Lobi dan Negosiasi

Suatu ketika, Iman datang ke ruangan bosnya di kantor. Ketika itu, bosnya sedang sibuk menelepon kolega bisnisnya yang lain dan tidak serta merta menyadari kehadiran Iman di ruangan tersebut. Sekilas Iman menyadari kalau bosnya hendak berjalan meninggalkan ruangan ketika ia meraih tas tentengnya sembari melanjutkan kegiatan meneleponnya. Sesaat setelah menutup teleponnya, bosnya bertanya pada Iman, “Ada perlu apa Iman? Bisa tolong dipercepat karena saya sedang terburu-buru?” Iman yang memang merasa tidak sabar karena sudah menunggu sejak 10 menit yang lalu dan melihat bosnya yang sudah buru-buru akhirnya mengungkapkan keinginannya dengan to the point, “Saya sudah lama ingin naik gaji Pak, bisa tolong segera?” Kontan saja, bosnya yang sedang diburu urusan lain tidak sempat bersimpati dan mendengarkan keluh kesah Iman. “Maaf saya sedang buru-buru, kita bicarakan lain kali ya.”

Dari cerita di atas, kita bisa lihat beberapa kesalahan yang diperbuat Iman ketika berusaha memperjuangkan keinginannya di depan bosnya. PERTAMA, Iman kurang mengetahui jadwal bosnya sehingga ia berkunjung ke ruang bosnya di waktu yang tepat. Padahal bisa saja sebelumnya ia mendatangi sekretaris bosnya terlebih dahulu sehingga Iman tahu jadwal yang lebih baik untuk berdiskusi dengann bosnya. KEDUA, argumen yang dipaparkan Iman kurang kuat. Karena tentu saja waktu yang terbatas untuk berbicara dengan bosnya. Masih belum ada timbal balik yang jelas yang bisa dijelaskan oleh Iman sebagai alasan bagi bosnya atau perusahaan untuk menaikkan gajinya.

Jadi apa sebenarnya yang kurang dari Iman yang menyebabkannya gagal meraih simpati bosnya untuk menaikkan gajinya?

Ketika berusaha memperjuangkan hal yang menjadi keinginan kita, terkadang tidak cukup jika kita hanya meminta saja. Ada hal-hal yang hanya dapat diselesaikan dengan uang, oke kita sebut bagian ini dengan bisnis. Lalu ada juga hal-hal yang dapat diselesaikan tanpa uang, kita sebut ini dengan belas kasih. Namun, ada hal-hal yang terletak di antara keduanya. Sesuatu yang terletak ‘di antara’ ini di keseharian seringkali kita lihat ada pada dimensi bisnis. Tetapi, dengan teknik yang dinamakan lobi dan negosiasi, ia akan dapat kita pindahkan ke dimensi belas kasih.

Dalam melakukan lobi dan negosiasi, perlu adanya give and take, ‘memberi dan meminta’. Seperti halnya Iman pada cerita di atas, ia meminta ‘kenaikan gaji’ kepada bosnya, tetapi belum memberikan atau menawarkan sesuatu yang bisa menjadi timbal baliknya kepada bosnya. Kali ini saya ingin bercerita sedikit dari pengalaman saya sendiri mengenai lobi dan negosiasi ini yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita di keseharian dan tidak hanya berlaku bagi pelaku bisnis dan diplomat saja. Cerita ini adalah pengalaman saya setelah ketinggalan pesawat di Bulan Agustus 2016 (lanjutan dari cerita Hello August – Part 2).

Sedikit prolog, hari itu, tanggal 25 Agustus 2016 saya ketinggalan pesawat menuju ke Yogyakarta dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta karena kebetulan saya juga baru terbang dari tempat lain beberapa jam sebelumnya dan sampai di waktu yang mepet. Ketika saya mencoba untuk check in di maskapai penerbangan yang bersangkutan (maskapai dengan kode penerbangan ID), ternyata sudah panggilan terakhir untuk penumpang dan tidak bisa check in lagi walaupun pesawatnya belum diberangkatkan (saat itu pukul 18.00 WIB, pesawat dijadwalkan berangkat pukul 18.20 WIB).

Kondisi saya saat itu adalah hanya memiliki uang cash Rp 100.000,00. Selain itu, saya tidak memiliki akses ke ATM karena beberapa hari sebelumnya dompet saya hilang dan buku tabungan saya pun ketika itu ada di Depok. Jika saya kembali dulu ke Depok dan mengambil uang menggunakan buku tabungan, paling cepat baru bisa keesokan paginya di jam 8 pagi. Padahal, saya harus berada di Kantor RRI Yogyakarta sebelum jam 9 besok pagi. Terakhir, saya ingin melalui ini semua tanpa merepotkan orangtua saya yang jauhnya 1400 kilometer dari posisi saya waktu itu.

Ketika petugas check in mengatakan kalau saya tidak bisa lagi melakukan check in dan tiket saya hangus, saya coba menanyakan opsi yang biasa diambil oleh penumpang di saat seperti ini. Ia hanya menyarankan agar saya pergi ke Customer Service dari maskapai tersebut dan menanyakan kebijakan yang berlaku, karena ia hanya mengetahui tugasnya sebagai petugas check in.

Sesampainya di Customer Service, saya coba menanyakan kebijakan yang berlaku untuk penumpang yang terlambat melakukan check in kepada petugas di sana. Pada awalnya jawabannya sederhana, “Untuk penumpang yang ketinggalan pesawat, tiketnya hangus Pak. Kami hanya memberi ganti 50% dari harga tiket awal dan penumpangnya harus membeli tiket baru. Dan untuk penerbangan besok pagi kebetulan sudah full book, Pak. Kalau Bapak mau, ada yang agak siang harganya 2 juta-an dari maskapai kami.”

Ketika itu, saya memiliki 2 pilihan: pulang ke Depok atau melakukan lobi ke maskapai ini demi mengikuti acara Gerakan Mari Berbagi yang sudah saya persiapkan sejak sebulan sebelumnya. Akhirnya saya putuskan untuk memperjuangkan pilihan kedua, dan melakukan lobi ke maskapai yang bersangkutan.

Hal pertama yang saya katakan kepada petugas dari maskapai penerbangan itu adalah kondisi saya saat itu yang sedang tidak memegang uang sama sekali dan baru saja kehilangan dompet di suatu tempat yang asing, serta masih berstatus mahasiswa yang kemampuan finansialnya terbatas. Intinya adalah di bagian pertama ini saya memberikan sedikit emphasize tentang mengapa saya membutuhkan bantuan mereka.

Hal kedua-nya adalah menjelaskan urgensi saya untuk tiba di Yogyakarta sebelum jam 9 keesokan paginya. Saya menjelaskan tentang pentingnya mengikuti acara tersebut yang sudah saya persiapkan dari sebulan sebelumnya. Selain itu, saya sedikit memberi kode secara implisit bahwa saya akan menggunakan jasa mereka lagi dan mempromosikannya ke kenalan-kenalan saya berhubung grup dari maskapai itu kini memiliki imej yang kurang baik di antara kenalan-kenalan dan teman-teman saya (sepertinya banyak berita yang berkata demikian juga).

Petugas di Customer Service itu kemudian menyuruh saya untuk menunggu, kemudian berjalan ke kantor atasannya. Ada sekitar 10-15 menit saya menunggu, sampai kemudian petugas itu kembali. “Jadi begini Pak, ini dari kesepakatan kita bersama saja. Kami memberikan ganti tiket ekonomi untuk penerbangan paling pagi besok. Pesawatnya berangkat jam 5.40 WIB dari Jakarta. Jadi Bapak bisa sampai tepat waktu di Yogya.”

Sesaat setelah mendengar hal itu, saya ingin mengepalkan tangan ke udara sambil berkata “YESSS!”, tapi ditahan karena tahu diri. Petugas itu segera menyelami kembali layar komputernya, mengetik-ngetik sesuatu, kemudian mencetak selembar kertas yang ada kode booking untuk penerbangan besok pagi itu. Setelah itu, saya pun berterima kasih kepada pihak maskapai tersebut karena penerbangan gratisnya. Padahal saya membeli tiket pada awalnya dengan harga 400 ribu-an (tiket yang hangus), sementara harga tiket pengganti tersebut jika ditaksir bisa mencapai 2 jutaan.

Jadi, untuk bisa memasuki dimensi di antara bisnis dan belas kasih tadi, kita perlu melakukan give and take yang kira-kira sesuai dengan memanfaatkan momentum yang tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s