L’art pour l’art, Seniku dalam Belajar

rba-image-1110984

Saya pertama kali mengenal frasa l’art pour l’art ketika saya mengikuti kuliah Perkembangan Kesusastraan Belanda di semester ketiga perkuliahan saya. L’art pour l’art dapat diterjemahkan secara etimologi menjadi seni untuk seni dalam bahasa Indonesia atau art for art’s sake dalam bahasa Inggris. L’art pour l’art adalah slogan dalam bahasa Prancis yang populer di antara para penyair di Eropa abad ke-19 yang berusaha memaknai seni sebagai sesuatu yang murni. Dengan kata lain, seni harus merupakan sesuatu yang murni dan bebas dari segala unsur didaktik, moral, dan utilitarian. Sederhananya seni tidak boleh memuat unsur politik apapun.

Edgar Allan Poe sempat menyinggung mengenai konsep ini dalam esainya yang berjudul The Poetic Principle (1850):

“We have taken it into our heads that to write a poem simply for the poem’s sake […] and to acknowledge such to have been our design, would be to confess ourselves radically wanting in the true poetic dignity and force: – but the simple fact is that would we but permit ourselves to look into our own souls we should immediately there discover that under the sun there neither exists nor can exist any work more thoroughly dignified, more supremely noble, than this very poem, this poem per se, this poem which is a poem and nothing more, this poem written solely for the poem’s sake.”

Hakikat kemurnian seni ini menjadi sesuatu yang penting pada zaman itu. Ada pula suatu pendapat yang mengatakan bahwa seni itu dapat dijadikan suatu indikator bagi perkembangan peradaban. Semakin maju sebuah peradaban, seharusnya semakin berkembang pula karya seni pada zaman itu.

Sampai kemudian saya sampai pada suatu pendapat bahwa konsep seni ini pun ada dalam belajar. Seni harus murni dibuat untuk seni itu sendiri, maka menurut saya dalam belajar pun kita perlu melakukannya murni karena kita ingin belajar. Learn for Learn’s sake!! Karena bukan sekali dua kali saya menemukan orang-orang yang belajar karena alasan-alasan yang kurang membuat proses belajar itu berlangsung dengan baik.

Katakanlah, mungkin kita sendiri termasuk dari beberapa di antaranya. Ada orang-orang yang belajar karena mengejar nilai di atas kertas semata, atau demi mendapat pengakuan dari masyarakat. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, tetapi ketika kita berusaha keras mempelajari hal-hal yang tidak kita sukai, hal tersebut akan menjadi sesuatu yang membebani pikiran kita.

Let me ask: are you curious about something right now? when was the last time you felt curious?

Rasa penasaran itu yang menggerakkan kita untuk maju. Kapan terakhir kali Anda merasa penasaran dengan apa yang Anda pelajari? Mungkin Anda seringkali melihat sesuatu dan bertanya-tanya mengenai asal-usulnya, tetapi apa rasa penasaran itu hanya berhenti menjadi rasa penasaran? Karena ada begitu banyak pertanyaan yang masih belum terjawab hingga kini, menunggu ada jawabnya.

Salah seorang Imam Mazhab dalam Islam, Imam Syafi’i pernah mengatakan: Jika kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.” Menuntut ilmu itu penting, dan untuk bisa menjaga intensi kita dalam belajar, kita perlu terus memantik rasa penasaran kita pada hal-hal baru. Curiosities is important, bro-sist. Lalu bagaimana cara menjaga rasa penasaran kita agar tetap ada? Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana, sesederhana meng-google sesuatu yang ada di keseharian yang menimbulkan pertanyaan di kepala kita. 

René Descartes mencontohkannya dengan Teori Keragu-raguannya yang mempertanyakan segala sesuatu dan meragukan apa yang ada di alam ini. Seperti misalnya, ketika kita sedang pergi dengan naik KRL Commuter Line, kita coba mencoba mencari tahu sesimpel bagaimana KRL bisa berjalan, kapan KRL mulai beroperasi di Jabodetabek, atau bagaimana pantograf pada KRL berguna untuk menerima aliran listrik dari gardu listrik. Konsep 5W+1H (What, Why, When, Where, Who, How) yang dulu kita pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia semasa sekolah dapat diaplikasikan di sini.

Belajar lah karena kita memang harus belajar. Dan jangan sampai Anda merasa terpaksa karenanya. Ikutilah rasa penasaran Anda, sampai rasa penasaran Anda hilang karena Anda sudah tahu jawabannya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s