Panic at the Disco! – Ketika sedang Panik

Cerita ini sebelumnya sudah sempat saya bahas garis besarnya pada tulisan Summer Enrichment Programme – University of Malaya (UM), Malaysia, namun kali ini saya ingin membahasnya dari perspektif yang sedikit berbeda.

Jika melihat sebentar ke kaleidoskop peristiwa yang terjadi tahun lalu, ada satu peristiwa besar yang terjadi di tanggal 14 Januari 2016. Di hari itu, saya sedang menjadi musafir yang melakukan perjalanan dari Bontang dengan tujuan hendak menuju ke Depok. Dengan begitu, saya perlu menempuh penerbangan dari Balikpapan menuju Jakarta. Saat itu, pesawat saya keberangkatannya masih pukul 16.35 WITA dari Bandara Sepinggan Balikpapan dan waktu baru menunjukkan pukul 11.20 WITA ketika saya sampai di bandara.

13388708_1304894116207126_758378361_n
Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, bandar udara utama di Provinsi Kalimantan Timur

Hampir lima jam menunggu tentunya banyak hal yang bisa dilakukan. Yang pertama, adalah mengecek berita utama di hari itu. Ternyata pada hari itu terjadi peristiwa pengeboman Gedung Sarinah di Jalan MH Thamrin Jakarta. Pengeboman tersebut diduga didalangi oleh kelompok yang menamakan dirinya dengan ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria. Hal itu cukup membuat orang-orang yang hendak bepergian ke Jakarta di hari itu menjadi was-was. Termasuk juga saya ketika itu.

Lalu apa yang  perlu dilakukan ketika was-was dan mendengar pemberitaan yang simpang siur?

Di hari itu, banyak beredar jarkom dan pemberitaan yang kurang jelas seperti akan adanya pengeboman susulan yang akan terjadi di beberapa titik lain di Jakarta dan adanya dampak pengeboman pada investasi serta nilai tukar rupiah. Mungkin masih banyak lagi selain itu. Menghadapi berita yang kurang dapat dipertanggungjawabkan asal usulnya seperti ini, yang perlu kita lakukan adalah mencoba mengklarifikasi kebenarannya.

Yang pertama adalah dengan mencoba menanyakan langsung kepada pihak-pihak atau orang yang sedang berada di dekat titik kejadian. Misalnya ketika itu saya berniat untuk menuju ke Terminal Pasar Minggu dulu sebelum menuju Depok, maka saya perlu memastikan rute dari Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Pasar Minggu pada hari itu aman dengan cara menanyakan pada teman atau kenalan saya yang bertempat tinggal atau sedang berada di sekitar rute tersebut.

Yang kedua adalah mencoba mengklarifikasi sendiri kebenarannya dengan membandingkan pemberitaan atau jarkom dari beberapa sumber. Pemberitaan yang salah biasanya adalah pemberitaan yang cenderung mendekati dua kutub ekstrim, antara terlalu impossible atau too good to be true. Biasanya pada beberapa pemberitaan atau jarkom yang rawan seperti itu akan ada beberapa kontradiksi satu sama lain yang bisa kita tarik kesimpulan dari dalamnya.

Dan terakhir, cobalah untuk rileks dan alihkan pikiran Anda pada hal lain yang menarik yang ada di sekitar Anda. Ketika itu saya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama seorang bapak asal Jepara yang ketika itu sedang menunggu juga penerbangannya menuju Semarang. Tiga jam lebih saya habiskan mengobrol dengan bapak itu mengenai pekerjaannya sebagai pembuat kerajinan mebel.

Sehingga ketika akhirnya petugas check in bandara berkata, “Jakarta ya?”, sambil tertawa kecil, saya bisa membalasnya dengan senyum ringkas. Ya, jangan panik dan cobalah untuk mencari solusi ketika hal yang kurang diinginkan menimpa Anda. Selamat berakhir pekan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s