Let’s Describe Someone!

Kurasa tema yang tepat untuk hari ini adalah describing someone. Kali ini aku ingin mendeskripsikan tentang seorang mentor yang telah berbagi banyak kisah inspiratif denganku dan dengan banyak orang lain juga tentunya. Bagiku mentor adalah seseorang dengan many things in common, yang bisa dibilang banyak dari garis besar kehidupannya yang bersinggungan dengan rencana hidupku ke depannya. Yang paling sederhana mungkin ia sempat bilang kalau semester 5 adalah masa yang paling menyenangkan semasa dia kuliah di kampus UI, ibarat sebuah semester tanpa beban dengan banyak ketawa-ketiwi dan haha-hihi. Kenyataannya aku juga merasakan hal tersebut, mungkin seperti halnya suasana pantai sebelum tsunami yang terlihat tenang namun mengancam dalam waktu dekat.

Melihatnya sekilas, dia tampak seperti seorang wanita karir biasa yang memiliki banyak kesibukan di kantornya. Auranya terlihat dewasa dibandingkan dengan bocah seusiaku. Bahkan ada momen ketika aku bercanda dengan menunjukkan foto salah seorang kawan kami yang sedang tertidur pulas dengan mulut menganga, namun dia tidak tertawa. Awalnya aku berpikir, apa selera humor orang yang umurnya 5 tahun lebih tua dariku ini berbeda karena faktor usia, atau memang seperti inilah appeal yang ditampilkan oleh seorang wanita dewasa? Lalu pada akhirnya aku berkesimpulan pada hipotesis kedua, karena memang ternyata leluconku tadi kurang pantas digunakan di situasi itu.

Sedikit menjelaskan latar belakangnya, namanya adalah Rani Hastari. Katanya namanya Sansekerta banget. Tapi nama tentunya punya makna yang baik, doa dari sang pemberi nama, entah dalam bahasa apa pun itu. Lahir di Probolinggo, 29 Juli 1990. Kesamaan pertama kami, punya ulang tahun di bulan yang sama. Karena aku berulang tahun pada 20 Juli (tahun dirahasiakan). Ia tinggal di Depok sejak kecil hingga berkuliah di Program Studi Inggris FIB UI angkatan 2008. Kesamaan kedua kami, punya almamater kuliah yang sama, walaupun berbeda prodi. Lalu ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, yang ini beda deh, sebab aku anak pertama di keluargaku.

Kalau melihat beda angkatannya yang jauh denganku, mungkin pembaca bertanya-tanya di mana aku mengenal sosok ini? Jawabannya adalah, aku mengenalnya di Gerakan Mari Berbagi, sebuah organisasi yang menghubungkan pemuda-pemuda dari Aceh sampai Papua yang memiliki mimpi besar untuk Indonesia yang lebih baik ke depannya. Singkatnya awal aku mengenal Kak Rani, dia seperti punya kemampuan untuk menyihir orang lain agar duduk diam mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita Kak Rani bermacam-macam dan topiknya pun bervariasi.

Hal pertama yang menarik bagiku dari Kak Rani adalah cerita mengenai tempat kerjanya di kantor United Nations Information Center Jakarta (UNIC – Kantor Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta). Background studinya di Program Studi Inggris tidak membuatnya berhenti dari rasa penasarannya untuk mencoba bekerja di UN Agency yang notabene diisi oleh alumni-alumni jurusan Hubungan Internasional. Ia menekankan bahwa kita perlu bisa menunjukkan tujuan hidup kita melalui pengalaman-pengalaman yang kita punya yang kita tuangkan melalui CV kita. Karena hal tersebutlah yang membuat dia bisa berada di posisinya tersebut. Intinya ada pada visi yang jelas dan tindakan yang sesuai dengan visi tersebut. Pekerjaannya di UNIC memberikannya kesempatan untuk bisa bertemu dengan orang-orang penting di pemerintahan Republik Indonesia serta (jelas) melatih kemampuan komunikasinya dalam Bahasa Inggris. Dan ia pun tidak menunggu sampai lulus kuliah untuk melamar di pekerjaan ini. Sembari menyelesaikan skripsinya, ia mengirimkan lamaran untuk internship terlebih dahulu. Lesson learned: Mulai dari yang kecil-kecil dahulu, lakukan dari sekarang!

Masih tentang skripsinya, Kak Rani memilih untuk mengambil jalur skripsi yang lebih berat. Walaupun di beberapa program studi di FIB UI (termasuk Program Studi Inggris) tidak diwajibkan membuat skripsi dan boleh mengerjakan tugas akhir dalam bentuk jurnal/makalah non seminar yang tidak disidangkan. Bagiku ini sebuah pelajaran tentang mencoba mengambil pilihan hidup yang lebih menantang. Ketika kamu mencoba memilih sesuatu yang lebih mudah, mungkin saja hal itu akan terasa nyaman untuk sesaat. Tapi untuk jangka panjangnya, kita tidak akan berpindah jauh dari posisi kita saat ini karena tidak ada pemicu yang memacu kita untuk bisa maju. Lesson learned: Kenali potensi diri dan tantang dirimu untuk maju!

Sekarang kita masuk ke yang terakhir, sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan tentang Kak Rani, tapi jika terlalu panjang tulisan ini akan jadi membosankan. Kak Rani tidak pernah bosan meluangkan waktunya untuk berbagi, bahkan hanya untuk seorang mahasiswa bau kencur sepertiku. Kurasa memang seperti itulah seharusnya seorang role model itu. Bukan seseorang yang membuatmu merasa minder dengan prestasi-prestasinya, tapi seseorang yang mendudukkanmu sebagai seorang rekan yang setara serta saling berbagi cerita dan pengalaman. Bahkan Kak Rani rela menunggui diriku yang ketiduran sampai setengah jam lebih di salah satu janji kami (I’m really sorry kak, wkwk).

Sekitar bulan Agustus nanti, Kak Rani akan melanjutkan studi S2 di University of Leeds di UK mengambil jurusan Childhood and Youth Studies. Bidang tersebut merupakan bidangnya karena selama ini ia sering ‘bermain’ dengan anak-anak, terutama melalui project The Sun and Friends yang dijalankannya bersama beberapa orang temannya. Ia melanjutkan studi dengan beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan RI dan termasuk di angkatan PK-83, serta merupakan orang dengan jabatan nomor 2 di angkatannya. Tulisan ini dibuat dalam rangka kesedihan ketika membayangkan setahun dari sekarang nggak akan bisa bertemu Kak Rani seintens saat ini.

img-20160910-wa0029
Bersama Kak Rani.

Bagiku sosok mentor adalah suatu hal yang penting dalam menunjang pengembangan diri kita. Selain tentunya memiliki visi, disiplin, dan passion seperti kata Uda Muadzin dalam bukunya Follow Your Passion. Mentor bisa ditemukan di mana saja, bahkan terkadang sosok itu hadir di sekitar kita tanpa kita sadari sebelumnya. Terkadang tidak harus dalam wujud nyata, ketika kita membaca biografi seseorang atau menghadiri sebuah seminar secara tidak langsung kita sedang mencari mentor dalam hidup kita.

Advertisements

One thought on “Let’s Describe Someone!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s