Jogjaaaaa!

Seminggu pertama dari Bulan Februari 2017 ini kuhabiskan di Kota Gudeg Yogyakarta, atau yang lebih akrab disapa dengan Jogja. Jogja selalu menyimpan banyak cerita dari sejak pertama kali aku berkunjung ke sana di tahun 2004. Bisa dibilang aku selalu mengunjungi kota ini dengan berbagai alasan setahun sekali sejak aku lulus dari SMA. Berbicara tentang Jogja, ada banyak hal yang bisa diceritakan mulai dari keramahan para penghuninya hingga kekayaan budayanya dengan tempat-tempat bersejarahnya. Walaupun begitu, aku mencoba menghindari untuk memilih kuliah di Jogja karena tempat ini adalah zona nyaman yang luar biasa bagiku. Kali ini, aku ingin mencoba membahasnya dari segi yang sedikit pribadi melalui hal-hal yang memberiku kesan ‘nostalgia’.

  1. Kacamata

Kenapa aku harus membahasnya mulai dari kacamata? Beberapa hari sebelum aku sampai di Jogja tanggal 1, aku mengalami peristiwa tragis (sebenarnya nggak tragis-tragis banget sih) yang menyebabkan kacamata yang biasa aku pakai sejak tahun 2015 itu patah menjadi 2 bagian. Peristiwanya terjadi ketika jalan-jalan penutupan kepanitiaan Pemira IKM UI 2016 di wahana Ice Age Dufan. Gelapnya pemandangan di wahana tersebut membuatku tidak fokus dan menabrak dinding tak terlihat itu dengan begitu kerasnya. Kacamataku patah menjadi dua, dan ada sebuah bekas lecet di dekat mata sebelah kananku. Tragis bukan? (mencari simpati, wkwk)

Sebenarnya ada satu kacamata cadangan yang kumiliki, tapi ia hilang tak berbekas entah ke mana ketika aku pindah tempat tinggal ke asrama.

Mendengar penuturan ceritaku itu, Kak Rani, yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, kemudian memberiku sebuah kacamata dengan lensa minus satu yang sebenarnya nggak pas dengan mataku. Kacamata yang diberikan Kak Rani itu adalah sebuah kacamata dengan frame merah, dengan kesan feminin yang ditampakkannya. Namun, ternyata kacamata itu sangat cocok dengan wajahku. Entah kenapa, hampir semua kacamata cocok jika disandingkan dengan wajahku. Kata Kak Rani, aku bisa menggunakan frame dari kacamata pemberiannya untuk digunakan dengan lensa kacamata lamaku yang telah patah. FYI: kacamata yang diberikannya padaku itu adalah pemberian mantannya dulu.

Tapi dasar orang sibuk, aku benar-benar nggak punya waktu dari pagi sampai malam untuk pergi ke optik sekadar untuk membetulkan kacamataku, walaupun aku harus bertingkah seperti orang setengah buta dalam setiap kegiatanku. Dari luar, orang melihatku biasa saja karena aku memakai kacamata yang diberikan oleh Kak Rani sebelumnya. Namun, sebenarnya aku melihat seperti orang yang tidak memakai kacamata. Lalu aku jadi bertanya-tanya, “Seperti inikah yang dirasakan oleh temanku Hadhara saat Youth Adventure dari Jogja ke Jakarta atau temanku Andin saat FLS berlangsung?” Sungguh rasanya aku telah benar-benar bergantung pada kacamata ya, sejak aku pertama kali memakainya di tahun 2006.

Alhasil, begitu keretaku sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, hal yang pertama kali kulakukan adalah mencari toko optik yang masih buka sampai menjelang tengah malam. Berbekal bantuan Google Maps, aku menemukan Optik Tugu yang di hari itu masih buka sampai jam 10 malam, kebetulan letaknya juga dekat dengan Stasiun Tugu yang hendak kutuju setelahnya. Akhirnya aku segera menuju ke tempat itu sambil menggondol kacamata lamaku yang patah.

“Wah, ini nggak bisa kalo cuma ganti frame. Harus bikin kacamata baru mas.”

Pernyataan dari mbak-mbak di toko optik itu cukup membuatku bingung, karena bagiku ini adalah alamat mengeluarkan uang lebih untuk bulan ini.

“Kalau bikin baru harganya berapa mbak?”

“Di sini kami ada 2 pilihan mas. Kalau yang cuma lensa doang garansinya, itu 350 ribu. Kalau yang frame-nya juga garansi, itu 650 ribu mas.”

Berhubung keuanganku sedang cukup terbatas dan belum tentu ada waktu lain untuk bikin kacamata lagi, akhirnya kuputuskan untuk membeli kacamata yang harganya 350 ribu. Kalau berpikir mahal murahnya, anggap saja ini investasi. Kali ini aku memilih frame kacamata berwarna ungu. Mungkin ungu kesannya feminin, tapi memang pada dasarnya aku ini senang dengan hal-hal yang sifatnya feminin. Contohnya, kerapian kamar, warna favorit, lagu-lagu yang kudengarkan, ketidaksukaanku pada pekerjaan pertukangan, dan sampai saat ini kebanyakan dari wanita yang pernah mengisi hatiku pun punya kepribadian tomboi.

img_20170211_210234
Kacamata baruku!

Oleh-oleh pertamaku dari Jogja, kacamata baru!

  1. Garda dan Bayu

Bayu Rakhmatullah, mahasiswa Fisika ITB angkatan 2013 yang sedang pusing karena TA, adalah orang yang sukses mengompori diriku untuk pergi ke Jogja dengan kemampuan persuasifnya yang mengagumkan. Padahal pada awalnya, aku sempat ragu untuk pergi ke Jogja karena ada beberapa orang yang jarang ketemu, yang aku sudah punya janji untuk ketemuan di wisuda semester gasal UI yang jatuh tanggal 4 Februari 2017. Tapi setelah menimbang-nimbang, karena aku juga ada Musyawarah Nasional (Munas) Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia (KORBI) di Kaliurang, Yogyakarta dari tanggal 3-4 Februari, akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke Jogja dan membatalkan janji yang lebih awal.

Sedikit prolog tentang Bayu, dia sangat sering melontarkan kata-kata “zonk” dan “t*i kucing” ketika menemui sesuatu yang tidak dia sukai. Seperti halnya ketika kami menemui Pantai Baron yang ternyata sedang keruh airnya karena musim hujan. Penampilannya sangat jauh dari anak ITB yang kesannya kaku. Terlepas dari itu semua, Bayu adalah orang yang benar-benar memikirkan orang lain sampai mungkin kita akan merasa kalau dia begitu berlebihan. Seperti usai kunjungan kami ke Sarkem, Bayu tampak begitu paranoid untuk memastikan Garda tidak mampir lagi ke sana. Yang kusuka dari Bayu adalah, ia selalu menjadi dirinya sendiri di mana pun dia berada. Sangat jarang aku melihat orang yang topengnya tetap sama di mana pun ia berada. Ia akan tetap mengatakan “zonk” dan “t*i kucing” sambil tertawa kencang dengan siapa pun ia berbicara.

Sedangkan Garda adalah tuan rumah yang rela menampung Bayu dan diriku di rumahnya yang sederhana di Bantul. Pertama kali melihat Garda, mungkin kamu akan berpikir kalau dia orangnya kaku dan kurang bisa diajak ngobrol. Tapi percayalah, semakin kamu mengenal Garda, kamu akan melihat sosok seseorang yang peka terhadap kebutuhan orang lain dan punya cara yang tidak biasa dalam mengekspresikan niat baiknya untuk membantu orang lain. Seperti misalnya ketika kami sedang di perjalanan mengendarai motor melewati jalan desa di sore hari, Garda berhenti sesaat sambil berbicara dengan seorang bapak tua yang sedang memanggul sebuah kayu besar di pundaknya. Tadinya aku dan Bayu mengira kalau ia sedang menanyakan arah jalan. Sesaat kemudian, bapak tua tersebut sudah ada dalam boncengannya. Rupanya ia menawarkan untuk mengantarkan bapak tua itu sampai depan rumahnya!

Bersama kedua orang ini, aku mengunjungi beberapa tempat terkenal di Jogja dan sekitarnya seperti Malioboro, Benteng Vredeburg, Bukit Rhema yang muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta, Pantai Indrayanti, dan SARKEM! Aku yakin kalian semua tahu atau minimal pernah mendengar sesuatu tentang Sarkem atau Pasar Kembang. Ia adalah sebuah tempat lokalisasi legal yang letaknya tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Malam itu kami bertiga menguji keberanian kami berjalan memasuki gang Pasar Kembang.

Begitu masuk, kami diminta uang ‘keamanan’ 5 ribu rupiah per orang. Kala itu masih jam 8 malam, tetapi para kupu-kupu malam sudah menunggui kami di pelataran depan rumahnya masing-masing sambil menyapa kami ramah. Di dalamnya, ternyata gang tersebut cukup luas, ada banyak tempat karaoke dan kafe juga. Yang membuatku terkesan, ternyata masih ada musala dan sebuah taman kanak-kanak yang berdiri di gang tersebut. Hasil observasi kami malam itu, selalu ada sisi baik dan buruk dari sesuatu yang membuat kita tak bisa begitu saja menghakiminya sebagai baik atau buruk. Cerita yang lebih mendetail dari ini sepertinya kurang layak untuk dipublikasikan karena sumbernya masih kurang lengkap dan tidak diperbolehkan untuk memotret secara langsung kondisi dalam gang tersebut.

img_20170205_122321
Kiri: Bayu, Kanan: Garda. Di Foodpark UGM.

Bayu dan Garda kini sama-sama sedang berjuang untuk menuntaskan pendidikan sarjana mereka. Mari kita doakan mereka segera lulus dan diwisuda tahun ini. Amin.

  1. Musyawarah Nasional KORBI

Acara ini yang bisa dibilang menjadi agenda utamaku di Jogja awal Februari ini. Sejujurnya aku baru beberapa bulan bergabung dengan KORBI atau Komunitas Relawan Anak Baik Indonesia ini sehingga belum terlalu mengenal baik secara keorganisasian maupun orang-orangnya. Namun, aku mendapat kesan yang baik dari berinteraksi dengan para pengurus KORBI dari berbagai regional. Saat ini, KORBI memiliki chapter di Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Jogja yang saat itu menjadi tuan rumah. Sebenarnya ada beberapa chapter lain yang saat ini sedang non aktif seperti Pekanbaru, Bandung, dan Surabaya. Namun, ada kendala-kendala yang biasa dialami oleh organisasi yang baru berdiri seperti jarak dan komitmen yang masih berbeda-beda dari pengurusnya.

14677432_590028677858985_6980584653694435328_n
KORBI Depok di Munas KORBI. Dari kiri ke kanan: Kak Hasan, Kak Arga, Kak Aldi, remah-remah sari roti, Kak Tri, Kak Musfiq, Kak Hasima, Kak Sri.

Memulai sesuatu itu adalah hal yang sulit, lebih sulit dari mempertahankan. Dan kurasa itulah yang sedang dialami oleh KORBI. Seperti halnya masalah-masalah yang dibahas saat Munas yang lebih berkutat ke hal-hal yang sifatnya fundamental seperti mematangkan lagi AD/ART dan platform dari program-program KORBI. Kuharap seterusnya KORBI bisa lebih baik lagi dalam menunjang Anak Baik Indonesia dan menjangkau tempat-tempat yang belum terjangkau saat ini dan bisa berbagi lebih banyak kebermanfaatan.

  1. Andin

Nama panggilannya Andin, lengkapnya Raden Roro Erika Purwa Andini. Bertemu dengan Andin adalah salah satu tujuan utamaku datang ke Jogja. Apa yang membuatku harus repot-repot menemuinya dalam kunjungan singkatku? Aku juga masih mencari jawabannya, karena aku merasa kalau harus bertemu dengannya walaupun hanya sebentar. Ketika pertama kali bertemu dengan Andin di FLS awal Oktober lalu, aku merasakan semangatnya untuk belajar bahasa asing. Ia tampak berbeda dari kebanyakan mahasiswa yang biasa kutemui di FIB UI. Passionate. Mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya dengan satu kata. Kembali ke pertanyaan di atas, aku juga masih bingung dengan jawabannya. Entah, mungkin aku mencari sosok diriku pada dirinya? Atau mungkin aku mencoba mencari orang yang satu frame, sepemikiran denganku pada sosok Andin? Coba tanyakan saja pada rumput bergoyang. Hahaha.

freshpaint-7-2017-02-11-09-44-14
Penggambaranku mengenai Andin, berhubung aku tak punya fotonya! Haha.

Ketika kami bertemu di tanggal 5, dia baru saja sampai di Jogja sehari sebelumnya. Kulihat dia terbatuk beberapa kali dan wajahnya tampak kuyu kelelahan dari perjalanan jauh. Mungkin waktu itu bukan waktu yang terbaik untuk bertemu dengannya. Ditambah lagi aku yang telat datang dari waktu yang sudah dijanjikan sebelumnya. Namun, ia masih menyempatkan untuk menemaniku berkeliling Sunmor (Sunday Morning, sebutan untuk pasar kaget hari Minggu pagi di sekitar kampus UGM dan UNY) hingga akhirnya kami mengobrol di sebuah bangku di kampus FIB UGM. Kami mengobrol tentang banyak hal, dari seputar kegiatan perkuliahan kami hingga pandangan-pandangan kami mengenai kehidupan.

Mungkin Andin adalah sosok sahabat yang kuharapkan, yang tak bisa kutemukan di Depok. Seorang sahabat yang dengannya kau bisa menghabiskan berjam-jam mengobrol tentang banyak hal yang random sesuai suasana hati kami saat itu. 3 jam waktu yang kami habiskan di hari itu terasa seperti berabad-abad (lebay). Intinya aku merasa butuh seorang sahabat seperti Andin, seorang sahabat yang punya mimpi sama, umurnya berdekatan, jurusan kuliahnya mirip, hobinya hampir sama. Andin juga suka menulis, dan sepertinya lebih ahli daripada diriku dalam hal ini. Tulisan-tulisan Andin bisa dilihat di http://erikaseprijadi.wordpress.com atau http://miarachan.blogspot.com (ngiklan dikit). Ia juga suka membacakan puisi yang dibuatnya sendiri melalui akun Soundcloud-nya (silakan dicari sendiri).

  1. Waroeng SS

Brace Yourself, ini adalah cerita tentang Waroeng SS atau biasa juga dikenal dengan Waroeng Spesial Sambal.

Aku ingin membuat satu bagian khusus mengenai tempat makan favoritku ini. Bagi mahasiswa UI, Waroeng SS di Jalan Margonda Raya Depok adalah sebuah tempat sakral tempat ngumpul bareng teman organisasi atau sekadar makan-makan biasa. Tempatnya pun selalu penuh di berbagai jam, tidak terkecuali saat Bulan Ramadhan. Yang spesial dari Waroeng SS adalah penggabungan konsep kearifan lokal menggunakan sambel khas Indonesia dengan konsep restoran yang kekinian dan disukai oleh anak muda.

Dalam perjalananku ke Jogja ini pun aku sempat mengunjungi cabang Waroeng SS yang letaknya dekat dengan kampus UGM. Konon ceritanya, Waroeng SS pada awalnya berdiri di Jalan Kaliurang dekat dengan kampus UGM sebelum pada akhirnya memiliki banyak cabang di mana-mana di seantero Pulau Jawa. Yang menjadi concern-ku adalah kesamaan dari rumah makan ini di cabang mana pun. Baik dari segi kesan yang ditimbulkan, rasa makanannya, penampilan tempatnya, dan pelayanannya.

14733495_661409667350935_8659318105039699968_n
Reunian UI Ambitchious Club di Waroeng SS Margonda Depok bulan Mei 2016 (foto ini agak nggak nyambung sebenarnya).

6. The Happiness Project

Aku selalu mengusahakan untuk selalu membawa satu buku bacaan ketika bepergian, terutama ketika bepergian jauh. Karena ternyata hal ini merupakan solusi yang sangat ampuh untuk mengusir kebosanan. Terutama ketika harus duduk diam selama hampir 9 jam di dalam kereta dengan jarak 546 kilometer antara Jakarta-Jogja. Mengobrol dengan orang sekompartemen 10-20 menit mungkin bisa, tapi kita akan bosan ketika semua orang di kereta sudah mulai tertidur. Tidur di kereta bagiku cukup membuang waktu, kecuali memang ketika kita sedang sangat lelah. Karena itu, aku lebih memilih untuk membaca buku.

img_20170211_211929
The Happiness Project karya Gretchen Rubin.

The Happiness Project karya Gretchen Rubin adalah buku yang kuputuskan untuk menemani perjalananku kali ini. Sebenarnya aku sudah membaca 2 bab pertamanya sebelum berangkat, tapi aku menghabiskan sebagian besar dari buku ini hingga bagian akhirnya dalam perjalanan dan di Jogja sendiri. Satu fakta yang kutemukan, kita akan lebih mudah untuk mengingat kesan yang kita alami di suatu tempat dan di suatu waktu ketika kita memiliki sesuatu untuk dikaitkan. Dalam hal ini, bagiku adalah buku The Happiness Project. Ketika mencoba membaca ulang buku tersebut, akan mudah bagiku untuk mengingat-ingat kembali memori dari kejadian yang terjadi di sekitarku selama rentang aku membaca buku itu. Aku menyebutnya teknik asosiasi, karena kita mencoba mengaitkan antara satu hal dengan hal yang lain.

Sedikit menambahkan, buku The Happiness Project sendiri adalah buku yang sempat menjadi best seller di Amerika Serikat pada akhir dekade lalu. Buku ini menceritakan tentang percobaan Gretchen untuk menjadikan hidupnya lebih bahagia dengan mencoba hal-hal yang berbeda tiap bulannya dari Bulan Januari hingga Desember. Dan hasilnya adalah Gretchen menjadi orang yang lebih bahagia yang bisa mengendalikan diri dengan baik dan membawa aura positif ke lingkungannya.

Kesimpulan

Sebenarnya ini bukan paragraf yang akan menyimpulkan tentang perjalanan di atas. Yang ingin kusampaikan hanya lah agar para pembaca sekalian bisa mengamalkan konsep living life to the fullest. Karena terlalu banyak orang yang hidup dengan membawa-bawa pemikiran tentang masa lalu atau pun masa depan yang belum pasti sehingga lupa menjalani hidupnya di waktu sekarang. “Orang yang berbahagia bukanlah orang yang memiliki segalanya. Mereka hanya melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tetapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”

Advertisements

4 thoughts on “Jogjaaaaa!

  1. Wah, saya sangat menikmati tulisan anda.. menarik, btw soal KORBI, saya baru tahu komunitas seperti itu iya, memangnya seperti apa iya kegiatannya?

    1. Sebelumnya terima kasih atas ketertarikannya. KORBI itu komunitas yang fokusnya ke kerelawanan dan pembentukan karakter baik untuk para relawannya melalui training maupun untuk anak anak yang menjadi target juga. Programnya berbeda beda di tiap chapter, tapi yang utama ada Jambore Anak Baik dan Training Anak Baik Indonesia. Selengkapnya mengenai organisasi ini bisa dicek di situs anakbaik.org 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s