap saja ini investasi. Kali ini aku memilih frame kacamata berwarna ungu. Mungkin ungu kesannya feminin, tapi memang pada dasarnya aku ini senang dengan hal-hal yang sifatnya feminin. Contohnya, kerapian kamar, warna favorit, lagu-lagu yang kudengarkan, ketidaksukaanku pada pekerjaan pertukangan, dan sampai saat ini kebanyakan dari wanita yang pernah mengisi hatiku pun punya kepribadian tomboi.

img_20170211_210234
Kacamata baruku!

Oleh-oleh pertamaku dari Jogja, kacamata baru!

  1. Garda dan Bayu

Bayu Rakhmatullah, mahasiswa Fisika ITB angkatan 2013 yang sedang pusing karena TA, adalah orang yang sukses mengompori diriku untuk pergi ke Jogja dengan kemampuan persuasifnya yang mengagumkan. Padahal pada awalnya, aku sempat ragu untuk pergi ke Jogja karena ada beberapa orang yang jarang ketemu, yang aku sudah punya janji untuk ketemuan di wisuda semester gasal UI yang jatuh tanggal 4 Februari 2017. Tapi setelah menimbang-nimbang, karena aku juga ada Musyawarah Nasional (Munas) Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia (KORBI) di Kaliurang, Yogyakarta dari tanggal 3-4 Februari, akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke Jogja dan membatalkan janji yang lebih awal.

Sedikit prolog tentang Bayu, dia sangat sering melontarkan kata-kata “zonk” dan “t*i kucing” ketika menemui sesuatu yang tidak dia sukai. Seperti halnya ketika kami menemui Pantai Baron yang ternyata sedang keruh airnya karena musim hujan. Penampilannya sangat jauh dari anak ITB yang kesannya kaku. Terlepas dari itu semua, Bayu adalah orang yang benar-benar memikirkan orang lain sampai mungkin kita akan merasa kalau dia begitu berlebihan. Seperti usai kunjungan kami ke Sarkem, Bayu tampak begitu paranoid untuk memastikan Garda tidak mampir lagi ke sana. Yang kusuka dari Bayu adalah, ia selalu menjadi dirinya sendiri di mana pun dia berada. Sangat jarang aku melihat orang yang topengnya tetap sama di mana pun ia berada. Ia akan tetap mengatakan “zonk” dan “t*i kucing” sambil tertawa kencang dengan siapa pun ia berbicara.

Sedangkan Garda adalah tuan rumah yang rela menampung Bayu dan diriku di rumahnya yang sederhana di Bantul. Pertama kali melihat Garda, mungkin kamu akan berpikir kalau dia orangnya kaku dan kurang bisa diajak ngobrol. Tapi percayalah, semakin kamu mengenal Garda, kamu akan melihat sosok seseorang yang peka terhadap kebutuhan orang lain dan punya cara yang tidak biasa dalam mengekspresikan niat baiknya untuk membantu orang lain. Seperti misalnya ketika kami sedang di perjalanan mengendarai motor melewati jalan desa di sore hari, Garda berhenti sesaat sambil berbicara dengan seorang bapak tua yang sedang memanggul sebuah kayu besar di pundaknya. Tadinya aku dan Bayu mengira kalau ia sedang menanyakan arah jalan. Sesaat kemudian, bapak tua tersebut sudah ada dalam boncengannya. Rupanya ia menawarkan untuk mengantarkan bapak tua itu sampai depan rumahnya!

Bersama kedua orang ini, aku mengunjungi beberapa tempat terkenal di Jogja dan sekitarnya seperti Malioboro, Benteng Vredeburg, Bukit Rhema yang muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta, Pantai Indrayanti, dan SARKEM! Aku yakin kalian semua tahu atau minimal pernah mendengar sesuatu tentang Sarkem atau Pasar Kembang. Ia adalah sebuah tempat lokalisasi legal yang letaknya tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Malam itu kami bertiga menguji keberanian kami berjalan memasuki gang Pasar Kembang.

Begitu masuk, kami diminta uang ‘keamanan’ 5 ribu rupiah per orang. Kala itu masih jam 8 malam, tetapi para kupu-kupu malam sudah menunggui kami di pelataran depan rumahnya masing-masing sambil menyapa kami ramah. Di dalamnya, ternyata gang tersebut cukup luas, ada banyak tempat karaoke dan kafe juga. Yang membuatku terkesan, ternyata masih ada musala dan sebuah taman kanak-kanak yang berdiri di gang tersebut. Hasil observasi kami malam itu, selalu ada sisi baik dan buruk dari sesuatu yang membuat kita tak bisa begitu saja menghakiminya sebagai baik atau buruk. Cerita yang lebih mendetail dari ini sepertinya kurang layak untuk dipublikasikan karena sumbernya masih kurang lengkap dan tidak diperbolehkan untuk memotret secara langsung kondisi dalam gang tersebut.

img_20170205_122321
Kiri: Bayu, Kanan: Garda. Di Foodpark UGM.

Bayu dan Garda kini sama-sama sedang berjuang untuk menuntaskan pendidikan sarjana mereka. Mari kita doakan mereka segera lulus dan diwisuda tahun ini. Amin.

  1. Musyawarah Nasional KORBI

Acara ini yang bisa dibilang menjadi agenda utamaku di Jogja awal Februari ini. Sejujurnya aku baru beberapa bulan bergabung dengan KORBI atau Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia ini sehingga belum terlalu mengenal baik secara keorganisasian maupun orang-orangnya. Namun, aku mendapat kesan yang baik dari berinteraksi dengan para pengurus KORBI dari berbagai regional. Saat ini, KORBI memiliki chapter di Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Jogja yang saat itu menjadi tuan rumah. Sebenarnya ada beberapa chapter lain yang saat ini sedang non aktif seperti Pekanbaru, Bandung, dan Surabaya. Namun, ada kendala-kendala yang biasa dialami oleh organisasi yang baru berdiri seperti jarak dan komitmen yang masih berbeda-beda dari pengurusnya.

14677432_590028677858985_6980584653694435328_n
KORBI Depok di Munas KORBI. Dari kiri ke kanan: Kak Hasan, Kak Arga, Kak Aldi, remah-remah sari roti, Kak Tri, Kak Musfiq, Kak Hasima, Kak Sri.

Memulai sesuatu itu adalah hal yang sulit, lebih sulit dari mempertahankan. Dan kurasa itulah yang sedang dialami oleh KORBI. Seperti halnya masalah-masalah yang dibahas saat Munas yang lebih berkutat ke hal-hal yang sifatnya fundamental seperti mematangkan lagi AD/ART dan platform dari program-program KORBI. Kuharap seterusnya KORBI bisa lebih baik lagi dalam menunjang Anak Baik Indonesia dan menjangkau tempat-tempat yang belum terjangkau saat ini dan bisa berbagi lebih banyak kebermanfaatan.

  1. Andin

Nama panggilannya Andin, lengkapnya Raden Roro Erika Purwa Andini. Bertemu dengan Andin adalah salah satu tujuan utamaku datang ke Jogja. Apa yang membuatku harus repot-repot menemuinya dalam kunjungan singkatku? Aku juga masih mencari jawabannya, karena aku merasa kalau harus bertemu dengannya walaupun hanya sebentar. Ketika pertama kali bertemu dengan Andin di FLS awal Oktober lalu, aku merasakan semangatnya untuk belajar bahasa asing. Ia tampak berbeda dari kebanyakan mahasiswa yang biasa kutemui di FIB UI. Passionate. Mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya dengan satu kata. Kembali ke pertanyaan di atas, aku juga masih bingung dengan jawabannya. Entah, mungkin aku mencari sosok diriku pada dirinya? Atau mungkin aku mencoba mencari orang yang satu frame, sepemikiran denganku pada sosok Andin? Coba tanyakan saja pada rumput bergoyang. Hahaha.

freshpaint-7-2017-02-11-09-44-14
Penggambaranku mengenai Andin, berhubung aku tak punya fotonya! Haha.

Ketika kami bertemu di tanggal 5, dia baru saja sampai di Jogja sehari sebelumnya. Kulihat dia terbatuk beberapa kali dan wajahnya tampak kuyu kelelahan dari perjalanan jauh. Mungkin waktu itu bukan waktu yang terbaik untuk bertemu dengannya. Ditambah lagi aku yang telat datang dari waktu yang sudah dijanjikan sebelumnya. Namun, ia masih menyempatkan untuk menemaniku berkeliling Sunmor (Sunday Morning, sebutan untuk pasar kaget hari Minggu pagi di sekitar kampus UGM dan UNY) hingga akhirnya kami mengobrol di sebuah bangku di kampus FIB UGM. Kami mengobrol tentang banyak hal, dari seputar kegiatan perkuliahan kami hingga pandangan-pandangan kami mengenai kehidupan.

Mungkin Andin adalah sosok sahabat yang kuharapkan, yang tak bisa kutemukan di Depok. Seorang sahabat yang dengannya kau bisa menghabiskan berjam-jam mengobrol tentang banyak hal yang random sesuai suasana hati kami saat itu. 3 jam waktu yang kami habiskan di hari itu terasa seperti berabad-abad (lebay). Intinya aku merasa butuh seorang sahabat seperti Andin, seorang sahabat yang punya mimpi sama, umurnya berdekatan, jurusan kuliahnya mirip, hobinya hampir sama. Andin juga suka menulis, dan sepertinya lebih ahli daripada diriku dalam hal ini. Tulisan-tulisan Andin bisa dilihat di http://erikaseprijadi.wordpress.com atau http://miarachan.blogspot.com (ngiklan dikit). Ia juga suka membacakan puisi yang dibuatnya sendiri melalui akun Soundcloud-nya (silakan dicari sendiri).

  1. Waroeng SS

Brace Yourself, ini adalah cerita tentang Waroeng SS atau biasa juga dikenal dengan Waroeng Spesial Sambal.

Aku ingin membuat satu bagian khusus mengenai tempat makan favoritku ini. Bagi mahasiswa UI, Waroeng SS di Jalan Margonda Raya Depok adalah sebuah tempat sakral tempat ngumpul bareng teman organisasi atau sekadar makan-makan biasa. Tempatnya pun selalu penuh di berbagai jam, tidak terkecuali saat Bulan Ramadhan. Yang spesial dari Waroeng SS adalah penggabungan konsep kearifan lokal menggunakan sambel khas Indonesia dengan konsep restoran yang kekinian dan disukai oleh anak muda.

Dalam perjalananku ke Jogja ini pun aku sempat mengunjungi cabang Waroeng SS yang letaknya dekat dengan kampus UGM. Konon ceritanya, Waroeng SS pada awalnya berdiri di Jalan Kaliurang dekat dengan kampus UGM sebelum pada akhirnya memiliki banyak cabang di mana-mana di seantero Pulau Jawa. Yang menjadi concern-ku adalah kesamaan dari rumah makan ini di cabang mana pun. Baik dari segi kesan yang ditimbulkan, rasa makanannya, penampilan tempatnya, dan pelayanannya.

14733495_661409667350935_8659318105039699968_n
Reunian UI Ambitchious Club di Waroeng SS Margonda Depok bulan Mei 2016 (foto ini agak nggak nyambung sebenarnya).

6. The Happiness Project

Aku selalu mengusahakan untuk selalu membawa satu buku bacaan ketika bepergian, terutama ketika bepergian jauh. Karena ternyata hal ini merupakan solusi yang sangat ampuh untuk mengusir kebosanan. Terutama ketika harus duduk diam selama hampir 9 jam di dalam kereta dengan jarak 546 kilometer antara Jakarta-Jogja. Mengobrol dengan orang sekompartemen 10-20 menit mungkin bisa, tapi kita akan bosan ketika semua orang di kereta sudah mulai tertidur. Tidur di kereta bagiku cukup membuang waktu, kecuali memang ketika kita sedang sangat lelah. Karena itu, aku lebih memilih untuk membaca buku.

img_20170211_211929
The Happiness Project karya Gretchen Rubin.

The Happiness Project karya Gretchen Rubin adalah buku yang kuputuskan untuk menemani perjalananku kali ini. Sebenarnya aku sudah membaca 2 bab pertamanya sebelum berangkat, tapi aku menghabiskan sebagian besar dari buku ini hingga bagian akhirnya dalam perjalanan dan di Jogja sendiri. Satu fakta yang kutemukan, kita akan lebih mudah untuk mengingat kesan yang kita alami di suatu tempat dan di suatu waktu ketika kita memiliki sesuatu untuk dikaitkan. Dalam hal ini, bagiku adalah buku The Happiness Project. Ketika mencoba membaca ulang buku tersebut, akan mudah bagiku untuk mengingat-ingat kembali memori dari kejadian yang terjadi di sekitarku selama rentang aku membaca buku itu. Aku menyebutnya teknik asosiasi, karena kita mencoba mengaitkan antara satu hal dengan hal yang lain.

Sedikit menambahkan, buku The Happiness Project sendiri adalah buku yang sempat menjadi best seller di Amerika Serikat pada akhir dekade lalu. Buku ini menceritakan tentang percobaan Gretchen untuk menjadikan hidupnya lebih bahagia dengan mencoba hal-hal yang berbeda tiap bulannya dari Bulan Januari hingga Desember. Dan hasilnya adalah Gretchen menjadi orang yang lebih bahagia yang bisa mengendalikan diri dengan baik dan membawa aura positif ke lingkungannya.

Kesimpulan

Sebenarnya ini bukan paragraf yang akan menyimpulkan tentang perjalanan di atas. Yang ingin kusampaikan hanya lah agar para pembaca sekalian bisa mengamalkan konsep living life to the fullest. Karena terlalu banyak orang yang hidup dengan membawa-bawa pemikiran tentang masa lalu atau pun masa depan yang belum pasti sehingga lupa menjalani hidupnya di waktu sekarang. “Orang yang berbahagia bukanlah orang yang memiliki segalanya. Mereka hanya melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tetapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”

Advertisements

Two Moons to Describe Someone 

​I often think that humans are enjoying the judgments of others about themselves. They enjoy being appreciated for what they have done and their good personalities. But it also occurred that humans have fear of judgments by others whenever their bad side are being exposed. 

Whenever humans in this state of “fear of judgments”, they will try their best to evade the consequences by acting according to what society think is the best. As they are trying to fit, it will create some kind of alter ego and develop other fake personalities which often trigger humans to feel like they are not being themselves. 

That is why I think that there is a possibility that people who we know (or when we think personally that they know us), are not acting with their original scripts. They are trying to find the script within other people around them. They will become original men who try to comfort others, but actually hurt inside. 

It is hard, but it will not be hurt to try it. 

Sharon Creech once said, “Don’t judge a man before you walk two moons using his moccasins.” The term “moccasins” could be interpreted as an idiom to explain about seeing from the perspective. You have to become that person and gain knowledge about sales-marketing for about 2 months. 

So let’s drop the subject now by trying to focus! 

People’s Needs to be Appreciated 

One of the wonderful lessons which I have learned through meeting with new people in my life is about humans need to be appreciated by others. It never occurred to me that I begin to think about how slightly important it is to be appreciated by others. Both of appreciation and acknowledgement are two basic human needs. Humans need to be appreciated for who they are is an important matter which contribute to their desire to continuously improve their qualities of life.

To be surrounded by people who acknowledge us for the way we are is not an easy task. It requires effort to make the circle of those people. The question is how do we find it? We can find it by expanding our networks through various events. Networking events or traveling could contribute to this. We should try to find other people who share similar values to us. It is not necessary to have all of our values blend together, but we have to make sure that most of our values are there within these people.

The first case which I found was in a peer group while you are studying at the class. It often occurs to us that we have a gang or two as a student either at school or in university life. These peers are people who understand the most notable things about us, the one who give us rooms to become ourselves. Some people are failed to get the most of them because they chose the wrong peers. They thought that they have a good peer while actually the peer is the one who destroy them.

The second case is the dangerous one. Some people who seek to acknowledgements sometimes do not care about what they do either it is bad or good. The results of this matters are various cases which we witnessed in newspapers and social media sites. I am pretty sure that some evil doers do not actually do bad things because they are evil. Some people are in the case to fulfill their economic situations, some others seek for acknowledgement or we could simply call it popularity. It is not hard to find people like this. They are all around us and we need to try to appreciate them for what they are, not by what society demands. Sometimes it is the norm pressure in society which prevented this kind of people to achieve good results in life.

I am not trying to blame the norms. The norms are there to guide us on becoming a better society. But trying to press the norms to some people who can make a greater contribution by adapted to a different norms is not a good thing to do. We should give people rooms to become themselves. People are looking for some ways to be appreciated and we could not change the fact.

A Late Night Chat in Omegle 

You’re now chatting with a random stranger. Say hi!

You both like anime.

Stranger: Hello

You: Hi!

Stranger: How are you?

You: Not so well, not so bad either…

You: How about you?

Stranger: I can relate.

Stranger: Got any big plans going on this week/month/year?

You: Doing some essay competitions, even if my chance of winning is few

You: Do you have some big plans ongoing?

Stranger: Ooo, I wish you luck sir/madam. I’m sure you’ll do great.

You: But procrastinating is a part of my daily life, like what you witnessed here when you chat with me

Stranger: Absolutely nothing I’m invited to. But that doesn’t mean I wont crash the wedding I wasn’t invited to! But shh, I’m dressing up as a ninja.

Stranger: Oh, so the delay was on purpose, subtle!

Stranger: But hey, at least you replied. Half the time I get no feedback, or just some sex hungry dude.

You: I could imagine, like what Ranchoddas and his two friends doing. Sneak into a wedding party and get free snacks from there lol

You: Well, it’s not really on purpose. But just without I realized it.

Stranger: Maybe, but this is one I should have been invited to. Sadly it’ll be the second one I’m not invited to.

You: Why don’t they invite you? Did they have some grudge on you based on a problem or two?

Stranger: Nah, one said family only, I can respect that, also probably couldnt go anyways so no big deal. This one, no clue, maybe they just havent yet.

You: Only for family, eh. Is it some kind of tradition or norm in your place?

Stranger: No, just what they wanted. keep it close.

You: I see. It’s pretty sad not being able to attend it when you want to.

Stranger: It varies based on the way someone grows up here, and the money, and just generally who they wanna invite. Some dont invite family, some get eloped etc.

Stranger: Yeah, but it would have just been the thought of an invite that counted for me, even if i couldnt make it.

You: It’s pretty complicated. In my opinion, one should invite all of their families and friends if they could afford it.

Stranger: of course, but weddings are for the bride and groom, should they not want people there, thats their choice, they would have known i couldnt go so she coulda said you would be invited if you could come

You: I think I get the point now

Stranger: So, where do you live?

You: I live in Indonesia

You: How about you?

Stranger: Ah! First I’ve met from there. the USA.

You: Ah, the USA

You: It’s pretty far from here

Stranger: Quite far!

Stranger: What’s your name and how old are you?

You: My name is Bagus and I’m 20, but I’ll turn 21 this July

You: And what’s your name sir/madam?

Stranger: Happy early birthday! Mine’s Sebastien and I turn 23 next month.

You: Happy early birthday too, haha

Stranger: Ty

You: You’re welcome

You: Where do you live in the US?

Stranger: Louisiana

You: Lousiana, I recalled that city is in Johnny B. Goode lyrics by Chuck Berry

You: But I don’t know where it is exactly in America

Stranger: It’s a state actually. It’s the part that has a boot shape jutting into the gulf of mexico

You: So it’s located in the south, eh

Stranger: Yes

You: I’d like to ask your opinion

Stranger: Sure

You: What do you think about Donald Trump? Does he qualified as a president from your perspective?

Stranger: He honestly shouldn’t even be alive. He’s a racist, sexist, rapist, he thinks money can fix everything because it fixed his mistakes and he absolutely is an A-Class idiot. Hillary is better than him but has her own issues. Bernie Sanders swould be way better.

You: I think so too, it’s like he pulled some strings to begin WWIII. Even prohibited Moslems to go to the US. I think that it’s going too far 😦

Stranger: Everything out of his mouth is him going too far.

You: Under today circumstances, do you think that he’ll win the trophy?

Stranger: Honestly, he got this far in, it makes me worry america is occupied by idiots who don’t deserve the gift of life.

You: It’s like the media keep pushing him up

You: I’m afraid that too

Stranger: I think I’ll be moving to canada if he wins. Hopefully he thinks all white/orange (cough fake tan cough) people live in canada and wont nuke it

You: Is it that easy to immigrate from the US to Canada?

Stranger: I was born in canada, so hopefully I’ll just be let in lol.

Stranger: But generally easier to do that then any other country.

You: Haha, I see

Stranger: I had fun chatting with you, viva la revolution if trump wins, gunna go look for more interesting chats! You have a good one Bagus.

Stranger has disconnected.

The Problem of Development 

We tend to judge part of the society who lives in a lower standard than us as incapable to gain better lives. Then we offer them some helpful advices and resources which going to benefit them in our way of thinking. We don’t even bother to ask whether they enjoy being themselves or it is just our prejudices to judge them for living in a lower standard. Will our help strengthen them or just make their lives become harder? Modernization brings up a new advantage as well as more disadvantages for the society.

To be able to define whether something is good for the society or not is not an easy task. That is why we need to carefully examine what society really needs. We can’t press our knowledge which can differ from the reality to the society.

Firstly we have to come up with the same framework with the one who we are willing to help. By trying to keep the empathy on them, we can dig up some basic information on our targeted people. As we are not judging, they will give some input to our insights. This will benefit both sides of the project, between the doer and the target audience.

As it has finished, we need to define what really best for them. Sometimes the best thing to do is to just keep the status quo, but it is not uncommon for the input to become a useful resource for our project to be done. We can contribute to the maximum potential of ourselves, because we can concentrate on the part which was defined before by both parties, not just one sided.

By doing the project accordingly with an intent to know what we can provide, not what we thought we can provide, we could strike to the point where the society lacks the most. It could strengthen the environment, the world and also the people.

Hai Februari! 

Ketika terbangun melihat kalender di layar handphone pagi ini, kulihat angka 31 sudah berganti menjadi angka satu, begitu juga dengan Januari yang telah berganti menjadi Februari. 32 hari telah kulalui di tahun 2017 ini. Februari menjadi sebuah bulan penentu keberhasilan di tahun ini. Karena setelah beristirahat selama sebulan setengah, akhirnya badai akademik akan kembali menerjang dan berbagai tanggung jawab lain akan datang menghampiri. 

Melihat sebulan ke belakang, aku jadi ingin sedikit melakukan evaluasi terhadap kegiatan di keseharianku. Di Bulan Januari, aku telah melakukan perjalanan ke tempat baru, yaitu Banten Lama yang merupakan situs sejarah peninggalan peradaban dari Kesultanan Banten yang dahulu sempat besar di abad ke-15. Dengan melakukan perjalanan ke tempat baru, aku telah belajar untuk menjadi independen dan mengambil keputusan dalam situasi yang belum familier. 

Selain itu, aku telah mengunjungi Bontang, kampung halamanku selama beberapa hari. Walaupun sebagian besar waktuku di rumah dihabiskan untuk tidur dan menonton film-film picisan, aku belajar untuk menguatkan komitmen. Ya, 7 Januari lalu adalah hari dimulainya 30 Days Writing Challenge yang menuntut komitmenku untuk bagaimanapun caranya menghasilkan tulisan,  apapun topiknya, selama 30 hari berturut-turut.

Januari juga bulan ketika aku mencoba menuliskan resolusi-resolusi yang ingin aku capai ke depannya. Jika Gretchen Rubin memulai The Happiness Project di Bulan Januari, maka aku memulai Januari dengan mencoba menjadi bahagia dengan caraku sendiri, yaitu memperkuat kecerdasan emosionalku (emotional intelligence). Sehingga orang-orang di sekitarku juga ikut tertular virus-virus kebahagiaan, mulai dari hal kecil sesimpel memberi mereka perhatian untuk hal-hal yang mungkin bagi kita bukan apa-apa, tapi begitu bermakna untuk mereka. 

Lalu bagaimana dengan Februari? Jika Januari adalah tahap memulai, maka Februari adalah bulan dengan sejuta kesempatan. Ia akan menjadi suatu katalis yang membawa kita untuk memenuhi apa yang jadi keinginan kita di Bulan Januari. Asalkan kita bisa menjaga reaksinya terus menerus dengan mengisi bahan-bahannya yang ada di pemikiran kita. 

Time Waits for No One

“Time Waits for No One.”

I first read those wonderful phrases while I watch Toki wo Kakeru Shoujo, an anime movie about a girl called Yoshiyama who can leap through time. She kept repeating her day over and over. When she was too lazy to get out of her bad, she will stay asleep and then re-run her day so she was at full strength that day. But when she repeated her days over and over, she realized that her time was limited even though she could repeat it many times. Also, she felt like she lives in an unfamiliar world which is different from her usual living place. She realized that it does not necessarily feel like living when you live apart from other people.

 

12-days-of-anime-2012-11-large-time-waits-for-no-one
Time waits for no one…

 

So I came into a thesis that no matter how we want to spend our time wisely, we need to give full attention to people in our lives. There is a saying that most people are either living in their past or looking too far away into the future so that they live in neither the past, the present, or the future. They just spend their time countlessly thinking about what they could do next or other things which could lead to being productive. But I want to differentiate between being productive with living in other worlds.

Humans tend to need some extra times in order to be focused on their obligated tasks. Sometimes they even forget their surroundings and immersed totally within their own world. We often mislead this as being productive. I agree that being productive is something that really matters for us humans. We have so many tasks to do, some are an obligation, some others not. But we should invest our time in order to become productive by managing our time wisely. So we could define a space of time when we could manage to get things done right away and effectively. I know that this is not an easy task to do, and that is why it is important to do some research in order to find our right biological time when our brains are crystal clear enough to tackle our problems.

Finding the right biological time involves various self-development process. We have been granted 24 hours a week and 7 days a week from God. And among those precious time, we must have been encountered some random occasions when we could get things done without many hard works to do and only with few efforts. The answer lies when we have tried to finish our tasks at different times of the day. Be it at night, in the morning, at noon, etc. That precious length of time should be used wisely by us. If possible, we could invest that time to get our things done. Therefore, we do not need to avoid people in order to finish our remaining tasks which often become an excuse to not meeting people.

 

Kaki Siapa? 

Siapa yang memiliki empat kaki di pagi hari? 

Empat kaki yang menunjukkan betapa lemahnya ia 

Empat kaki yang membuatnya harus menundukkan kepalanya lebih dari biasanya 

Siapa yang memiliki dua kaki di siang hari? 

Dua kaki yang membuatnya leluasa melangkah 

Dua kaki yang membawanya ke ujung dunia 

Siapa yang memiliki tiga kaki di senja hari? 

Kaki yang membuatnya termenung seharian menatap matahari terbit hingga terbenam 

Kaki yang lelah hingga melangkah selangkah dua langkah pun ia tak sanggup 

Siapakah dia? 

Kurasa Sang Sphinx di tengah gurun pasir lebih tahu jawabannya 

Taking Things For Granted (II) 

Today I would like to tell another story with the same topic as yesterday. We will still discuss taking things for granted. This topic has enchanted my mind to rethink about how we should be grateful for every single thing that God provided us. Even for things that we did not realize up until now.

“If you thank Me, I will surely increase you.”

[Ibrahim, 14:7]

Today I have just done a job of accompanying some senior year high school students who were brought to Universitas Indonesia (UI) by FORKOMA UI BANTEN, a youth-led organization consists of UI students from Banten. Those high school students were granted prizes to visit UI by FORKOMA because they made remarkable essays if I am not mistaken.

The event for today was field tour to some faculties and schools of UI. I was responsible for taking some students who the main committee has assigned us to wander around my faculty, the Faculty of Humanities (In Bahasa: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya or FIB), along with Debby, Tomi, and Laras who are FIB students as well.

We tried our best to explain about advantages and disadvantages of studying at UI and FIB, respectively. They were given information about majors that UI offers and the culture of diversity in UI. Some of them were truly interested and even asked some questions about the daily life of UI students and other interesting questions which you can expect from high school students.

As I watched them and tried to answer their questions, I began to realize that I have been in their position in the past. For your information, Universitas Indonesia along with Bandung Institute of Technology (ITB) and Universitas Gadjah Mada (UGM) are the top three universities in Indonesia which high school students all over Indonesia aim every year. It was also a dream of mine to be able to study at one of those three institutions, and here where I am now, an undergraduate student at Universitas Indonesia.

Today I am feeling that it is pretty normal for me to be a student at UI because it feels like a normal circumstance for about 2.5 years since I became a student there. As time flies, I began to forget how grateful I was to become a student at UI. Sometimes I even skip classes for insignificant reasons just to please myself for a while.

What if I meet the 17-year-old version of myself now? Will he blame me for taking this gift for granted? I am not sure about the answer yet. But now, I will just try to be grateful for what I am, for this gift that I often forget about its existence.

Taking Things for Granted

Yesterday an enormous problem came into my life. I was going to an amusement park in Ancol, North Jakarta with some friends. The incident happened in a flash while we were walking in a dark area of a ride. My head suddenly stroke unseen wall. I went dizzy for several seconds and realized that my glasses were gone from my head. It was just a few seconds later that I found out that my glasses were broke into two pieces so I could not wear it just like the usual.

Without my glasses, I am nothing. Even the most magnificent view, is nothing before my worn out eyes. I just realized that I used to take my glasses for granted. As I wore them every day, I began to forget how wonderful it was to be able to see clearly with those glasses.

It is natural for humans to take things for granted for almost every single thing that we experienced in our lives. Just like what happens with our parents love for us. At first, it was normal for us to be thankful for toys and clothes that our parents bought to us during our childhood. But soon enough, we will start thinking that it is normal for parents to do such a thing for their children. We will begin developing such a mindset of take things for granted.

Now we need to examine how we could tackle this problem well. Imagine that your precious best friend always teaches you math after school. You thought it pretty normal for your best friend to teach her friend. That is not wrong, but try to consider that your best friend has sacrificed some hours of her precious day which she could use for other activities such as running errands for her mother or visiting her grandpa’s grave.

What we have to do is to appreciate every single thing of life that life itself or other people have granted for us. We need to know that not almost everything became like the way it is because of how it was supposed to. When we are grateful for everything, we will not be devastated when those things are taken from us.