Penyesalan Terbesarku

Sebagai refleksi di awal tahun dan menyambut tahun terakhir perkuliahan, aku ingin sedikit bercerita kembali tentang salah satu hal yang menjadi penyesalan terbesarku dan salah satu pengambilan keputusan terpenting dalam 21 tahun kehidupanku.

Jika ada satu hal yang masih menjadi salah satu penyesalan terbesarku adalah tentang pemilihan jurusan kuliah ketika masih kelas 12 SMA. Ketika itu, yang terpikir olehku adalah ingin menjadi sesuatu yang superior di mata teman-teman seangkatan maupun lingkungan sosial di sekitar rumahku. Di Bontang, kampung halamanku, masih sedikit jumlah lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Pulau Jawa bagian barat seperti ITB, Unpad, UI, dan IPB. Dan aku melihat ITB sebagai tantangan yang paling memenuhi hasrat seorang anak kelas 12 IPA. Hal tersebut yang membuatku kemudian memilih ITB sebagai tujuanku, baik di jalur SNMPTN (yang aku gagal di dalamnya karena kurang seriusnya aku belajar ketika di kelas 11) maupun jalur SBMPTN di tahun 2013.

Di tanggal 8 Juli 2013, aku dinyatakan diterima di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) lewat jalur SBMPTN. Dan ketika itu, dari sekolahku ada lima orang yang diterima di ITB. Satu dari jalur SNMPTN dan 4 sisanya dari SBMPTN. Perasaanku ketika itu tentu saja bahagia, bocah kemarin sore yang baru saja lulus SMA dan belum mengenal dunia. Sayangnya kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa bulan. Bukan hal yang mudah untuk bisa survive di ITB dengan pengetahuan IPA semasa SMA-ku yang amburadul, karena aku baru mulai belajar serius di akhir-akhir semester 1 kelas 12. Apalagi ketika itu, aku hanya mahasiswa yang bisa dibilang berkuliah tanpa tujuan hidup yang jelas. Hasilnya adalah depresi dan penyesalan berkepanjangan.

Di satu sisi, aku merasa kalau bertahan adalah hal yang sulit. Indeks Prestasiku pada masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) semester 1 adalah 2.0 dengan satu nilai D untuk mata kuliah Matematika IB (Kalkulus mulai tahun 2013 diganti namanya dengan Matematika). Tak perlu kusebutkan nilaiku di semester 2, kurasa kalau aku memilih untuk melanjutkan studiku, hasilnya mungkin aku akan lulus dengan sangat terlambat, IPK 2 sekian, dan case terburuknya adalah drop out. Padahal masa TPB di ITB itu menurut penuturan mahasiswa tingkat atas di sana adalah masa-masa yang katanya lebih mudah karena pelajarannya masih mirip SMA (katanya SMA kelas 4) dan masa adaptasi sebelum pelajaran yang lebih advance. Di sisi lain, aku juga merasa sayang untuk meninggalkan kursiku di ITB tersebut karena tentunya banyak orang yang menginginkan untuk berada di posisiku itu, bahkan beberapa dari mereka orang-orang yang pernah kukenal dekat. Untuk berada di kursi tersebut, aku perlu menyingkirkan 17 orang lain di jalur SBMPTN.

Yang ingin kusorot di sini bukanlah kegagalan belajarku di ITB, namun kurangnya aku dalam mengenal diri ketika masih di SMA. Ketika itu, aku masih belum benar-benar mengetahui hal yang benar-benar ingin kulakukan dalam hidup. Aku masih terkungkung oleh cangkang yang diciptakan oleh hal-hal yang ada di sekitarku, hanya mengikuti alur apa yang baik menurut masyarakat. Pelajaran mengenal diri inilah yang menurutku penting sebelum kita bisa menentukan langkah lebih lanjut dalam kehidupan. Tentu kita tidak bisa berhenti dalam waktu yang lama untuk belajar mengenal diri, tapi hal ini harus dilakukan secara kontinyu sembari kita melakukan aktivitas yang lain. Aku baru belajar mengenal diri ketika sudah berstatus mahasiswa semester 2 di ITB, tepatnya di Bulan Februari 2014. Terlambat? Mungkin iya, tapi bagiku tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sahabatku. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Proses mengenal diri ini butuh waktu. Terkadang ketika kita berpikir bahwa kita sudah benar-benar mengenal diri kita sekalipun, ada banyak kemungkinan kalau kita akan berubah pikiran setelah bertemu dengan orang baru atau menemukan hal-hal baru. Ketika itu, aku baru menyadari minatku pada bidang sastra setelah aku sukses menamatkan novel Frankenstein karya Mary Shelley yang hanya kubaca diam-diam pada kuliah Fisika Dasar IIB. Dan aku pun baru menyadari semasa SMA, mata pelajaran yang nilainya paling bagus di rapor milikku adalah tiga mata pelajaran bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang). Karena itu di SBMPTN 2014, aku memilih Sastra Belanda di Universitas Indonesia sebagai prioritas utamaku (walaupun di pilihan satu aku letakkan Manajemen, tapi aku lebih berharap diterima di Sasbel).

Aku memilih UI karena mengetahui reputasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI yang melahirkan banyak pakar-pakar di bidang ini. Selain itu, UI di Depok lebih dekat daripada Jogja jika aku memilih untuk pindah domisili. Dan aku memilih Belanda, karena negara kecil yang pernah menjajah Indonesia ini benar-benar menarik perhatianku dengan banyaknya pengaruh mereka di Indonesia pada masa VOC dan masa kolonialisme. Aku yakin ahli dalam Bahasa Belanda akan selalu dibutuhkan paling tidak sampai 50 tahun ke depan karena banyaknya dokumen-dokumen dalam Bahasa Belanda mengenai sejarah Indonesia dan Nusantara yang masih belum diteliti (panjangnya 30 kilometer jika diratakan di jalan menurut penuturan dosenku). Selain itu, jurusan Sastra Belanda ini hanya ada di UI.

Pindah kuliah ini bukan masalah yang mudah. Aku harus berpisah dengan teman-teman di Bandung, serta hijrah ke Depok. Kemudian membiasakan berinteraksi dengan menggunakan ‘gue’ dan ‘lu’ yang sudah terlatih sedikit ketika di Bandung. Lalu pelajaran kuliahnya juga bukan berarti menjadi lebih mudah, karena tantangan di setiap tempat itu akan selalu ada dengan wujud yang berbeda-beda. Yang paling berat bagiku adalah belajar bareng orang-orang yang dulunya adik kelas di SMA! Kebetulan ketika aku menjadi mahasiswa baru di UI, ada 2 orang adik kelasku yang juga diterima di FIB. Keduanya berbeda jurusan denganku. Yang pertama namanya Velda di Sastra Prancis, dan satu lagi namanya Clarisca di Bahasa dan Kebudayaan Korea. Bahkan, aku sempat sekelas dengan Velda di mata kuliah Pengantar Filsafat dan Pemikiran Modern di semester 3 lalu. Lucunya adalah justru mereka malah jadi teman ketika di sini.

Pada akhirnya aku menikmati masa belajarku di UI. Aku bisa lebih mengeksplorasi diri, mengikuti kegiatan-kegiatan yang dulunya tak pernah kuimpikan untuk kuikuti. Selama di UI, sudah beberapa konferensi kepemudaan kuikuti baik di tingkat nasional maupun internasional, membuat proyek sosial bersama beberapa teman yang sevisi, serta melakukan penelitian lapangan ke Kalimantan Selatan dan Riau bersama teman-teman dari Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya UI. Selain itu, aku juga bertemu dengan orang-orang yang sepertinya tidak akan kutemui jika aku tak berkuliah di UI (kelak akan kuceritakan lebih detail). Ada banyak hal yang ingin kusyukuri dengan kepindahan kuliahku.

Namun, yang masih menjadi penyesalanku adalah setahunku di ITB, serta mungkin banyaknya orang yang terluka karena keputusanku. Aku tidak akan mengatakan kalau itu adalah setahun yang sia-sia, karena aku juga belajar banyak dari teman-teman dan dosen-dosen di ITB. Dan mungkin aku tak akan bisa menjadi diriku yang sekarang tanpa melalui proses itu, karena diriku yang sekarang adalah proses konstruksi dari diriku di masa lampau yang tentunya memasukkan juga diriku yang di ITB tersebut. Akan tetapi, jika bisa menemui diriku yang masih kelas 12 SMA, aku akan mengatakan pada dirinya untuk tak perlu memaksakan diri untuk bisa berkuliah di ITB, mencoba untuk belajar lebih mengenal dirinya, dan melakukan hal-hal yang akan membuatnya bahagia di masa depan nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s