Are You Done Praying?

“Are you done praying?”

Kalimat itu sepertinya tepat untuk mengawali tulisanku hari ini. Terkadang (bahkan sering) manusia di abad ke-21 ini beribadah dengan rajin, tetapi melupakan Tuhannya ada di mana. Tentunya masih ada manusia yang benar-benar mencari keberadaan Tuhan seperti halnya mencari tukang tambal ban pada pukul satu pagi. Tentunya ada, tapi sulit untuk menemukannya.

Bukan karena Tuhan jauh, tapi karena manusia sudah terlalu lelah dengan kemilau gemerlapnya lampu-lampu gedung tinggi di senja hari. Oleh desingan bunyi kereta komuter yang di dalamnya ribuan manusia berdesak-desakan sekadar mengisi ruang sempit kehidupan. Oleh komentar-komentar pedas yang menghiasi kupingnya dari orang-orang yang saling tak senang dengan keberadaan satu sama lain.

Manusia itu katanya jika tidak oportunis, maka dia akan dilalap habis oleh api-api kebusukan di sekitarnya. Jika ada perumpamaan yang menggambarkan hal ini, aku rasa itu seperti bunga-bunga di sebuah taman di siang bolong yang dihinggapi lebah tanpa henti. Ia memang sungguh indah, namun tak ada seorang pun yang berani mendekatinya.

 

NB:

Dari aku yang masih bodoh kepada pembaca yang budiman, sebuah refleksi singkat usai membaca Il Principe dan Thus Sprake Zarathustra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s