15 Hari Menyusuri Banua

Ini adalah cerita 15 hari perjalananku di Kab. Kotabaru, Prov. Kalimantan Selatan. Cerita ini sebenarnya ditulis di tahun 2015 dan telah dipublikasikan dalam buku “Research Camp Kotabaru: Kisah para Pewujud Mimpi Mengabdi untuk Negeri” yang diterbitkan secara independen oleh KSM Eka Prasetya Universitas Indonesia. Namun, kali ini aku tulis lagi dengan beberapa perubahan.

Tanggal 12 Agustus 2015, itulah awal perjalananku ke Kalimantan Selatan dalam rangka penelitian Research Camp dari Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya, sebuah UKM yang aku ikuti di kampus. Sebenarnya kegiatan penelitian dimulai tanggal 18, namun beberapa dari kami datang sebelum acara sebagai tim advance dari acara ini. Berhubung rumahku juga masih di Pulau Kalimantan dan memang nggak ada kegiatan sebelum RC, akhirnya aku ditunjuk jadi salah satu anggota tim advance, padahal naik bus dari rumah hingga ke Banjarmasin itu pun habis waktu 24 jam. Entah karena infrastruktur di Kalimantan yang masih kurang baik atau karena saking luasnya Indonesia ini. Hari itu tanggal 12 Agustus, aku bertemu dengan Nugi, Tri, dan Kak Safira di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.

11870894_10205915838508235_377608309110322911_n
Tri, Aku, Kak Safira, dan Nugi di Bandar Udara Syamsudin Noor, Kota Banjarmasin.

Selama periode advance dari tanggal 12 hingga kedatangan teman-teman kami di tanggal 18, kegiatan harian kami adalah mendatangi kantor-kantor lembaga terkait untuk meminta perizinan untuk penelitian dan memohon kesediaan pemerintah setempat untuk menerima kedatangan rombongan kami, serta menyelesaikan berbagai masalah teknis. Selama di Banjarmasin, kami berempat menginap di rumah teman Ibu Kak Safira dan diantar oleh anak teman Ibu Kak Safira yang namanya Kak Ajai. Ibu Kak Safira punya teman banyak di Banjarmasin, karena dulu sempat menghabiskan masa SMP-nya di Banjarmasin. Selain itu, kami juga tertolong terkait komunikasi dengan masyarakat setempat karena ada Nugi yang asli Banjar. Proses perizinan kami untuk melakukan penelitian bisa dibilang gampang-gampang susah, karena terkadang pejabat pemerintah yang bertanggung jawab untuk suatu hal sedang tidak ada di tempat dan letak kantor Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan yang sekarang terpusat di Banjarbaru sehingga cukup jauh untuk diakses. Aku sulit membayangkan bagaimana kerepotannya kami jika tak ada bantuan dari Kak Ajai.

Selain ke kantor-kantor, kami juga sempat pergi ke Bekantan Ecotour di Pulau Bakut yang terletak tepat di bawah Jembatan Sungai Barito. Ada alasan mengapa kami perlu datang ke tempat ini. General advisor dari Bekantan Ecotour ini adalah Pak Zulfa, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalsel yang juga bertanggung jawab mengenai masalah perikanan. Dari beliaulah kami memperoleh kemudahan yang membuat kami tak perlu melalui birokrasi yang panjang selama kami mengatur perizinan untuk penelitian RC ini. Pak Zulfa merupakan teman dari H. Ridha, teman ibu Kak Safira yang juga ayah dari Kak Ajai yang telah dengan baik hati mengantar kami selama di Banjarmasin. Wisata Bekantan Ecotour ini rencananya akan dijadikan destinasi terakhir kami sebelum kembali ke Jakarta pada tanggal 27 Agustus. Tempat ini unik, karena penangkarannya terletak tidak jauh dari rumah masyarakat, namun tetap dengan suasana alaminya. Kami mengelilingi Pulau Bakut dengan menaiki sebuah speedboat. Bekantan di zaman sekarang sudah menjadi spesies langka, bahkan di pulau ini pun populasinya tidak sampai 50, dan hanya muncul sesekali ketika kami mengelilingi pulau tersebut. Karena waktu yang terbatas, kami tak sempat untuk masuk dan menginjakkan kaki di pulau tersebut.

11873626_10205915938590737_3568533338390472295_n
Suasana sunset di Pantai Siring Laut, Kab. Kotabaru
11227953_10205915854188627_8485428469441336416_n
Di depan masjid kompleks makam Guru Sekumpul di Kab. Martapura.

Tanggal 15 Agustus, kami akhirnya pergi ke Kotabaru. Kotabaru terletak di pulau yang berbeda dengan Kalimantan. Pulau tersebut bernama Pulau Laut, dan untuk mencapainya kami harus menyeberang menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Batulicin ke Pelabuhan Tanjungserdang. Perjalanan dari Banjarmasin menuju ke Kotabaru memakan waktu sekitar 9 jam menggunakan bus, waktu yang cukup lama untuk perjalanan dalam satu provinsi. Padahal Provinsi Kalimantan Selatan ini adalah provinsi yang paling kecil di Pulau Kalimantan, namun perjalanan antarkotanya sendiri masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebagai orang asal Kalimantan juga, aku merasa hal ini telah menjadi masalah yang belum ada solusinya sampai saat ini, yaitu untuk menjadikan transportasi menjadi lebih murah, cepat, dan nyaman.

Pertama kali melihat Kotabaru, hal pertama yang terpikir olehku adalah bahwa tempat ini sangat mirip dengan kampung halamanku, Bontang. Yang pertama adalah dari segi keberagaman penduduknya. Jika kota lain di Provinsi Kalimantan Selatan didominasi oleh masyarakat Banjar sebagai penduduknya, maka berbeda halnya dengan Kotabaru. Di Kotabaru, kita dapat menemukan penduduk dari berbagai asal dan latar belakang yang berbeda-beda hidup bersama. Para pedagang disini misalnya, banyak yang berasal dari Jawa. Lalu jika kita mencoba pergi ke daerah pinggiran sekitar pantai, akan kita temukan banyak orang beretnis Bugis dan Makassar. Yang kedua adalah melimpahnya Kotabaru dengan sumberdaya lautnya. Hal ini pula yang membuat kami menjadikan Kotabaru sebagai tempat kami melakukan penelitian Research Camp 2015 ini. Letak Kotabaru yang tepat di tengah-tengah jalur perairan Indonesia menjadikannya sebagai tempat yang strategis untuk dijadikan poros maritim Indonesia.

Jika di Banjarmasin kami dapat bantuan dari Pak Zulfa, maka di Kotabaru kami mendapat bantuan dari Pak Syaiful. Beliau adalah anggota DPRD Kabupaten Kotabaru, dan menangani masalah perikanan juga. Oleh Pak Syaiful, kami diperkenalkan dengan Pak Sabirin yang merupakan tokoh masyarakat di Kotabaru. Pak Sabirin kemudian membawa kami ke dua desa yang menurutnya potensial untuk dijadikan tempat penelitian kami. Yang pertama adalah Desa Sarangtiung yang terletak di sebelah utara pulau. Di Desa Sarangtiung, kami langsung dikenalkan dengan Mas Hendra yang merupakan salah satu warga disana. Mas Hendra ini dulunya nelayan, namun akhirnya memutuskan untuk beralih profesi menjadi karyawan di sebuah perusahaan finance yang memiliki cabang di Kotabaru. Setelah dari Desa Sarangtiung, kami dibawa oleh Pak Sabirin ke Desa Rampa Baru tempat beliau tinggal yang merupakan tempat perkampungan nelayan juga. Jika ingin dibandingkan, perkampungan nelayan di Desa Sarangtiung dan Rampa Baru sedikit berbeda. Jika di Desa Sarangtiung perkampungan nelayan dibangun di daerah pinggir pantai, maka di Desa Rampa Baru perkampungan nelayannya dibangun di atas kayu yang ditancapkan ke dasar laut. Perkampungan Desa Rampa Baru mirip dengan Perkampungan Bontang Kuala di kampung halamanku, kurasa ini memang merupakan ciri khas perkampungan masyarakat nelayan dari Sulawesi.

Pada akhirnya kami memutuskan untuk memilih Desa Sarangtiung sebagai tempat penelitian kami karena dipandang tempat tersebut lebih memenuhi kriteria dalam research design yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok. Untuk tempat tinggal kami selama di Desa Sarangtiung, alhamdulillah ada seorang nelayan yang bersedia rumahnya dijadikan basecamp kami. Beliau adalah Pak Amir beserta istrinya, Ibu Hamidah. Beliau berdua bisa dibilang baik sekali pada kami karena bersedia menampung kami ketika kampungnya sedang mengalami kesulitan baik keuangan, pangan, maupun air. Oh iya, diantara para nelayan dikenal yang namanya musim tenggara, itu adalah musim ketika ikan sedang sangat jarang muncul. Pokoknya pendapatan nelayan menurun drastis karena jumlah ikan tangkapan yang turun. Dan kebetulannya, kedatangan kami ke Kotabaru bertepatan dengan paceklik bagi para nelayan ini sehingga apa yang dilakukan oleh Pak Amir dan Ibu Hamidah ini bisa dibilang adalah suatu pengorbanan besar!

11988757_10206024482464266_4156713926725917553_n
Bersama Pak Amir dan putrinya, nelayan bagan yang bersedia menampung kami di Desa Sarangtiung, Kab. Kotabaru.

Tanggal 18 Agustus 2015, akhirnya rombongan pertama research team datang ke Kalimantan Selatan dan dimulailah penelitian kami. Aku masuk ke dalam kelompok 4, namun tidak semua anggota dari kelompok 4 hadir. Untuk beberapa hari pertama ini aku hanya bertiga dengan Kak Safira dan Kak Lili, sedangkan Kak Zofa akan menyusul bersama rombongan kedua yang akan datang di tanggal 22 Agustus.

Kegiatan penelitian ini bisa dibilang gampang-gampang sulit. Proses mengumpulkan data tidak selalu mudah, karena kami perlu menemukan responden yang sesuai dengan kebutuhan kami. Pada awalnya, kelompok 4 berencana meneliti nelayan yang memiliki pekerjaan lain di samping pekerjaannya sebagai nelayan yang disebut juga sebagai nelayan sambilan. Hanya saja kenyataannya di lapangan, nelayan yang memiliki profesi selain pekerjaan nelayan sangat jarang ditemui. Akhirnya kami putuskan untuk mengubah judul penelitian kami, dari yang tadinya berfokus pada pendapatan nelayan sambilan dan penuh menjadi analisis pendapatan nelayan antara musim ramai dan musim sepi (tenggara). Kami mengusahakan agar sebisa mungkin kami tetap bisa melakukan penelitian dengan data yang sudah didapat. Hal lain yang menjadi kendala selama melakukan penelitian adalah transportasi. Desa Sarangtiung terdiri dari 10 RT dan jarak antar RT tersebut cukup jauh untuk dicapai tanpa menggunakan kendaraan.

Kegiatan penelitian kami berakhir di tanggal 26 Agustus 2015, ketika kami mempresentasikan hasil penelitian kami selama kurang lebih seminggu di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotabaru. Respon dari orang-orang pemerintahan cukup beragam terhadap data yang kami tampilkan. Kalau menurut pendapat pribadiku sendiri, masih banyak yang perlu diperbaiki dari hasil penelitian kami dan memang waktu yang hanya seminggu terlalu singkat untuk melakukan penelitian. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tentu kami perlu waktu yang lebih lama dalam melakukan penelitian dan data yang diambil tidak hanya dari satu desa saja, namun juga dari seantero Pulau Laut. Sayangnya kami terkendala oleh waktu dan jarak.

Ada beberapa pelajaran berharga yang aku dapatkan selama kegiatan research camp ini. Yang pertama, tentu saja belajar bagaimana melakukan sebuah penelitian. Belajar memahami bahwa terkadang kondisi di lapangan tidak selalu sesuai dengan kondisi ideal yang kita pelajari lewat buku atau internet. Bahwa kita perlu mengambil langkah cepat untuk menyesuaikan penelitian dengan kondisi di masyarakat dengan waktu yang terbatas.

Yang kedua, merasakan bagaimana hidup di masyarakat yang kondisi kehidupan sehari-harinya terbatas dan jauh dari teknologi. Kita jadi tahu bahwa di perkampungan nelayan, mereka seringkali tidak mendapatkan ikan di musim tenggara dan sering kesulitan mendapatkan air bersih.

Yang ketiga, adalah kerjasama tim. Untuk melakukan penelitian tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu bekerjasama dengan rekan kerja dan saling membantu ketika dalam kesulitan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s