Surat untuk Diriku 10 Tahun Lagi

Selamat pagi diriku,

Apakah engkau masih hidup? Kuharap kau telah menuntaskan semua rencana mati mudamu itu dengan menaruhnya bersama kenangan-kenangan lain dalam peti masa lalu. Walaupun Neil Young bilang “It’s better to burn out than to fade away” (‘Lebih baik terbakar habis daripada memudar’) dan Pete Townshend mengatakan “Hope I die before get old” (‘Kuharap aku mati sebelum menua’), kenyataannya keduanya masih hidup hingga sekarang dengan keriput di wajahnya. Kau harus belajar untuk lebih menikmati momen masa kini dan melupakan sejenak apa yang akan terjadi dan telah terjadi, karena keduanya sungguh takkan memberi pengaruh yang signifikan dalam kehidupanmu.

Bersama dengan surat ini kuharap dirimu sehat selalu dan bahagia dalam menjalani hidup. Apakah 10 tahun terasa lama bagimu? Kurasa tidak, karena waktu adalah sebuah konsep yang diciptakan oleh manusia untuk menjelaskan perbedaan antara pagi dengan sore dan antara siang dengan malam. Seiring bertambah tuanya dirimu, mungkin kau akan merasakan kejadian-kejadian yang telah engkau alami di masa lampau bagaikan baru saja terjadi di hari kemarin. Sepertinya itulah yang dinamakan dengan ‘kematangan’ atau ‘kedewasaan’, kau mulai belajar menerima segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu baik ataupun buruk itu dan mencoba menarik garis kesimpulan dari sebab akibatnya.

Apa penyakit umat manusia di zamanmu masih sama dengan zamanku? Sekarang rasanya hampir mustahil untuk menghindari layar 5 inci yang membuatmu memandanginya sepanjang hari, sampai-sampai mengabaikan apa yang sedang ada di hadapanmu. Oh Tuhan, aku hanya ingin bisa bercakap-cakap biasa saja dengan orang-orang yang ada di hadapanku. Karena… mengabaikan orang itu bukan sesuatu yang baik bukan? Namun, yang jadi masalah adalah bagaimana jika orang yang ingin kau ajak berbicara itu berada ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya dari dirimu? Mungkinkah kita bisa mencoba kembali seperti 50 tahun lalu? Mengirimkan kartu pos atau surat yang dibumbui perangko khas di tahun itu dan foto-foto yang diambil dengan sukacita. Kurasa tukang pos di zamanmu tentu lebih kreatif, karena di zaman sekarang pun mereka memiliki banyak tantangan.

Aku harap kau tidak lupa pada mimpi kita untuk menulis otobiografi. Kau paham kan kenapa otobiografi penting? Orang bilang kesuksesan dari suatu acara pasti punya indikator, begitu pula dengan hidup. Bagiku indikator dari kesuksesan hidup adalah menerbitkan sebuah otobiogtafi yang bagus, karena dengan begitu pastinya hidupmu telah memberi banyak manfaat bagi orang lain hingga kau berani untuk menerbitkannya. Walaupun begitu, kau tak perlu bersusah payah hingga berpikir harus jadi sukses dan menulis otobiografi, karena setiap orang memiliki fasenya tersendiri. Ada orang-orang yang diberi berkah sehingga bisa melakukan suatu hal dengan cepat, namun ada juga yang memerlukan waktu tertentu sambil beradaptasi. Yang terpenting adalah kau bahagia melakukannya dan dirimu serta orang lain mampu menghargai pilihan yang telah kau buat itu.

Kurasa akan kusambung lagi suratku ini di lain waktu. Salam pada istri dan anak-anakmu ya!

Sincerely Yours,

(Mr. Yaba Geophagous Argonaut)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s