Menyelami Masa Depresi Amerika pada Kacamata Scout Finch/Depression Period in the US through Scout Finch Lens

715vlp6m-olIdentitas Buku/Book Identity

Judul buku/Title: To Kill A Mockingbird

Penulis/Author: Harper Lee

Penerbit/Publisher: Hachette Book Groups

Jumlah halaman/Total Pages: 389 halaman/389 pages

“Shoot all the blue jays you want, if you can hit ’em, but remember it’s a sin to kill a mockingbird.”

To Kill A Mockingbird bisa dibilang sudah menjadi sebuah karya klasik abad ke-20 yang perlu dibaca oleh orang-orang di generasi mendatang. Harper Lee memulai petualangan yang ada dalam buku ini dengan menghidupkan dua tokoh kakak-beradik Jeremy dan Scout Finch, yang masing-masing berusia 6 dan 10 tahun saat dimulainya cerita. Finch bersaudara ini tinggal bersama ayah mereka, Atticus Finch, yang merupakan seorang pengacara yang sangat disegani di lingkungan mereka. Selain Atticus, kehidupan rumah keluarga Finch juga dipenuhi dengan cerita mengenai Calpurnia, seorang wanita Afro-Amerika yang menjadi pengasuh Scout dan Jeremy, di samping juga mengerjakan segala urusan rumah tangga keluarga Finch.

To Kill A Mockingbird has been a classic of the 20th century which need to be read by people from the next generation. Harper Lee began the adventure on her book by describing the life of Jeremy and Scout Finch, who were 6 and 10 in the story. The two Finch were living with their father, Atticus Finch, who was a lawyer with high reputation in their neighborhood. Other than Atticus, the house of Finch also filled in with stories about Calpurnia, an Afro-American woman who babysit Scout and Jeremy, besides did all the housework of the Finch household.

Mengambil setting waktu di masa depresi sekitar tahun 1920-1930-an, Harper Lee dapat dengan baik mendeskripsikan kesulitan perekonomian yang dialami oleh keluarga-keluarga di Amerika Serikat. Hal itu dapat kita lihat dari salah satu teman sekelas Scout, Walter Cunningham, yang ayahnya merupakan salah satu pengguna jasa Atticus Finch sebagai pengacara. Walter Cunningham, Sr. menggunakan sekarung hasil panennya untuk membayar jasa Atticus yang menjadi pengacaranya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian pada masa itu sedang mengalami penurunan hingga mengakibatkan berlakunya sistem barter pada situasi tertentu.

Through the book which took setting in the period of depression during 1920-1930’s, Harper Lee described well the harsh economic condition which needs to be faced by Americans at that time. We can witness it in one of Scout’s classmate, Walter Cunningham, whose father was one of Atticus clients. Walter Cunningham Sr., gave a pack of his crops to pay Atticus for his job. This showed that the economic condition declined at that time which caused people to trade their goods in some situations.

Selain masalah ekonomi, Harper Lee juga turut menyorot diskriminasi yang terjadi antara orang-orang berkulit putih dengan orang-orang berkulit hitam. Hal ini didukung oleh beberapa elemen dalam cerita. Yang pertama, adalah pemilihan latar tempat di Madison County yang letaknya di Negara Bagian Alabama, yang merupakan basis dari wilayah selatan pada Perang Saudara Amerika. Seperti telah kita ketahui sebelumnya, Perang Saudara Amerika atau American Civil War (1861-1865) yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abraham Lincoln merupakan peristiwa yang terjadi salah satunya karena perbedaan pendapat antara wilayah utara dan selatan mengenai perbudakan.

Other than economic problems, Harper Lee also noted discrimination between white and black people. This is supported by some elements of the story. The first one is the selection of the place which took place in Madison County which located in Alabama State, which was the base of the Southern Army during American Civil War. As we already knew, American Civil War (1861-1865) which happened during the reign of President Abraham Lincoln was a war which happened because of different perspectives on slavery between Northern and Southern part of the US.

Di wilayah selatan, para budak dari ras negroid memegang peranan penting dalam menyokong perekonomian, sehingga hal ini menjadi suatu keberatan yang besar bagi wilayah selatan untuk memerdekakan budak. Diskriminasi ini pun masih menjadi sesuatu yang sulit untuk dihilangkan hingga satu abad selanjutnya. Masalah rasisme ini pula yang menjadi bahasan utama dari buku ini, ketika Atticus Finch pada akhirnya mempertaruhkan reputasinya sebagai pengacara dan wakil dari masyarakat kulit putih ketika harus membela seorang nigger.

In the south, the slaves from the negroid race had the vital point on supporting the economy, which caused the Southern problems to release their slaves. This discrimination was still a major problem until the next century. The problem of racism also became the major topic of this book, especially when Atticus Finch bet up his reputation as a lawyer and a white race since he has an obligation to defend a nigger.

Tak hanya berbicara mengenai hal-hal serius, Harper Lee juga menyelipkan beberapa humor khas anak-anak pada buku ini yang terwujud dari kepribadian Scout Finch dan beberapa temannya. Salah satunya adalah permainan mereka mengenai tokoh Boo Radley. Boo Radley adalah anak laki-laki dari keluarga Radley yang tinggal di sebuah rumah bernama Radley Place. Ia hampir tidak pernah keluar rumah, serta memiliki gosip buruk seperti liurnya selalu menetes dan senang menyiksa anak-anak. Pada awalnya, Scout dan teman-temannya sering mengganggu kediaman keluarga Radley dengan mengetok pintu atau pun sekadar berteriak dari luar rumah. Namun, di akhir cerita diungkap bahwa Boo Radley adalah sosok religius yang baik dan bahkan menyelimuti Scout ketika terjadi kepanikan akibat kebakaran di musim dingin.

Not only talk about serious things, Harper Lee also provided us with some child-like humor in this book which brought up through the personalities of Scout Finch and some of her friends. One of those was the humor concerned with Boo Radley. Boo Radley was the son from Radley family who lived in a house called Radley Place. He almost never got out of the home, also had some bad gossips like his saliva always tore down and he also enjoyed teasing kids. At first, Scout and her friends often disturbed the Radley household by knocking on their door or by shouting from the outside of the home. But in the end, Boo Radley was a religious caring person who even covered Scout with a blanket after a fuss caused by the fire in the neighborhood during winter.

Walaupun topik yang dibawa pada novel ini cukup berat, mengenai rasisme dan masa depresi ekonomi, pembawaan Harper Lee melalui tokoh Scout Finch cukup bisa mendeskripsikan kondisi yang ada di dunia nyata. Kekuatannya ada pada penggunaan tokoh anak-anak yang pada dasarnya masih polos dan belum tersentuh oleh berbagai kepentingan seperti halnya pada orang dewasa. Namun, secara keseluruhan pembawaan dari Harper Lee di awal cerita terkesan akan terkesan cukup datar bagi sebagian orang karena perkembangan cerita yang lambat di awal.

Even though the topic of this novel is a bit hard, about racism and depression period, Harper Lee can bring the story together through the characterization of Scout Finch and described the realities well. The power lies in the characterization of children who were still blank and had no personal interests. But, the story is a bit slow paced in the beginning which can cause it to be boring for some people.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s