Tentang mimpi, tentang cita-cita

anne-frank-pic-and-quote
Anne Frank Huis, Amsterdam

“Ik zal niet onbetekenend blijven, ik zal in de wereld en voor de mensen werken!” /

“Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak berarti, aku ingin melakukan sesuatu di dunia dan untuk kemanusiaan.”

(Entry pada buku harian Anne Frank di tanggal 11 April 1944)

Ketika mencoba mendeskripsikan fase-fase dalam proses transisi karir The Beatles pada buku Shout!, Philip Norman menggunakan istilah: Wanting, Getting, Having, dan Wasting.

Umumnya, kita mengawali banyak proses dalam hidup kita dengan Wanting (menginginkan). Seperti ingin mencapai ini-itu, entah itu berkuliah di tempat yang diinginkan atau memulai karir sesuai passion. Di proses wanting ini, terkadang jalan hidup kita belum jelas. Karena kita hanya melakukan segala sesuatu sekenanya saja, sesuai dengan apa yang kita anggap benar ketika itu. Tidak jarang pula manusia melakukan proses trial-and-error ketika berusaha melalui proses ini. Seperti misalnya, mencoba berbagai macam hal dari yang terlihat normal sampai yang paling aneh. Beberapa orang berhenti pada proses wanting, karena tidak melihat adanya kemajuan yang signifikan atau adanya kesempatan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya.

Pada beberapa orang, proses Wanting ini akan berkembang menjadi Getting (mendapatkan), ketika elemen-elemen yang mendukung untuk terwujudnya keinginan itu tersedia dalam kehidupan kita. Seperti misalnya, adanya kesempatan atau momentum yang tepat untuk mewujudkannya. Proses getting juga bukanlah hal yang mudah, karena terkadang muncul tantangan yang bukan munculnya dari luar, tapi justru dari diri kita sendiri dan orang-orang terdekat kita. Seperti dikatakan oleh banyak petuah, kalau pertempuran tersulit itu adalah melawan diri kita sendiri. Karena pertempuran itu seringkali tidak kita saksikan dan kita rasakan hawa-hawa perjuangannya. Untuk bisa menang pada proses getting, kita perlu mendefinisikan dengan jelas mengenai apa yang benar-benar kita inginkan pada proses wanting. Karenanya mengevaluasi kembali hal-hal yang telah kita lakukan sesekali adalah hal yang perlu untuk dilakukan.

Setelah berjuang pada proses Getting, beberapa orang akan sampai pada proses Having (memiliki). Banyak orang menganggap proses ini sebagai hasil akhir, bahkan puncak dari kehidupan. Sebagian yang lain akan menganggap having sebagai hal yang biasa saja seiring berjalannya waktu, karena hal yang terasa spesial di awal pun akan menjadi hal yang biasa saja pada akhirnya. Karena itulah, tidak banyak manusia yang berakhir pada fase having. Kebanyakan dari mereka akan menuju ke fase berikutnya, yaitu Wasting (menyia-nyiakan).

Manusia itu pada dasarnya punya banyak kemauan, tanpa sadar bahwa masa hidupnya tidaklah lama. Karena itulah, menjadi hal yang penting untuk menyeleksi antara hal-hal yang hanya merupakan keinginan sementara dengan hal-hal yang menjadi panggilan hidup kita. Bisa jadi selama ini kita terjebak melakukan sesuatu yang bukan benar-benar cita-cita, harapan hidup kita. Berapa banyak orang yang kemudian kehilangan kewarasannya karena kerasnya situasi kerja di era modern? Modernitas menuntut banyak hal, salah satunya adalah terbatasnya waktu kita untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.

Sayangnya, aku terlambat menyadari panggilan hidupku. Tapi bukanlah masalah jika kau terlambat menyadarinya. Sepanjang hal itu terjadi ketika kau masih memiliki nafas untuk mewujudkan panggilan hidup itu dan semangat untuk meraihnya.

Untuk: Azizah Dwi Fatmawati, adik perempuanku yang tahun ini akan memulai masa kehidupannya sebagai mahasiswa di Teknik Mesin Universitas Brawijaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s