Belajar di Luar vs Belajar di Kelas

Suatu ketika ada seorang teman bertanya padaku, “Kenapa suatu ilmu itu lebih menyenangkan buat dipelajari ketika nggak menjadi mata kuliah ya?”

Ketika itu, aku mencoba menjawab dengan jawaban sederhana, “Mungkin karena nggak ada beban SKS-nya, jadi belajarnya bisa suka-suka.”

Setelah dipikir-pikir begitu lama, rasanya memang benar seperti itu kenyataannya. Di semester 2 di perkuliahan saya, ada mata kuliah yang namanya Sejarah Sosial Budaya Belanda. Mata kuliah ini mempelajari tentang sejarah, perubahan struktur masyarakat, dan asal usul Negeri Tanah Rendah (Daerah yang sekarang adalah Belanda, Belgia, dan Luxembourg dulunya disebut dengan Negeri Tanah Rendah atau Nederlanden) dari sejak masa prasejarah, Kerajaan Romawi, Dinasti Merovingen dan Karolingen, Dinasti Burghoundia, Masa Oranje-Nassau, Pendudukan Prancis pasca Revolusi Prancis, Pemberontakan Belgia yang berujung pada kemerdekaannya pada 1839, hingga Belanda modern.

Ketika itu, mata kuliah tersebut cukup menyita pikiran. Karena aku sedang banyak kegiatan organisasi dan banyak tugas paper untuk mata kuliah tersebut. Jadinya belajarnya pun setengah-setengah dan ilmunya kurang masuk, walaupun masih lulus dengan nilai A-.

Namun, di semester 5 ada sebuah mata kuliah yang namanya Hubungan Indonesia-Belanda A. Kebetulan mata kuliah ini memiliki kaitan yang besar dengan mata kuliah Sejarah Sosial Budaya Belanda di semester 2 tersebut. Sehingga otomatis saya perlu mematangkan kembali konsep-konsep yang dulu pernah saya pelajari. Anehnya adalah, di kali kedua ini bebannya tidak terasa seberat yang dulu walaupun materinya nggak banyak yang nyantol pasca semester 2 itu. Ketika mencoba baca-baca materinya lagi, bahkan cenderung lebih terasa seperti membaca novel sehari-hari.

Ada dua hipotesis yang ingin saya tawarkan.

Kemungkinan pertamanya, adalah saya sudah mengalami level up seperti ketika bermain game. Artinya materi itu secara nggak sengaja sudah tersimpan di subconscious mind (ingatan bawah sadar) saya selama kegiatan belajar di semester 2 lalu. Dan ketika disuguhkan dengan materi baru, memori yang tersimpan di alam bawah sadar itu terpanggil kembali.

Kemungkinan keduanya, adalah karena nggak adanya lagi beban SKS seperti sebelumnya, jadi nggak ada kewajiban untuk mendapatkan nilai. Belajarnya pun lebih santai karena tanpa beban sehingga lebih mudah masuk ke otak. Ibaratnya ketika kita menganggap sesuatu itu membebani kita, kita akan lebih susah untuk menerimanya dibandingkan ketika kita menerimanya dengan suka cita (duh bahasanya).

Yang manapun yang benar, saya rasa hipotesis kedua lebih berterima karena nggak adanya paksaan. Pernah nyoba ngebayangin novel Frankenstein jadi bahan buat diskusi di kelas dan harus kalian lahap sampai habis dalam waktu kurang dari tiga hari? Coba bandingkan ketika kalian bebas membacanya dalam waktu sebulan penuh di waktu luang kalian. Mungkin feel-nya akan berbeda.

Atau mungkin kamu punya pendapat lain soal “belajar menjadi beban” ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s