Tentang Diriku yang Sebentar Lagi Pergi 

Hidup itu sebuah anugerah, karena ada begitu banyak hal yang patut disyukuri. Kicau burung di pagi hari, hangatnya matahari di siang hari, sepotong senja di kala terbenamnya hari, hingga sapuan gelapnya malam. 

Karenanya air mataku sering kali meleleh mengingat bahwa bumi yang fana ini hanya sebentar kali kusinggahi. Beribu-ribu kali kualamatkan pada Yang Maha Mencipta bahwa aku ingin hidup seribu tahun lagi. 

Ingin kuucap salam selamat tinggal pada ribuan kilometer jauhnya alam terbentang, alam yang hingga kini masih belum kujejak dengan dua telapak kakiku. Begitu pula dengan bangunan-bangunan tua dan orang-orang asing yang belum kuajak bicara. 

Menampik luka lama yang kutorehkan pada umat manusia, aku hanya ingin meminta maaf pada sang setan yang kerap kali menyertaiku. Karena dia tak bisa berlama-lama lagi menyesatkanku pada jalan yang ia tempuh sejak jaman dahulu kala. 

Kukirimkan sebuah doa, doa pada orang-orang yang selalu menertawakanku dan perlahan membunuhku dengan kata-kata mereka, dengan diamnya mereka. 

Aku hanya lah bocah rapuh, bocah yang sempat diikat oleh tali-tali penuh siksa dan darah oleh induk semangnya. Bocah yang tak pernah mendengar sepatah kata mutiara pun dari mulut sang pemberi uang. 

Aku hanya lah bocah rapuh, bocah yang oleh teman selalu dianggap paling kuat. Bocah yang sebenarnya berdiri dengan dua kakinya sendiri pun tak mampu, karena ia masih butuh sebuah tongkat sandaran yang walaupun rapuh tetap dipegangnya. 

Siapa yang mengetahui, maka ia lah yang berhak untuk memutuskan.

Untukmu yang membaca, carilah aku, carilah aku hingga ke ujung dunia. Karena aku, tak kan pernah kau temukan lagi. Karena aku, hanya singgah di dunia yang fana ini. Karena aku, tak kan tertulis di buku sejarah mana pun. Karena aku, yang akan selalu sendirian hingga akhir waktu ini cukup mengerti. 

Kurang Piknik

“Terkadang aku bingung dengan orang yang kurang menikmati hidupnya,

Orang-orang yang harinya habis untuk merengut dan meratapi nasib,

Usia manusia yang tak lebih dari 100 tahun terlalu singkat untuk hal tersebut,

Lebih baik menikmati bunga soka di sekeliling daripada mencoba meraih mawar yang tak terjangkau”

#30DaysWritingChallenge #27

The Art of Doing Nothing – Part 2

Tidak ngapa-ngapain, atau bahasa kerennya gabut, kependekan dari gaji buta. Hal ini sering dinilai buruk di masyarakat, karena tidak melakukan apa-apa berarti tidak membuat suatu perubahan apapun. Rasanya aneh ketika membayangkan orang-orang super produktif di dunia sering melakukan “tidak ngapa-ngapain” dalam hidupnya, tapi begitulah kenyataannya. Kita perlu sesekali “tidak ngapa-ngapain” sebelum menemukan momentum kesuksesan. Yaitu bersabar dan menunggu hasil yang akan kita raih setelah berusaha.

#30DaysWritingChallenge #23

The Art of Doing Nothing

Terlalu banyak aktivitas dalam keseharian sampai kita lupa untuk berbicara dengan diri kita sendiri

Cobalah untuk menutup mata sejenak, dengarkan detak jantung, dan tangkaplah apa yang ingin dikatakan oleh tubuh kita pada pikiran kita

Sudahkah hari ini kita mengucapkan,”Hai diriku, bagaimana kabarnya? Baik baik kah dirimu hari ini?”

Terdengar sederhana, namun diri kita juga lah suatu makhluk yang perlu disapa dan didengar

#30DaysWritingChallenge #22

Bucket List

Beberapa hari ini saya sering iseng mencari cara untuk benar-benar merasakan rasanya hidup yang kalau dialihbahasakan ke Bahasa Inggris menjadi “living life to the fullest”. Ada artikel menarik dari laman keepinspiringme.com yang membahas tentang hal tersebut. Sebenarnya ada banyak sekali tips yang ditawarkan oleh artikel tersebut. Poin yang tertera paling atas di nomor 1 pada artikel tersebut adalah “membuat bucket list”. Bucket list, apaan tuh? Kok mirip sama nama restoran milik tokoh Plankton di kartun SpongeBob SquarePants ya? Haha.

Bucket list itu sederhananya adalah daftar dari hal-hal yang ingin kita lakukan atau kita capai di masa depan nanti. Setiap orang pasti punya target tersendiri terhadap hidup mereka. Terkadang target tersebut terlalu besar dan susah untuk mengukur tingkat keberhasilannya ataupun mengetahui langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Itulah gunanya menulis bucket list. Supaya hidup lebih terarah dan tahu hal yang perlu dilakukan dalam waktu dekat.

Jika hanya ada 3 hal yang dapat saya masukkan ke dalam bucket list saya, maka hal-hal tersebut adalah:
1. Menulis sebuah buku yang akan menjadi bestseller
2. Menjejakkan kaki di 5 benua (Asia, Eropa, Amerika, Afrika, Antartika)
3. Mendirikan sebuah foundation yang menyediakan bantuan dana untuk beasiswa, penelitian, dan penyandang cacat

Tunggu apa lagi, bikin bucket list yuk!

#30DaysWritingChallenge #21

Back to the Start

image

Perjalanan demi perjalanan akan berakhir ke tempat kita bermula. Dan terkadang jawaban dari pertanyaan demi pertanyaan yang terhampar di sepanjang perjalanan kita akan terjawab ketika kita kembali. Ada baiknya melihat kembali sesaat ke belakang, untuk menemukan apa yang hilang dari diri kita di sepanjang jalan.

#30DaysWritingChallenge #20

Aturan yang Kian Mengekang

Melihat gambar di atas, aku jadi teringat pada tulisan Paulo Coelho dalam bukunya yang berjudul Veronika Memutuskan Mati dari sudut pandang salah satu tokoh yang bernama Mari. Mari sebelumnya adalah seorang pengacara terkenal yang telah berhasil memenangkan banyak kasus dan disegani oleh koleganya sebelum ia dimasukkan ke dalam Villete, tempat penampungan para penderita kelainan jiwa di Ljubljana, Slovenia. Ada bagian ketika Mari berkontemplasi tentang betapa banyaknya aturan yang ada dalam kehidupan kita. Semakin hari, manusia merasa hidupnya semakin rumit. Aturan demi aturan bertambah. Orang merasa kesulitan melakukan suatu hal, karena ada banyak aturan yang mengekangnya.

Pada akhirnya, banyak dari aturan ini yang akhirnya dilanggar. Lihat saja pembajakan software dan file-file musik digital yang sekarang ada di mana-mana. Tapi apakah kita bisa mengembalikan semua aturan yang rumit ini menjadi sederhana dan lantas mencoba hidup dengan rasa kemanusiaan kita saja, berlaku sesuai apa yang ada dalam hati nurani kita? Hal ini sama rumitnya dengan menyuruh manusia untuk meninggalkan semua teknologi pasca revolusi industri dan kembali ke masa ketika manusia menggantungkan segalanya pada bertani dan bercocok tanam. Bukan masanya lagi untuk mempertanyakan cara mengubah bubur kembali jadi nasi, tetapi bagaimana membumbui bubur tersebut menjadi makanan yang lezat.

#30DaysWritingChallenge #18

Lebaran

Lebaran adalah momen yang unik bagi orang Indonesia

Ketika keluarga yang sudah jarang bertemu, bisa berkumpul setahun sekali

Ketika orang rela menghabiskan rupiah demi rupiah dalam dompet dan rekening demi menjumpai keluarganya

Ialah momen yang ingin dirayakan setelah sebulan lamanya bertempur di Bulan Ramadhan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriyah! Semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah swt. Amin.

Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, 06 Juli 2016 23:08 WITA

#StillContinue #30DaysWritingChallenge #16 #17

La race, le milieu et le moment

Hippolyte Taine (1828-93) pernah berujar dalam salah satu tulisannya tentang karya sastra bahwa ada 3 hal yang menentukan kualitas diri dan kepribadian seseorang.

3 hal itu adalah la race, le milieu et le moment.

La race adalah ras atau garis keturunannya, sesuatu yang sifatnya genetik.

Le milieu adalah lingkungan tempatnya menjalani kehidupannya.

Le moment adalah masa ketika orang tersebut hidup.

Kita tak bisa memilih mau lahir sebagai anak siapa dan pada zaman apa, tetapi lingkungan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diubah.

Begitulah.

#30DaysWritingChallenge #15