Dirimu

Aku selalu bertanya-tanya tentang apa yang membuat seseorang jatuh cinta kepada orang lain. Dalam Islam, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah mengatakan bahwa seorang wanita itu dinikahi karena empat hal: kecantikannya, keturunannya, kekayaannya, dan agamanya. Kecantikan akan memudar seiring berjalannya waktu, karena manusia akan terus bertambah tua dan dipenuhi keriput di kemudian hari. Keturunan dan kekayaan juga tidak abadi, karena harta dan takhta adalah hal-hal yang dapat sewaktu-waktu menghilang karena mereka adalah titipan-Nya. Lalu bagaimana dengan agama? Memang, agama adalah suatu titik absolut yang tak dapat diganggu gugat lagi.  Namun, kurasa ada rahasia yang lebih dalam ketika kita jatuh cinta dan aku ingin membahasnya dari sisi lain.

Aku yakin kalian semua pernah melihat cermin. Benar, cermin adalah suatu benda mudah pecah yang memantulkan segala sesuatu yang ada di hadapannya (kecuali mata basilisk, mungkin). Apa yang kita lihat ketika memandang ke cermin? Di sana mungkin ada wajah kita, dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita ketika itu. Seperti apa pun bentuk atau rupa dari wajah kita, sepertinya setiap orang akan belajar untuk menghargainya. Sebelum pergi ke pesta, ada orang-orang yang akan menghabiskan waktu bermenit-menit atau bahkan berjam-jam untuk menemukan sisi yang indah dari wajahnya, kemudian menghiasinya agar tampil seindah mungkin. Walaupun terkadang, justru wajah itu akan kelihatan lebih baik jika dibiarkan apa adanya tanpa tambahan apa pun.

Begitu pula ketika seorang manusia jatuh cinta. Kepada siapa kita jatuh cinta, maka ialah cermin kita yang memantulkan apa yang menjadi nilai terpenting dari diri kita. Sekilas kita akan sadar, bahwa yang sebenarnya kita cintai bukanlah orang tersebut. Akan tetapi, yang kita cintai adalah potongan-potongan kecil dari diri kita  yang ada pada diri orang tersebut. Ada suatu bahasa universal yang hanya bisa dipahami oleh kita dan kepada siapa kita jatuh cinta tersebut.

Sayangnya banyak dari manusia yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk berdandan. Mereka menghabiskan waktu begitu lama untuk berusaha menghias pasangannya. Tak sadar, bahwa apa yang sedang mereka lakukan itu ada di luar batas kewajaran dan membawa hasil yang justru lebih buruk. Waktu berjam-jam yang dihabiskan itu, justru membawa mereka ke arah yang jauh lebih buruk. Karena secara genetik, tidak ada dua manusia yang benar-benar sama persis. Namun, mereka masih tetap dapat mempertahankan bahasa universal yang hanya dapat dimengerti oleh mereka berdua.

Kepada siapa kamu jatuh cinta: DIRIMU. Dirimu yang ada pada diri orang lain. Kau begitu sibuk mengejarnya hingga tak sadar bahwa yang kau kejar-kejar selama ini adalah dirimu sendiri. Karena itu, berbahagialah. Karena kini kau sudah tahu tentang apa dan siapa yang selalu engkau kejar hingga dirimu lupa akan tujuan awalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s