Sedikit Cerita tentang Lagu Pergerakan Mahasiswa

Ini adalah tulisan yang mungkin akan sedikit kontroversial. (sok sokan)

demo-mahasiswa.jpg
Aksi Mahasiswa (sumber: arifnovianto.wordpress.com)

 

Setiap mahasiswa baru di setiap kampus di Indonesia pasti diwajibkan untuk menghafal beberapa lagu wajib ala mahasiswa, yang di kemudian hari jarang mereka nyanyikan. Kecuali bagi segelintir yang sudah biasa turun aksi. Mereka yang pernah atau sedang menjadi mahasiswa pasti akrab dengan lagu-lagu seperti Totalitas Perjuangan, Darah Juang, Buruh Tani, Hitam Putih, dan lain sebagainya.

Tulisan ini lahir dari rasa penasaran. Sejujurnya, saya juga ingin sedikit mempertanyakan sejarah penulisan lagu-lagu pergerakan mahasiswa tersebut. Asrama tempat saya tinggal kebetulan letaknya berdekatan dengan sebuah asrama militer TNI Angkatan Darat, jadi sudah hal biasa mendengar bunyi-bunyi musik ala militer. Tetapi, ada hal yang tak biasa hari ini. Karena salah satu lagu militer yang diputar itu memiliki nada yang mirip dengan lagu Hitam Putih.

Lagu militer yang saya dengar

Lagu Hitam Putih

Ketika membandingkan kedua hal tersebut, ada satu hal yang saya tangkap. Masa Orde Baru adalah masa yang sangat represif. Suatu masa ketika pergerakan mahasiswa sangat dibatasi, serta peran militer dalam mendukung pemerintahan sangat kuat. Saya rasa, mahasiswa pada masa itu menjadikan tentara yang mereka lihat di kesehariannya sebagai salah satu sumber referensi dalam pergerakan mereka. Termasuk dalam lagu-lagu pergerakan mereka.

Berikutnya, saya ingin menyodorkan suatu perbandingan antara sebuah teks terjemahan dari Buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 1 yang merupakan kumpulan tulisan dari Imam Hasan Al Banna yang merupakan pencetus Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dengan lagu Totalitas Perjuangan.

430392_615637711798531_947024949_n
Buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

 

Berikut ini adalah tulisan yang saya sadur dari Buku Risalah Pergerakan Jilid 1 Halaman 234 (selanjutnya disebut dengan Wacana 1):

IKHWANUL MUSLIMIN DI BAWAH NAUNGAN PANJI AL-QUR’AN

Kepada para pemuda

Yang merindu lahirnya kejayaan…

Kepada umat yang tengah

Kebingungan di persimpangan jalan…

Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya,

Yang telah menggoreskan catatan membanggakan

Di lembar sejarah umat manusia…

Kepada setiap muslim

Yang yakin akan masa depan dirinya

Sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan

Di kampung akhirat…

Kepada mereka semua kami persembahkan risalah ini.

 

Lalu yang berikutnya adalah lirik dari lagu Totalitas Perjuangan (selanjutnya disebut dengan Wacana 2, sumber bertebaran di internet silakan di-google sendiri):

Totalitas Perjuangan

Kepada para mahasiswa

Yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan

Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban

Yang telah menggoreskan

Sebuah catatan kebanggaan

Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Untuk negeri tercinta

Jika dilihat pada kedua wacana di atas ada beberapa kemiripan:

  1. Penggunaan kata “kepada para mahasiswa” (Wacana 2) dengan “kepada para pemuda” (Wacana 1). Kedua frasa tersebut bermakna vokatif atau bertujuan untuk mengajak orang untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, yang dituju adalah mahasiswa dan pemuda. Mahasiswa sudah pasti pemuda, namun pemuda belum pasti mahasiswa. Melalui konteks ini, kedua wacana di atas memiliki sasaran yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama.
  2. “Yang merindukan kejayaan” ada pada kedua wacana, namun dengan redaksi yang sedikit berbeda pada wacana pertama. Karena pada Wacana 1, ada kata “lahirnya” yang berarti kejayaan tersebut belum ada atau belum lahir. Saya rasa, para mahasiswa ingin menegaskan bahwa mereka ingin mengembalikan kejayaan Indonesia yang (dulunya) pernah ada lewat frasa tersebut.
  3. “Kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan” (Wacana 1) dengan “Kepada rakyat yang kebingungan// di persimpangan jalan” (Wacana 2). Dalam hal ini, saya rasa mahasiswa ingin menyasar jangkauan yang lebih luas, yaitu “rakyat” yang lebih bermakna umum.
  4. “Kepada pewaris peradaban// yang telah menggoreskan// sebuah catatan kebanggaan// di lembah sejarah manusia” (Wacana 2) dengan “Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya// Yang telah menggoreskan catatan membanggakan// Di lembar sejarah umat manusia…” (Wacana 1). Pada bagian ini tidak perlu diragukan lagi persamaan keduanya. Hanya ada satu frasa pembeda, yaitu “kaya raya” yang tidak ada pada wacana kedua. Sepertinya masih jarang dikenal ada mahasiswa yang kaya pada masa itu. Karena itu, kata “kaya raya” dihapuskan.
  5. Yang terakhir, persamaan dari kedua wacana ada pada kata “mempersembahkan” (Wacana 2) dan “persembahkan” (Wacana 1). Hanya saja, ada perbedaan dari objek yang dituju oleh kedua kata tersebut. Pada wacana pertama, yang menjadi tujuan dari “persembahkan” itu adalah pemuda muslim yang dideskripsikan sejak awal wacana. Sedangkan pada wacana kedua, “mempersembahkan” tersebut memiliki tujuan pada “negeri tercinta” yang dalam hal ini maksudnya adalah Republik Indonesia.

Melalui perbandingan dari kedua wacana di atas, serta lagu militer di atas, kurang lebihnya dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi pergerakan mahasiswa di masa lampau. Hal itu dapat berupa ideologi ataupun suatu gerakan lain. Selain itu, mahasiswa pada masa itu dituntut untuk bekerja cepat dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi, ambillah contoh membuat lagu untuk aksi massa. Di masa sekarang pun kita mungkin sering mengalami ketika harus membuat yel-yel kelompok untuk kegiatan team building organisasi, kita sering menggunakan nada atau lirik dari lagu yang sudah ada karena terdesak oleh waktu yang terbatas. Saya rasa, hal itu juga terjadi pada mahasiswa di masa Orde Baru. Hanya saja, lagu-lagu yang dibuat dalam kondisi terdesak itu bertahan hingga kurun waktu yang lama.

Mungkin akan lebih menarik jika kita coba mengupas seluk-beluk lagu-lagu pergerakan mahasiswa lainnya untuk menghasilkan sebuah studi yang lebih objektif. Baik menggunakan pendekatan analisis wacana ataupun menggunakan studi sejarah. Bagaimanapun, tulisan ini hanya sebuah tulisan nyeleneh yang belum pantas dibedah lebih lanjut. Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan satu atau lebih golongan, hanya untuk mencari keterkaitan antara satu dan lain hal. Akan tetapi, topik tentang keterkaitan antara ideologi politik dengan pergerakan mahasiswa ini akan menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s