Hello August – Part 2

Jika di post sebelumnya saya bercerita tentang pengalaman saya selama seminggu di Tanah Melayu Riau, maka postingan kedua ini akan bercerita tentang perjalanan saya selama 6 hari 5 malam ke Thailand dan Kamboja. Perlu diketahui sebelumnya, saya membeli tiket perjalanan berangkat dari Jakarta ke Bangkok dan tiket pulang dari Siem Reap ke Jakarta dari sejak tanggal 3 Agustus 2016 begitu mendapat pengumuman bahwa saya terpilih sebagai delegasi untuk menghadiri sebuah acara forum kepemudaan di Siem Reap. Perjalanan yang begitu spontan dan direncanakan mendadak ini mengajarkan banyak hal bagi saya.

20 Agustus – 22 Agustus 2016: Perjalanan Spontan yang Tak Terbayangkan Sebelumnya

Pagi itu di hari Sabtu tanggal 20 Agustus 2016, saya pergi ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng untuk penerbangan Air Asia QZ-256 tujuan Bandara Don Mueang Bangkok. Tujuan saya sebenarnya adalah Kota Siem Reap di Kamboja yang terkenal dengan situs arkeologi terbesar di dunianya, yakni Angkor Wat. Berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Siem Reap dan harga tiket transit dari Jakarta ke Siem Reap via Kuala Lumpur untuk tanggal 20 Agustus cukup mahal, akhirnya saya memutuskan untuk pergi via Bangkok dan naik bis lintas negara dari Bangkok ke Siem Reap keesokan harinya.

Sejujurnya hingga sebelum berangkat, saya masih belum mendapatkan informasi lebih lanjut dari panitia acara tentang lodgings dan keperluan lain yang harus disiapkan untuk acara. Akhirnya saya coba menghubungi panitia via nomor kontak yang tersedia di akun official acara tersebut di Facebook sembari naik bis menuju ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Jawaban dari panitia saat itu sangat mengejutkan saya. Ternyata saya tidak terdata sebagai delegasi dikarenakan saya belum melakukan konfirmasi. Hal tersebut cukup membuat saya bingung, karena di surat elektronik pertama yang saya dapatkan di tanggal 3 Agustus tidak disebutkan poin tentang konfirmasi kehadiran. Panitia tidak bisa menyediakan akomodasi dan tidak mengizinkan saya untuk ikut acara karena banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan mendadak. Oke, mungkin ini memang kesalahan saya yang belum benar-benar paham dengan hal teknis seperti ini dan dari pengalaman ini saya belajar bahwa melakukan konfirmasi itu penting walaupun tidak tertulis secara langsung.

Lantas apa yang akan saya lakukan ketika mendapat kabar tersebut? Well, let’s turn disaster into opportunities! Tiket promo yang sudah saya beli tentu saja tidak bisa di-refund. Selain itu, saya juga bisa dibilang tidak punya kegiatan sampai tanggal 26 Agustus. Akhirnya saya putuskan untuk tetap berangkat dengan menimbang-nimbang sisa uang yang saya miliki dan pengeluaran yang diperlukan selama 6 hari melakukan perjalanan. Langsung saja saya coba membuat itinerary sederhana seperti ini, termasuk apa yang akan saya lakukan begitu pulang nanti:

20/8 – Sampai di Bandara Don Mueang Bangkok. Melanjutkan perjalanan selama 8 jam naik bis ke Udon Thani, kota di utara Thailand.

21/8 – Tiba di Udon Thani. Mengeksplorasi kota tersebut.

22/8 – Meninggalkan Udon Thani menuju ke Vientiane, ibukota Laos yang dapat dicapai dalam 2 jam naik bis. Kembali ke Udon Thani di malam harinya.

23/8 – Meninggalkan Udon Thani menuju Bangkok. Mengeksplorasi Bangkok sore dan malamnya.

24/8 – Meninggalkan Bangkok menuju Siem Reap selama 8 jam perjalanan. Mengeksplorasi Siem Reap sore dan malamnya.

25/8 – Meninggalkan Siem Reap dari Siem Reap Internasional Airport. Transit 2 jam di KLIA2. Sampai di Bandara Soekarno-Hatta pukul 16.00 WIB. Melanjutkan penerbangan menuju Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta pukul 18.20 WIB. Sampai di Yogyakarta pukul 19.25 WIB.

26/8 – Hari pertama kegiatan YAYLF Gerakan Mari Berbagi 2016.

Apa yang terjadi di hari pertama masih sesuai dengan skenario. Pesawat Air Asia QZ 256 tujuan Don Mueang Bangkok yang saya tumpangi berangkat tepat waktu dan sampai di tujuan pukul 16.20 waktu setempat dengan jarak tempuh 3 jam. Bandara Don Mueang merupakan bandara sekunder di Bangkok yang melayani penerbangan maskapai berbiaya murah (Low Cost Carrier). Walaupun begitu, bandara tersebut begitu ramai dengan penumpang-penumpang baik domestik maupun internasional. Kejanggalan pertama yang saya dapatkan di bandara ini adalah di bagian imigrasi. Antrean imigrasi di bandara sangat panjang, yang menurut saya cukup aneh. Walaupun tersedia antrean khusus untuk warga negara anggota ASEAN, tetap saja antreannya panjang. Usut punya usut, ternyata pemeriksaan imigrasi yang panjang tersebut terjadi dikarenakan sedang merebaknya wabah penyakit zika baru-baru ini. Sekilas, Bandara Don Mueang cukup bagus dari segi fasilitas money changer, charger station, serta kemudahan turis asing membeli simcard operator Thailand; namun bandara ini masih perlu perbaikan dari segi fasilitas toilet dan antrean imigrasinya.

Dari Bandara Don Mueang, saya berniat menuju ke Mo Chit 2 Northern Bus Terminal yang melayani rute bis ke bagian utara Thailand yang termasuk di dalamnya Udon Thani. Untuk mencapai terminal bis tersebut, saya mencoba menggunakan layanan Grab Car yang sudah pernah saya coba sebelumnya di Jakarta dan Kuala Lumpur berhubung saya tidak mengetahui transportasi umum dari Bandara Don Mueang ke Mo Chit dan tidak paham aksara Thai. Sopir mobil Grab yang saya tumpangi itu tampak cukup tua, sekitar usia paruh baya, dan cukup humoris. Kemampuan Bahasa Inggris-nya terbatas, tetapi beliau masih mampu memahami obrolan sederhana dan mampu melontarkan beberapa candaan. Dari mengobrol dengan beliau, saya jadi paham seberapa cinta warga negara Thailand pada rajanya. Walaupun mereka mencintai rajanya, tetapi mereka kurang menyukai pemerintahan perdana menteri yang bagi mereka korup. Bukan bermaksud mengeneralisasi, tapi begitulah penuturan dari supir Grab yang saya tumpangi itu.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Mo Chit 2 Northern Bus Terminal. Pandangan pertama saya, terminalnya bagus dan bersih. Setiap destinasi memiliki konter pemesanan tiket masing-masing. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan konter penjualan tiket bis tujuan Udon Thani. Harga tiket bis Bangkok-Udon Thani seharga 605 baht, jumlah yang cukup mahal ya. Sistem transportasi bis di Thailand dilayani oleh sebuah perusahaan yang bernama Transport Co. Tiketnya pun sudah dwi bahasa Thai-Inggris sehingga memudahkan turis asing. Selain itu bis yang akan kita naiki sudah memiliki tempat parkir masing-masing yang dinomori sesuai platform tempat parkirnya, jadi kita tinggal menunggu bis di platform yang tertulis pada tiket di waktu yang tertera.

Bis yang saya naiki untuk menuju Udon Thani berangkat pada pukul 20.30. Bisnya adalah bis tingkat dengan kamar mandi dan AC, serta tempat duduk yang nyaman seperti kelas bisnis di kereta dan pesawat. Belakangan saya baru sadar bahwa bis yang saya naiki waktu itu adalah bis kelas bisnis yang memang harga tiketnya cukup mahal. Berhubung harga tiketnya memang cukup mahal, saya mendapatkan hospitality yang sesuai. Seperti selimut, bantal, serta makanan dan minuman untuk di perjalanan. Perjalanan selama 8 jam tersebut saya lalui dengan nyaman karena melewati jalan tol.

Pukul 6 pagi keesokan harinya, 21 Agustus, saya sampai di Bus Terminal 1 Udon Thani. Saya menghabiskan waktu satu jam di terminal untuk mengisi daya handphone dan membaca-baca brosur serta peta Udon Thani untuk lebih memahami kota ini. Ada 3 alasan mengapa saya memilih untuk mengeksplorasi Udon Thani. Yang pertama, saya memiliki sepupu yang tinggal di kota tersebut dan menikah dengan laki-laki warga negara Thailand walaupun saat ini hubungan kami sudah tidak intens. Yang kedua, Udon Thani terletak di utara Thailand sehingga akan memudahkan saya untuk pergi ke kota yang ramah untuk turis seperti Vientiane, Nong Khai, atau Vientiane. Yang ketiga, Udon Thani termasuk kota yang tidak terlalu ramai dengan turis sehingga akan membuat saya lebih leluasa mengeksplorasinya.

Di Udon Thani, saya mendapat kejutan kedua dari perjalanan ini setelah status saya yang batal menjadi peserta. Google Maps mengatakan bahwa jika saya berjalan kaki dari terminal bis menuju ke hostel tempat saya menginap, akan menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki sembari mengamati aktivitas warga setempat di pagi hari ketimbang menumpangi tuk-tuk. Suasana di pagi hari cukup sepi. Belum banyak warga yang beraktivitas dan toko-toko masih tutup. Pho Sri Road yang saya lewati cukup lengang dengan beberapa sepeda motor yang lewat sesekali. Kendaraan-kendaraannya mirip dengan di Indonesia, kebanyakan keluaran Jepang. Papan jalan sudah tertulis dalam dwibahasa sehingga saya tidak kesulitan untuk menemukan jalan.

Sekitar pukul 7.30, masih di jalan menuju hostel, saya mencoba meraba dompet saya di kantong belakang celana untuk memeriksa berapa jumlah uang saya yang masih tersisa. Saat itulah saya baru sadar kalau kantong tersebut kosong. DOMPET SAYA HILANG DI NEGERI ANTAH BERANTAH! Reaksi pertama saya ketika itu adalah tertawa, karena hal tersebut terlalu buruk untuk menjadi kenyataan bagi saya saat itu. Beberapa saat kemudian, barulah saya panik menyadari bahwa semua uang saya yang totalnya saat itu 2600 baht beserta kartu-kartu ATM, asuransi, dan identitas semuanya ada di dompet itu. Untungnya paspor dan handphone masih ada. Hanya saja, tentu saja saya perlu memutar otak untuk bisa mendapatkan uang untuk sampai ke destinasi tempat saya akan berangkat naik pesawat di Siem Reap sebelum tanggal 25 Agustus pagi. Akhirnya saya putuskan untuk mencapai hostel dulu dan menaruh barang-barang saya serta menenangkan diri, baru mencari dompet saya jika ternyata jatuh.

Hostel tempat saya menginap namanya adalah Baan Rare Guest House. Pemilik hostel sempat mengernyit dan bingung ketika membaca bukti booking saya dari Traveloka, namun akhirnya ia mengizinkan saya menempati kamar paling depan dan menunjukkan letak kamar mandi. Kamar tempat saya menaruh barang dan tidur tampak mewah. Selain saya, di kamar itu juga ada seseorang lagi. Nama beliau adalah Osamu-san, beliau warga negara Jepang. Saya tidak paham 100% apa yang dilakukan Osamu-san, tapi beliau mengatakan kalau ia sedang berlibur dan akan tinggal di Udon Thani sampai tanggal 26 Agustus. Setelah itu beliau akan menuju ke Bangkok dan menetap di sana sampai tanggal 5 September sebelum melanjutkan perjalanan ke Siem Reap. Rute perjalanan beliau sekilas mirip denganku, hanya saja waktu tinggalnya lebih lama. Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya menonton film dan anime sembari membaca berita bisnis. Sepertinya beliau adalah seorang entrepreneur atau freelancer.

Kembali ke dompet, setelah itu saya mencoba menyusuri sepanjang jalan yang saya lewati sebelumnya hingga ke terminal. Hasilnya nihil, tidak ada sedikit pun petunjuk ke dompet saya. Apalagi jalanan sudah mulai ramai sehingga rasanya kecil peluangnya bagi saya untuk menemukan dompet tersebut. Pencarian nihil tersebut membawa saya menyusuri jalan secara random hingga berakhir di sebuah taman dengan danau, 2 boneka bebek raksasa, dan tulisan besar @Udon_Thani di tengah danau. Taman tersebut begitu indah bagi hati saya yang sedang gundah gulana karena masalah finansial yang mendadak dan di tempat yang kurang pas pula. Di bawah terik matahari dengan angin sepoi-sepoi, saya coba memikirkan kembali kapan terakhir kali saya menggunakan dompet yang ternyata ketika membeli bekal di 7-11 Mo Chit. Ketika meraba kantong, saya menemukan tiket bis perjalanan saya semalam. Akhirnya saya coba menelepon nomor yang tertera di tiket tersebut. Customer Service-nya cukup ramah, walaupun harus menanggapi kepanikan saya. Ia dengan sabar mengulang beberapa kali nomor yang harus saya hubungi untuk  mengetahui tentang informasi kehilangan barang. Namun nomor baru yang diberikan tersebut tidak bisa dihubungi, mungkin karena saya salah saat menuliskannya. Bingung dengan langkah yang harus diambil, akhirnya saya putuskan untuk tidur di siang hari itu.

Ketika dihadapkan pada situasi sulit dengan kondisi saya berada jauh dari situasi yang familier dengan kehidupan sehari-hari saya dan keterbatasan yang ada seperti itu, saya benar-benar belajar yang namanya keluar dari zona nyaman. Karena waktu yang saya miliki untuk tinggal di Udon Thani hanya 2 hari, hal tersebut berarti saya harus segera menyelesaikan permasalahan keuangan ini dalam jangka waktu tersebut. Dengan perhitungan sederhana, saya akan membutuhkan sekitar 605 baht untuk mencapai Bangkok dari Udon Thani, 750 baht untuk mencapai Siem Reap dari Bangkok, serta biaya untuk makan sampai tanggal 25 Agustus yang mungkin sekitar 200-300 baht sehingga total biaya yang saya butuhkan adalah sekitar 1500 baht. Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah, saya akan membutuhkan sekitar 1,5 juta rupiah. Lalu bagaimana caranya saya bisa mendapatkan uang 1,5 juta rupiah hanya dalam waktu 2 hari dan di negeri yang asing pula? Akhirnya saya coba membuat beberapa perencanaan yang tampak realistis, yaitu:

  1. Melaporkan peristiwa kehilangan saya ke pihak berwajib setempat agar ditindaklanjuti dan ada kemungkinan dompet saya akan kembali jika ditemukan
  2. Menjual handphone saya, Lenovo VIBE K5 plus yang saat itu harga handset barunya sekitar 2,5 juta rupiah
  3. Memanfaatkan layanan jasa pengiriman uang antarnegara menggunakan Western Union
  4. Mencari donatur yang mau membiayai kepulangan saya ke Indonesia

Akhirnya sore hari di tanggal 21 itu, saya coba melaksanakan rencana pertama dari kemungkinan-kemungkinan di atas  dengan cara mendatangi kantor polisi khusus turis (Tourism Police Office) dengan mencocokkan pada alamat yang saya lihat di salah satu brosur Udon Thani. Kantor polisi khusus turis itu tidak jauh dari hostel yang saya tempati di Udon Thani. Tampak dengan jelas tulisan “Tourism Police Office” di depan gedung berbentuk rumah tersebut, dengan bendera 10 negara anggota ASEAN yang menemani papan penunjuk lokasi. Dari bendera-bendera tersebut, saya merasakan keseriusan Thailand dalam menyikapi ASEAN Community. Tak hanya di kantor polisi tersebut, di beberapa kantor yang menyediakan layanan publik dan bank-bank juga ada atribut yang sama.

Kantor polisi itu terlihat sepi. Ada beberapa sandal di depan pintu, namun tak tampak ada pengunjung di dalamnya selain polisi-polisi yang sedang bertugas. Saya sempat ragu untuk masuk ketika berdiri di depan pintu, namun polisi yang melihat saya dari jendela memberi isyarat untuk masuk. Akhirnya saya mencoba untuk masuk. Ruangan itu tidak luas, mungkin hanya seperti ruang tamu dengan 2 papan di dinding yang menunjukkan struktur organisasi dan prosedur standar operasional dari kantor tersebut.

Ada 3 orang polisi yang berada di ruangan yang sama dengan saya. Satu orang polisi laki-laki muda, tampaknya ia berusia sekitar 30-an, mengenakan seragam warna hitam yang senada dengan 2 orang lainnya. Ia mencoba mengorek informasi dari saya dengan menanyakan identitas saya dan menyuruh saya untuk menceritakan kronologis dari masalah kehilangan dompet yang saya alami. Saya pun mencoba menjelaskannya dengan Bahasa Inggris, namun baru beberapa kalimat tampak kalau dia kurang bisa memahami apa yang ingin saya sampaikan. Akhirnya polisi kedua yang adalah seorang wanita berusia sekitar 20-an akhir, bertindak sebagai interpreter dan mencoba menjelaskan kepada polisi pertama tentang apa yang baru saja saya alami. Ia akhirnya memberi saya sebuah formulir dan menyuruh saya mengisinya. Sembari saya mengisi formulir tersebut, polisi ketiga yang lebih gemuk dan tampak paling senior mengomentari peristiwa saya dengan memberikan nasihat untuk lebih berhati-hati dengan tidak menyalahkan saya dan mencoba untuk menjelaskan bahwa mereka tidak bisa memberikan jaminan bahwa dompet saya akan ditemukan.

Beberapa saat setelah saya selesai mengisi formulir, ketiga polisi tersebut memberi isyarat pada saya untuk mengikuti mereka keluar dari gedung kantor. Mereka membawa saya masuk ke mobil polisi yang sedang diparkir di depan kantor itu. Kaget? Iya. Si polisi wanita menjelaskan kalau mereka hendak membawa saya ke kantor polisi utama di Udon Thani. Tentu saja saya bingung hendak diapakan oleh polisi-polisi ini, sekilas saya menyesal telah membuat rumit kejadian ini dengan melaporkan ke polisi. Sesampainya di kantor polisi, saya disuruh duduk di sebuah kursi di ruangan yang terlihat seperti ruang tunggu pasien di rumah sakit bagi saya. Beberapa saat kemudian mereka memanggil saya untuk mendekat ke sebuah tempat yang mirip tempat resepsionis. Di sana sudah ada seorang polisi yang tersenyum ramah kepada saya sambil menanyakan apa yang terjadi pada saya. Polisi wanita yang tadi kemudian membantu menerjemahkan ke bahasa Thai sembari saya menjelaskan barang-barang apa yang baru saja saya hilangkan bersama dompet saya. Polisi yang bertanya kepada saya tadi menulis sesuatu di sebuah formulir dalam bahasa Thai, memberi cap, dan kemudian meminta saya untuk membubuhkan tanda tangan. Rupanya ia baru saja membuatkan surat keterangan hilang.

Selesai dengan surat keterangan hilang, ketiga polisi yang mengantar saya tadi tersenyum ramah. Saya menanyakan nama dari polisi yang tampak paling senior serta berterima kasih kepada beliau. Beliau menyuruh kepada saya untuk memanggilnya dengan nama Peter. Ini salah satu keunikan dari orang Thailand, mereka memiliki nama panggilan yang mirip dengan orang Barat. Misalnya saja, saya memiliki seorang teman dari Bangkok yang namanya Sakolporn Songsrivisuth, namun ia biasa dipanggil dengan nama Paint karena ayahnya sangat hobi melukis. Satu pelajaran penting lagi yang saya dapatkan adalah keramahan yang saya dapatkan dari polisi turis di Udon Thani. Bagi saya, keberadaan polisi turis yang memahami Bahasa Inggris dan mengetahui cara memadamkan kepanikan turis asing adalah suatu hal yang sangat membantu. Sepertinya hal ini perlu dilakukan juga di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang memiliki banyak turis asing dan ekspatriat seperti Jakarta dan Bali misalnya.

Ketiga polisi tersebut berniat untuk mengantarkan saya sampai ke hostel tempat saya menginap, namun niat baik tersebut saya tolak karena saya ingin menghabiskan sisa sore hari saya dengan mengunjungi sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan kantor polisi tersebut menurut Google Maps. Memang hanya butuh berjalan kaki lima menit untuk mencapai masjid tersebut dari kantor polisi tersebut. Sekilas dari luar, masjid tersebut terlihat seperti halnya rumah atau ruko biasa. Hanya saja, ada papan dengan tulisan Thai dan Arab di depan bangunan tersebut yang mengisyaratkan bahwa bangunan tersebut adalah masjid. Begitu melihat ke dalam, tampak ada sekelompok orang yang berpakaian gamis sedang berdiskusi. Saya pun menunggu di luar hingga waktu maghrib dan baru mulai bergabung ketika tiba waktu sholat maghrib. Mereka memiliki kegiatan rutin untuk mendengarkan tausiyah dari salah satu dari mereka seusai sholat, namun saya tidak mengerti sepatah kata pun karena mereka menyampaikan tausiyahnya dalam bahasa Thai.

Seusai tausiyah, saya mencoba mengajak beberapa dari mereka untuk mengobrol. Namun sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya 2 dari jamaah tersebut yang akhirnya mengobrol dengan saya. Yang satu adalah seorang bapak berusia 40-an bernama Jamal, beliau ternyata adalah keturunan Melayu sehingga mampu untuk berbahasa Melayu. Yang kedua adalah seorang bapak berusia 30-an bernama Muhammad. Ia ternyata memiliki istri orang Indonesia. Hal itu juga lah yang membuatnya berpindah agama dari agama yang dianut oleh orang tuanya ke agama Islam. Ia bertemu dengan istrinya di Singapura ketika sedang menjadi pekerja ekspatriat di sana, yang mana istrinya sedang bekerja sebagai TKI. Untungnya keluarga Pak Muhammad cukup toleran sehingga mereka mengizinkannya untuk menikah dengan istrinya yang sekarang dan berpindah agama ke Islam. Pak Muhammad tampak bersikeras agar saya mau belajar bahasa Thai, karena memang kenyataannya sulit bagi orang yang tidak bisa berbahasa Thai untuk hidup di sana. Hal sederhana yang saya rasakan dari beberapa jamaah Islam di Udon Thani, mereka beragama Islam memang dari dirinya sendiri dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Hal ini berbeda dengan masyarakat muslim Indonesia yang sebagian besarnya beragama Islam karena orang tuanya juga beragama Islam, sehingga tidak semuanya menjalankan kewajibannya dengan maksimal.

22 Agustus 2016, hari kedua saya di Udon Thani, yang saya lakukan adalah menghabiskan waktu dengan berkeliling Udon Thani. Yang ini tidak akan saya bahas secara mendetail karena ada banyak tempat yang saya kunjungi seharian ini. Kebetulan paginya, saya telah mentransfer uang sebesar 1 juta rupiah kepada seorang teman, Imas Yuliani, melalui SMS Banking dan meminta tolong kepadanya untuk mengirimkan uang melalui Western Union. Artinya saya mencoba mengambil solusi ketiga dari 4 solusi yang telah coba saya rumuskan sebelumnya. Proses pencairan uang ini tidak sulit. Si pengirim uang akan datang ke agen Western Union, misalnya Kantor Pos Indonesia, kemudian mengisi formulir pengiriman sambil menyerahkan uangnya. Setelah itu, si pengirim akan mendapatkan struk yang berisi nomor MTCN. Nomor MTCN ini penting untuk disimpan dan harus diberitahukan kepada sang penerima. Si penerima akan mendatangi agen Western Union setempat, dalam hal ini yang saya gunakan adalah KTB Bank, mengisi formulir di teller sambil menyebutkan nomor MTCN dengan menunjukkan identitas diri (paspor untuk pengiriman uang di luar negeri). Dalam hitungan detik, uang sudah akan cair di tangan penerima. Dengan begitu, saya telah melaksanakan opsi pertama dan ketiga untuk menghadapi krisis tersebut.

22 -23 Agustus 2016: Kembali ke Bangkok, Bersiap Menyeberangi Perbatasan

Usai mendapatkan uang tunai yang cukup untuk melanjutkan kembali perjalanan, hal yang terbersit dalam pikiran saya adalah membeli tiket perjalanan menuju ke Bangkok sesegera mungkin. Karena saya menggunakan jasa bis ketika datang ke Udon Thani, maka saya mencoba menggunakan moda transportasi yang berbeda ketika akan ke Bangkok yaitu kereta api! Membeli tiket kereta api di Thailand lebih fleksibel daripada di Indonesia. Jika di Indonesia kita perlu memesan tiket dari jauh-jauh hari untuk melakukan perjalanan, maka kita bisa membeli tiket kereta hanya beberapa jam sebelum perjalanan ketika di Thailand. Ketika itu pun saya membeli tiket kereta untuk keberangkatan pukul 18.55 pada pukul 15.02 langsung di stasiun, hanya kurang dari 4 jam sebelum keberangkatan. Sebagai informasi, kereta di Thailand pun terbagi menjadi kelas bisnis dan ekonomi seperti halnya di Indonesia. Karena ingin membandingkan dengan perjalanan kelas ekonomi di Indonesia serta keterbatasan biaya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket kelas ekonomi.

Kereta yang saya naiki sampai tepat waktu di Stasiun Udon Thani. Sedikit terkejut, kereta yang saya naiki hanya ada 2 gerbong. Penampakannya sedikit mirip dengan KRL Commuter Line di Jabodetabek, hanya saja tidak berjalan dengan listrik sebagai sumber energinya. Begitu masuk, penampakan bagian dalam kereta tak berbeda jauh dengan kereta ekonomi di Indonesia. Hanya saja, tanpa AC dan kursinya sekeras kursi penumpang di Kopaja. Penumpang di gerbong itu pun begitu sepi. Hanya 3 kursi yang terisi di gerbong sehingga semua penumpang bisa berbaring di atas kursi penumpang. Menggunakan kereta api, waktu tempuh perjalanan justru lebih lama dibandingkan menggunakan bis. Jika menggunakan bis bisa menghabiskan waktu 8 jam, maka menggunakan kereta malahan menghabiskan waktu 10 jam. Hal ini berkebalikan dengan yang biasanya saya alami di Indonesia. Sepanjang perjalanan, hanya pemandangan hutan gelap dan perkampungan yang minim cahaya yang disuguhkan pada saya. Beberapa saat kemudian turun hujan deras sehingga jendela harus ditutup. Saya pun memutuskan untuk tidur hingga mencapai Bangkok pada pukul 4.30 pagi.

Bangkok di waktu subuh tampak sibuk. Ketika terbangun, kereta yang saya naiki baru saja melewati Stasiun Don Mueang. Ternyata Bandara Don Mueang memiliki stasiun kereta sendiri. Sekitar 20 menit kemudian, kereta yang saya naiki berhenti di Stasiun Hua Lam Phong yang merupakan stasiun kereta api utama di Bangkok. Begitu menginjakkan kaki keluar dari kereta, pemandangan yang ada seakan merupakan de javu bagi saya. Desain stasiunnya benar-benar mirip dengan Stasiun Jakarta Kota di Jakarta yang memiliki banyak platform dan ada banyak kereta terparkir di dalamnya. Karena sudah memasuki waktu sholat shubuh, saya putuskan untuk mencari musola yang barangkali disediakan oleh stasiun ini, dan kenyataannya memang ada sebuah musola di Stasiun Hua Lam Phong ketika saya lihat di peta gedung. Musolanya merupakan sebuah bangunan sendiri di dalam stasiun, berbentuk kotak, dan letaknya ada di antara 2 platform. Dari luar, saya sempat meragukan apakah tempat itu benar-benar musola atau bukan, tapi keraguan saya hilang ketika melihat tulisan “sembayang” di bangunan itu. Di dalamnya, saya bertemu dengan seorang muslim yang tampak takjub melihat ada sesama muslim bersamanya. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, rasanya memang beda ketika bertemu sesama orang muslim di negara yang penganut agama Islamnya adalah minoritas.

Keluar dari Stasiun Hua Lam Phong, yang terpikir oleh saya adalah segera pergi ke Mo Chit 2 Northern Bus Terminal untuk segera membeli tiket bis rute Bangkok-Siem Reap, karena bisa jadi saya kehabisan. Tak jauh dari pintu keluar stasiun, tepatnya di sebelah kiri, ada tangga bawah tanah menuju ke jalur MRT Bangkok. Ketika saya keluar sekitar jam 6 pagi, MRT baru saja mulai beroperasi di hari itu. Kebetulan Mo Chit sangat dekat dari Stasiun Chatuchak yang dapat dicapai dengan naik MRT, sehingga  saya putuskan untuk mencoba moda transportasi yang baru akan tersedia di Jakarta ini sekitar 2-3 tahun lagi. Dari permukaan tanah menuju ke jalur MRT cukup jauh jalannya, namun pemandangan di sepanjang terowongan bawah tanah menuju ke tempat naik penumpang cukup indah, mirip dengan galeri di lantai bawah Monas. Pintu masuk menuju MRT Bangkok sedikit mengingatkan saya dengan LRT di Kuala Lumpur, hanya saja MRT Bangkok mengangkut lebih banyak penumpang dan jalurnya berada di bawah tanah sehingga tidak mengganggu aktivitas transportasi biasa di jalan raya. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit bagi saya untuk mencapai Stasiun Chatuchak dari Hua Lam Phong. Satu lagi hal unik dari MRT di Bangkok adalah, ada tambahan satu kategori untuk tempat duduk prioritas selain penumpang dengan disabilitas, ibu hamil, ibu yang membawa anak, dan lansia. Yaitu biksu! Bagi saya, hal ini menunjukkan penghormatan masyarakat Thailand pada biksu.

Sesampainya di Mo Chit 2 Northern Bus Terminal, tempat yang 3 hari sebelumnya saya datangi, saya langsung mencari konter yang menjual tiket bis rute Bangkok-Siem Reap. “Pay Siem Reap,” begitulah yang saya katakan di konter. Ternyata saya masih bisa membeli tiket untuk keberangkatan jam 8 pagi di hari itu. Harga tiketnya sedikit lebih mahal daripada tiket ke Udon Thani kemarin, yaitu 750 baht. Namun untuk perjalanan menuju Siem Reap ini tidak ada opsi yang lebih murah lagi, karena hanya ada satu perusahaan yang menjual tiket bis ini, yaitu Transport Co. di Thailand dan Nattakan Co. untuk di Kamboja. Selain itu, tiket pesawat Bangkok-Siem Reap dapat dipastikan lebih mahal.

Begitu masuk ke bis, saya agak dikagetkan dengan penumpang-penumpang lainnya yang kesemuanya merupakan orang Eropa dan Amerika. Hanya saya dan seorang bapak dari Thailand yang orang Asia di bis itu. Saya mencoba menyimpulkan dari statistik penumpang bis saat itu bahwa Siem Reap lebih populer bagi turis asing asal Eropa dan Amerika daripada Asia. Perjalanan menggunakan bis dari Bangkok ke Siem Reap bisa dibilang sangat nyaman. Jalannya cenderung datar dan memungkinkan untuk beristirahat. 4 jam setelah bis berangkat, sekitar jam 12 siang sampailah kami di kantor cabang dari Transport Co. di Aranyaprathet. Aranyaprathet adalah daerah perbatasan antara Thailand dengan Kamboja. Di Aranyaprathet, penumpang dibagikan makan siang yang ketika itu adalah nasi goreng yang telah dihangatkan dari 7-11. Penumpang dari negara non-ASEAN diberikan form untuk permohonan visa on arrival yang perlu diisi. Hanya beberapa menit dari Aranyaprathet, kami sampai di imigrasi perbatasan Thailand dan Kamboja. Selama melalui imigrasi, para penumpang diturunkan terlebih dahulu dari bis. Prosesnya tidak terlalu sulit, hanya perlu memastikan paspor dicap keluar dari Thailand dan masuk di Kamboja.

Oleh orang Kamboja, perbatasan ini disebut dengan Poipet. Seperti halnya daerah perbatasan, banyak warga dari kedua negara yang bolak balik baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai sepeda motor untuk banyak keperluan. Umumnya mereka memiliki kertas izin khusus dari imigrasi yang memungkinkan mereka berpindah-pindah dengan lebih fleksibel tanpa harus melalui imigrasi. Selesai dengan imigrasi, kami kembali menaiki bis. Beberapa kilometer dari perbatasan, mulai terasa perbedaan antara Thailand dengan Kamboja. Kendaraan di Kamboja berjalan di sebelah kanan, berbeda dengan di Thailand yang di sebelah kiri. Hal ini sempat menjadi pertanyaan di benak saya, apakah supir bis yang sedang saya tumpangi ini tidak pusing ketika harus mengendarai kendaraan besar dengan lajur yang berbeda? Selain itu, pemandangan selepas perbatasan Poipet benar-benar mirip dengan pedesaan di Indonesia. 1-2 kilometer pertama, sinyal dari operator HP Thailand masih ada, tapi kemudian mulai menghilang perlahan.

3 jam dari Poipet, sampailah saya di Siem Reap. Perusahaan Nattakan Co. yang melayani pengoperasian bis di Kamboja ternyata menyediakan tuk-tuk gratis untuk mengantarkan penumpang ke penginapan masing-masing.

Saya diantar oleh seorang sopir tuk-tuk yang memperkenalkan dirinya dengan nama “Lucky”, karena nama aslinya dalam bahasa Kamboja cukup sulit dilafalkan oleh saya. Tak hanya mengantarkan saya ke penginapan, Lucky pun membantu mencarikan tempat penukaran uang yang rates-nya tinggi. Sebagai informasi, transaksi di Siem Reap lebih banyak menggunakan mata uang US Dollar. KH Riel hanya digunakan untuk kembalian ketika bertransaksi. Sebagai contoh, misalnya Anda membeli air mineral seharga USD 0.60 dengan uang USD 1.00, maka si penjual akan memberi kembalian sejumlah KHR 800. Hal ini cukup memudahkan turis asing sehingga tidak perlu repot-repot menukarkan dolarnya.

Kembali ke tuk-tuk, penginapan saya yang bernama Bambu Stay letaknya di pinggiran kota dan jarang dilalui turis. Hal tersebut sempat membuat saya merasa tidak enak pada Lucky. Menurut info yang saya baca di sebuah situs mengenai pariwisata di Kamboja, kita perlu memberikan tip  kepada orang yang melayani kita. Namun hal tersebut berbeda dengan apa yang saya lihat pada diri Lucky. Ketika saya hendak memberi tip, Lucky mengatakan kalau ia tidak akan menerima tip karena ia tidak ingin menodai kepercayaannya pada Budha dengan melakukan hal yang bertentangan dengan pernyataan awal dari perusahaannya bahwa penumpang diberikan hak untuk bisa diantar dengan tuk-tuk secara gratis.

Sejujurnya saya tiba di Bambu Stay sehari lebih awal. Beruntung, ternyata ada kamar yang kosong yang masih bisa saya tempati. Hanya saja, saya diminta menambah bayar USD 5.00 untuk malam tersebut. Pemilik tempat tersebut yang bernama Arun sangat pandai berbahasa Inggris. Ia baru pertama kali mendapat tamu dari Indonesia. Saya pun menceritakan kesan dari kebanyakan orang Indonesia yang masih berpikir bahwa traveling itu hanya buang-buang uang. Padahal jika direncanakan dengan matang, traveling tidak akan menghabiskan banyak biaya dan ada banyak pengalaman yang tak tergantikan yang akan didapatkan. Ada orang bijak yang mengatakan “Spend your money on experiences, not on products.”

24-25 Agustus 2016: While in Siem Reap, and Going Back to Indonesia

Atraksi utama dari Siem Reap sebenarnya ada di Angkor Wat. Angkor merupakan ibukota dari Khmer Empire dan juga merupakan situs arkeologi terbesar di dunia. Bahkan butuh waktu lebih dari satu hari jika ingin mengeksplorasi Angkor Wat sampai keseluruhannya. Awalnya saya berniat untuk mengunjungi Angkor Wat, namun niat itu pupus ketika mengetahui kalau tiket one day pass  untuk memasuki Angkor Wat itu harganya USD 20.00. Belum lagi biaya naik tuk-tuk dari Bambu Stay ke sana yang sekitar USD 5-10. Padahal kondisinya adalah keuangan saya ketika itu hanya sisa USD 27.00. Uang itu rencana alokasinya sudah termasuk biaya shuttle ke Bandara Siem Reap dari Bambu Stay, uang makan, dan juga biaya hidup ketika sudah kembali ke Indonesia nanti. Konsekuensinya adalah, jika saya memilih untuk memaksakan diri ke Angkor Wat, begitu balik ke Indonesia nanti bakal makan daun, hehe.

Akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling Kota Siem Reap dengan berjalan kaki. Sebetulnya sangat tidak recommended untuk berjalan kaki di Siem Reap. Karena banyak jalan yang masih belum beraspal dan minimnya trotoar yang ada untuk pejalan kaki. Jika memang ada biaya, saya akan memilih menyewa sepeda seharga USD 1.00 untuk dipakai seharian atau naik tuk-tuk. Sejujurnya, tidak banyak pemandangan yang bisa disaksikan di Siem Reap. Sungainya pun berwarna coklat dan tak banyak taman yang ada. For me, it’s a pain for coming to Siem Reap, but not being able to visit Angkor Wat. =.=

25 Agustus 2016, saya berangkat pagi-pagi sekali dari Bambu Stay menaiki shuttle seharga USD 5.00 menuju ke Siem Reap International Airport. Sejujurnya bandaranya sangat sepi. Pagi itu, hanya ada penerbangan dari AirAsia AK-543 rute Siem Reap – Kuala Lumpur yang akan saya naiki. Ketika menunggu di gate 5, saya sempat berkenalan dengan serombongan penumpang lain. Mereka adalah turis asal Malaysia yang baru saja berlibur sekeluarga ke Siem Reap. Di antara mereka, yang paling banyak mengobrol dengan saya adalah seorang pemuda bernama Ydpa Loges. Ia adalah mahasiswa master di bidang IT di sebuah universitas di Malaysia. Ketika saya menceritakan tentang pengalaman saya belajar di University of Malaya di awal tahun ini, keluarganya tampak excited. Ayahnya bahkan memberikan kartu namanya dan menyuruh saya untuk mampir ke rumah mereka di Selangor jika nanti saya pergi lagi ke Malaysia.

Penerbangan Siem Reap – Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam. Pesawat AirAsia yang saya tumpangi mendarat di KLIA2, low-cost carrier terminal dari KLIA, pukul 11.35 waktu setempat. Karena harus check-in ulang dan berpindah maskapai, otomatis saya perlu melewati imigrasi yang sama panjangnya dengan di Bangkok karena sedang rentannya penyakit zika. Agak lucu bagi saya, mendapat cap masuk dan keluar dari imigrasi di hari yang sama. Hahaha. Lalu permasalahan terakhir dari perjalanan ini dimulai di sini. Pesawat Indonesia AirAsia QZ-201 yang akan membawa saya ke Jakarta pada pukul 14.55 ternyata terkena delay menjadi berangkat pukul 15.35. Hal ini cukup membuat saya panik, karena saya harus meneruskan perjalanan ke Jogja pada pukul 18.20 WIB dari Jakarta. Pesawat sampai di Jakarta pukul 16.35. Oke, saya harus segera buru-buru berpindah ke Terminal 1C dari 2E menggunakan shuttle bus. Kebodohan saya di hari itu adalah tidak segera naik taksi, walaupun tahu kalau frekuensi shuttle bus tidak sebanyak taksi dan juga perlu waktu memutari semua terminal sebelum sampai ke 1C. Begitu saya sampai di konter check in Batik Air di Terminal 1C, ternyata pesawat  yang akan saya naiki sudah memasuki panggilan terakhir untuk penumpang yang masih ada di ruang tunggu. Otomatis saya tidak bisa check in lagi dan tiketnya hangus. 

Kondisinya adalah ketika itu saya hanya memegang uang cash sebesar Rp 80.000, tidak punya kartu ATM, dan harus sudah di Yogyakarta sebelum jam 9 pagi keesokan harinya. Bagaimana pada akhirnya saya bisa mencapai Yogyakarta di tanggal 26 Agustus? Tunggu di cerita selanjutnya. 😀

Advertisements

One thought on “Hello August – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s