Baca, baca, dan terus baca

“Mungkin kau tak pernah bertemu denganku, tapi segala hal yang ada di pikiranku kini ada di kepalamu.”

Sampai saat ini, aku masih merasa kalau buku adalah penemuan paling ajaib yang pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, walaupun mungkin sekarang sudah bertebaran juga berbagai artikel dan buku dalam wujud elektronik. Karena melalui buku, kita dapat berkomunikasi dengan manusia yang berbeda waktu dan tempat dengan kita.

Mungkin kalau boleh diibaratkan dengan konsep tentang perpindahan ruang dan waktu, buku ibarat sebuah peti kemas tempat kita bisa menyimpan baik-baik berbagai hal yang saat ini ada di kepala kita untuk dibuka kembali oleh orang lain yang bisa jadi hidup di 2000 tahun yang akan datang, atau mungkin tinggal ribuan kilometer jauhnya dari tempat kita berada.

Bukankah itu hal yang mengagumkan? Ketika kau bisa bercakap-cakap tentang filsafat alam dengan Aristoteles atau menikmati bagaimana Mary Shelley menceritakan kisah Frankenstein.

Selain sebagai penemuan terhebat, aku juga merasa buku adalah barang investasi yang paling berharga nilainya. Mungkin sedikit berlebihan, karena kita tahu kalau banyak buku bekas yang dihargai jauh lebih murah daripada buku baru. Akan tetapi perlu diperhatikan, kalau buku bekas yang dihargai murah kebanyakan adalah buku-buku yang rentang usianya kurang dari 100 tahun.

Justru, hei! Buku-buku tua yang sudah lapuk dan kuning dimakan usia akan dicari oleh manusia mana pun yang haus akan pengetahuan di dalamnya. Karena begitu berharganya pemikiran yang ada di dalamnya dan nilainya sebagai sebuah artefak. Saat ini, tentu bukan hal yang mudah untuk menemukan incunabula (incunabula: buku-buku pertama yang dicetak setelah Gutenberg menemukan teknik mencetak buku) dan menaruhnya di rak lemari buku kita.

Suatu hal yang menarik bahwa buku-buku itu menjadi sarang debu-debu dan jaring laba-laba di perpustakaan hingga waktu yang lama. Aku jadi bertanya-tanya sendiri pada wujud pikir manusia. Jika buku-buku itu tempat manusia mengawetkan pemikiran-pemikirannya, lalu debu-debu memenuhinya, lantas apakah pemikiran manusia sudah berdebu?

Advertisements

One thought on “Baca, baca, dan terus baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s