Hello August – Part 1

Agustus 2016 ini adalah bulan yang sangat berkesan bagiku. Karena ada banyak peristiwa yang baik dan buruk yang mengajariku banyak hal. Belajar memaknai hidup, belajar melihat hidup dari perspektif yang tidak biasa, juga belajar menjadi lebih peka dengan apa yang terjadi di sekitarku. Karena itu, aku ingin mendedikasikan tulisan yang dibagi menjadi 3 part khusus untuk menuliskan tentang pengalamanku selama di Bulan Agustus 2016. Part 1 akan bercerita tentang pengalamanku selama mengikuti Research Camp bersama teman-teman dari Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia (KSM EP UI). Part 2 akan bercerita tentang petualanganku selama 6 hari 5 malam di Thailand dan Kamboja. Terakhir, part 3 akan bercerita tentang pengalamanku mengikuti Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2016 dari Gerakan Mari Berbagi yang berlangsung tanggal 26 Agustus 2016 – 5 September 2016.

Tim Advance, dan Pertama Kalinya Menginjakkan Kaki di Pulau Sumatera

Pagi itu di 12 Agustus 2016 kusaksikan warna langit begitu cerah. Matahari baru saja menampakkan sinarnya di ufuk timur. Dari jendela pesawat, tampak ribuan pohon kelapa sawit bertebaran memenuhi pemandangan daratan. Beberapa menit kemudian, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 388 yang membawa diriku, Nunu, dan Berli mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Pulau Sumatera, kesan pertamanya adalah marvelous! Ini adalah kampung halaman sahabatku, Deni, ya inilah pulau yang akan kudiami selama sepekan ke depan.

img_20160812_072434
Touchdown Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru (Dari kiri ke kanan: Bagus, Nunu, Berli)

 

Mungkin pembaca pada bingung, kenapa si penulis ini pergi ke Riau? Oke, jadi aku dan dua orang temanku, Berli dan Nunu, pergi ke Riau dengan misi sebagai tim advance untuk mempersiapkan kedatangan rombongan besar dari anggota KSM EP UI yang akan datang ke Riau pada tanggal 15 Agustus 2016 nanti untuk melakukan penelitian dalam rangka kegiatan Research Camp, program kerja KSM EP UI yang berupa kegiatan penelitian tematik yang selalu mengambil tempat di luar Pulau Jawa. Kebetulan tahun ini kami mengambil tema tentang ketahanan pangan, dan tempat yang paling cocok untuk dijadikan objek penelitian mengenai ketahanan pangan adalah Kabupaten Kepulauan Meranti di Riau yang memang terkenal dengan komoditas sagunya yang tinggi. Keberadaan kami bertiga datang lebih awal adalah untuk memastikan teman-teman kami mendapat tempat tinggal yang nyaman dan siap melakukan penelitian ketika mereka datang tanggal 15 nanti.

Mobil Avanza milik Pak Rajasa sudah menunggu kami di parkiran mobil bandara beberapa menit setelah kami sampai di Pekanbaru. Mobil tersebut perlahan membawa kami meninggalkan bandara dan Kota Pekanbaru. Lho kok langsung meninggalkan Pekanbaru? Seperti telah disinggung di paragraf sebelumnya, sebenarnya tujuan utama kami bukanlah Pekanbaru, tapi suatu desa nun jauh di sana yang konon namanya adalah Desa Sungai Tohor. Letak desa ini ada di Kecamatan Tebing Tinggi Timur di Kabupaten Kepulauan Meranti. Untuk bisa mencapai tempat tersebut, kami harus melalui perjalanan darat dari Pekanbaru menuju pelabuhan Tanjung Buton selama kurang lebih 5 jam ditambah perjalanan dengan menggunakan kapal dari Tanjung Buton hingga pelabuhan Sungai Tohor selama 3 jam. Jauh bukan? Tapi hal itulah yang menjadi tantangan kami dalam kegiatan ini, untuk melakukan penelitian dan berkontribusi kepada masyarakat yang tinggal di daerah remote yang jauh dari modernitas.

Selama perjalanan sekitar 5 jam dari Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menuju ke Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak, Nunu akrab sekali membicarakan berbagai hal mengenai Kepulauan Meranti dan Sungai Tohor dengan Pak Rajasa yang menjadi sopir kami hari itu. Mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya pada survei pertama yang dilakukan Bulan Juni lalu dan Pak Rajasa memiliki posisi layaknya gerbang bagi penduduk Sungai Tohor yang ingin bepergian ke Pekanbaru, jadi beliau sudah familier dengan orang-orang yang ada di sana.

Kesanku dengan perjalanan darat dari Pekanbaru hingga melewati Kabupaten Siak seperti kombinasi antara jalan di Kalimantan dan Jawa. Jalan raya provinsi di kampung halamanku di Kalimantan Timur berbukit-bukit dan memiliki lubang di sana-sini, membuat mual dan muntah-muntah bagi orang yang tidak biasa. Lain halnya dengan di Jawa yang biasanya tak sampai satu kilometer melewati pemukiman, sudah ada pemukiman lagi. Jalan di Jawa pun cenderung datar. Kombinasi dari keduanyalah yang aku temui di Riau, jalanan yang cenderung datar seperti di Jawa, tapi tetap dipenuhi lubang di sana sini dan dikelilingi pepohonan di kanan kiri jalan seperti di Kalimantan. Bedanya dengan di Kalimantan, pohon yang kulihat di sepanjang jalan terlihat homogen dengan pepohonan kelapa sawit mendominasi pemandangan. Tak jarang juga terlihat sebidang tanah lapang sisa-sisa kebakaran hutan seperti yang biasa kulihat di berita.

Setelah melalui 5 jam perjalanan, sampailah kami di Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak. Untuk mencapai Kepulauan Meranti, kami perlu melanjutkan dengan menaiki kapal Marina Srikandi yang hanya ada sekali sehari dengan rute dari Pelabuhan Tanjung Buton dan berakhir di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Kapal Marina Srikandi berangkat pukul 12.30 WIB dari Pelabuhan Tanjung Buton. Perjalanan dengan kapal memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan hingga ke Pelabuhan Desa Sungai Tohor. Ada kejadian lucu ketika kami berada di kapal ini. Ketika itu, Nunu mencoba menghubungi Pak Efendi, Kepala Desa Sungai Tohor. Di saat bersamaan dengan Nunu menelepon, terdengar suara seorang bapak-bapak mengangkat telepon dari belakang kapal. Ternyata bapak-bapak itu adalah Pak Efendi yang satu kapal dengan kami di perjalanan itu. Kejadian itu juga mempermudah komunikasi kami dengan perangkat desa.

Selama 3 hari pertama di Desa Sungai Tohor, kami bertiga tinggal di rumah singgah yang ada di desa tersebut. Rumah singgah tersebut memang sengaja dibuat bagi para pendatang singkat yang datang ke desa tersebut seperti pejabat dari tempat lain atau peneliti yang sedang meneliti di desa tersebut. Karena tujuan kami datang adalah untuk penelitian, jadi kami eligible untuk menginap di rumah singgah kan, hehe. Secara fasilitas, menurutku rumah singgah tersebut sudah bagus untuk mengakomodasi pendatang dengan fasilitas seperti ruangan, kasur, kipas angin, dan kamar mandi.

IMG_20160812_152730.jpg
Rumah Singgah

 

Dua hal baru yang kami rasakan begitu kami memasuki penginapan rumah singgah ini adalah keterbatasan listrik dan perbedaan air yang digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Yang pertama, Desa Sungai Tohor masih belum dialiri dengan listrik dari PLN. Listrik yang ada di sini masih menggunakan mesin diesel hasil patungan warga dengan tiang listrik penyangga yang dibangun sendiri oleh warga desa. Selain itu, listriknya hanya menyala pada pukul 18.00–23.59 dan pukul 04.00-06.00. Bisa dibayangkan bagaimana terbatasnya keadaan di sana, dengan kondisi yang masih sangat jauh dari gadget dan kemewahan yang ada di daerah perkotaan. Lalu untuk memenuhi keperluan air sehari-hari, warga Desa Sungai Tohor menggunakan sejenis air yang disebut dengan air gambut. Secara rasa, air gambut tak jauh beda dengan air biasa, namun warnanya sedikit kemerahan seperti warna teh. Air gambut ini berasal dari tempat yang jauh dari desa dan peruntukannya hanya untuk keperluan mandi, cuci, kakus. Ia tidak dapat digunakan untuk minum dan masak karena pH-nya yang lebih rendah dari air mineral biasa. Untuk keperluan minum dan masak, umumnya warga menggunakan air tampungan hujan, kecuali bagi warga yang perekonomiannya cukup baik bisa membeli air galon yang harganya sekitar Rp 10.000,-.

Ju dan Pit, Dua Bocah Pemantik dari Sungai Tohor

Di hari pertama kami di Sungai Tohor, ada seorang bocah yang tiba-tiba menghampiri kami ketika kami sedang mengobrol dengan Pak Efendi di halaman depan rumahnya. Ia sedang menggiring sepeda kumbangnya sembari berjalan. Pak Efendi memanggilnya Ju. Sepanjang sisa obrolan kami dengan Pak Efendi, bocah yang dipanggil Ju itu hanya duduk diam sambil memperhatikan kami. Kelihatannya ia bingung melihat wajah asing milikku, Nunu, dan Berli; begitu juga kami bertiga yang bingung melihat apa yang dilakukan Ju. Paham dengan kebingungan kami, Pak Efendi kemudian menjelaskan bahwa Ju memiliki kekurangan, karena itu ia kini masih duduk di kelas 7 SLB walaupun usianya sudah hampir 16 tahun.

Keakraban kami dimulai ketika Pak Efendi meminta tolong kepada Ju untuk menunjukkan letak rumah singgah kepadaku, Nunu, dan Berli. Semenjak itu, Ju selalu bersama kami bertiga dari pagi hingga pagi lagi. Ia hanya pergi untuk mandi dan bersekolah, selain itu ia selalu mengekor mengikuti ke mana pun kami bertiga pergi. Bagi kami bertiga, Ju sangat membantu kami dalam menjembatani dengan warga setempat karena Ju sangat mengenal setiap orang yang ada di Desa Sungai Tohor. Kadang aku merasa kalau Ju sebenarnya memiliki kemampuan lebih, ia mampu bersosialisasi dengan cepat dengan orang baru dan orang-orang di sekitarnya. Hanya saja, sistem akademik yang ada hanya mengukur kemampuan kognitif dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Hal tersebut yang aku rasa membuat Ju sulit belajar, ia sampai kini masih mengalami kesulitan dalam calistung (baca, tulis, hitung).

Hal lain yang membuatku kagum pada Ju adalah keberaniannya untuk bermimpi. Mimpi Ju adalah menjadi seorang bos galon. Bagi kami yang berasal dari kota, mimpi Ju untuk menjadi seorang bos galon mungkin terdengar lucu. Tetapi jika mencoba melihat dari sudut pandang Ju sebagai seorang penduduk desa, seorang bos galon adalah sebuah profesi yang sukses dan tersohor. Aku salut ketika melihatnya mampu untuk bermimpi, walaupun dengan keterbatasan yang ia miliki. Karena banyak aku temui dari teman-temanku baik semasa SMA maupun kuliah yang belajar hanya sekadar belajar tanpa memiliki tujuan hidup yang jelas. Frantically to say, you need to have a dream! When people laugh at your dream, it does mean two things. Either you are going to make a history or fail it.

img_20160813_163435
Ju, calon bos galon dari Sungai Tohor.

 

Beberapa hari setelahnya, Ju telah masuk sekolah. Ia membawa seorang temannya ketika pulang dari sekolah. Temannya juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Ju. Ju memanggil temannya itu dengan panggilan Pit. Dari usianya, seharusnya Pit sudah memasuki bangku kuliah tahun ini. Tapi ia masih bersekolah di tingkat yang sama dengan Ju. Melihat Pit sekilas, ia suka memamerkan seringainya dengan gigi-giginya, tampak selalu bahagia dan tersenyum. Berbeda dengan Ju yang ceriwis, Pit agak memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Terkadang aku kurang bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Pit. Seperti halnya ketika ia minta berfoto di perayaan 17 Agustus, perlu waktu bagiku untuk dapat menangkap maksudnya. Ketika memikirkannya, sepertinya butuh kesabaran ekstra untuk bisa mendidik. Yang aku maksud bukan hanya mendidik di SLB, tetapi juga mendidik di sekolah reguler. Karena kecepatan pemahaman manusia yang berbeda-beda, ada yang mampu untuk paham dalam waktu singkat dan ada juga yang tidak.

IMG_20160817_175946.jpg
Penulis dengan Pit.

 

Sagu, Permata dari Sungai Tohor

Hal yang tak boleh dilewatkan oleh siapa pun yang datang mengunjungi Desa Sungai Tohor adalah menikmati produk-produk olahan sagu. Sehari-hari, orang di Indonesia lebih banyak yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Hanya saja, produksi beras Indonesia saat ini tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Bahkan selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mengimpor beras dari Thailand untuk menutupi kebutuhan pangannya. Hal ini tentu saja perlu menjadi perhatian khusus tentang mengatasi kebutuhan pangan. Sagu yang banyak tersedia di Kepulauan Meranti dan Papua tentunya dapat menjadi salah satu jawaban.

Di Desa Sungai Tohor sendiri sagu sudah diolah menjadi banyak jenis makanan. Yang pertama, ada mi sagu yang dapat dimakan dalam versi goreng ataupun berkuah. Jika digoreng, mi sagu ini wujud dan rasanya sangat mirip dengan kwetiau. Jika berkuah, ia tak ubahnya dengan mi rebus. Rasanya pun tak kalah lezatnya. Seporsi mi sagu di Desa Sungai Tohor bisa dihargai Rp 10.000,-. Selain mi, sagu juga dapat dibuat minuman es. Sagu juga umum ditemui sebagai kerupuk cemilan yang biasa dimakan seusai makan.

IMG_20160813_081604.jpg
Pecel sagu ala Sungai Tohor.

 

Hal yang membuatku bingung adalah warga desa tersebut tetap makan nasi sebagai makanan pokok walaupun ada banyak sagu berlimpah di sekitar mereka. Jika melihat dari kandungan gizinya, nasi maupun sagu sama-sama mengandung karbohidrat dalam jumlah tinggi. Lalu kenapa warga lebih memilih nasi? Usut punya usut setelah mewawancarai beberapa orang warga, ternyata warga generasi tua masih mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Namun generasi orang dewasa dan anak-anak di desa tersebut saat ini sudah mengonsumsi nasi, karena dorongan dari pemerintah pusat untuk menasionalisasikan nasi sebagai makanan pokok pada tahun 1980-an.

Dilihat secara ekonomi, memang lebih baik jika para warga mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok karena ketersediaan dan harganya yang lebih murah di daerah tersebut. Namun mengubah kebiasaan yang telah berjalan puluhan tahun bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tantangan lain dalam menjadikan sagu sebagai makanan pokok di daerah Kepulauan Meranti adalah melakukan pengolahan pada sagu dalam jumlah banyak sehingga dapat diproduksi sebagai sebuah produk yang bernilai jual tinggi. Selama ini, proses pengolahan sagu yang dilakukan di Desa Sungai Tohor masih bersifat industri rumah yang hanya dijual di warung-warung dan dalam lingkup yang terbatas. Aku rasa hal tersebut juga yang menjadi harapan utama warga setempat.

Selama ini, Desa Sungai Tohor sering kali didatangi oleh para peneliti dari luar. Berdasarkan penuturan warga, kebanyakan peneliti yang datang ke desa tersebut hanya datang untuk mengumpulkan data untuk kepentingan penelitiannya tanpa memberi timbal balik secara langsung bagi warga di desa tersebut. Dari sekilas melihat suasana di desa, aku melihat ada potensi untuk melakukan social enterprise di desa tersebut dilihat dari jumlah sagu yang tersedia di desa tersebut dan jumlah warga usia produktif. Jika memungkinkan, aku ingin mencoba membantu warga di desa menjadi lebih produktif dalam mengolah sagu sehingga nilai jualnya bisa bertambah, kemasannya lebih menarik, dan membantu memasarkannya ke daerah-daerah yang potensial. Seperti contohnya, membidik kota-kota besar di Indonesia dengan tren mi sagu instead of sebut saja ramen atau kimchi.

Figur-figur Luar Biasa di Sungai Tohor

Tahun 2015 lalu, Presiden Joko Widodo datang berkunjung ke Desa Sungai Tohor. Kedatangan Presiden Jokowi ini bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi hanya karena potensi sagu yang ada di Desa Sungai Tohor. Semuanya berawal dari petisi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Pak Abdul Manan terkait masalah kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau yang termasuk di dalamnya juga Kepulauan Meranti. Petisi tersebut ternyata masuk menjadi perhatian nasional. Karena itulah, Presiden Joko Widodo menyempatkan datang ke Desa Sungai Tohor dan melakukan beberapa perbaikan di desa tersebut di hari kedatangannya, seperti melakukan pembuatan kanal-kanal. Pak Abdul Manan juga seorang aktivis lingkungan yang tergabung di WALHI yang menentang beberapa perusahaan yang beroperasi di Kepulauan Meranti tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan. Sepak terjangnya membuatnya dianugerahi penghargaan Kalpataru serta sempat terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia pada acara Conference of the Parties (COP) 21, sebuah acara konferensi perubahan iklim yang menjadi bagian dari program United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang diadakan di Paris, Prancis pada akhir tahun 2015 lalu.

Tak hanya Pak Abdul Manan, para pemuda dan orang dewasa di Desa Sungai Tohor pun sudah terbuka dalam menyikapi pendidikan. Semuanya berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya hingga ke pendidikan tertinggi. Mendengar anak-anak warga yang banyak merantau untuk berkuliah ke Pekanbaru rasanya berbeda dengan gambaran yang sering kali aku dapatkan tentang daerah perbatasan. Selama ini aku membayangkan daerah perbatasan sebagai daerah yang tertinggal yang kurang perhatian dan kurang dalam hal pendidikan.

IMG_20160813_113231.jpg
Penulis dengan Pak Abdul Manan dan Jumatul.

 

Epilog

Walaupun hanya seminggu berada di Desa Sungai Tohor dari tanggal 12 Agustus hingga 19 Agustus 2016, ada banyak pelajaran yang aku dapatkan dari perjalanan ini. Tetapi yang paling penting bagiku adalah menyikapi kehidupan ketika hidup di tengah keterbatasan. Jarak tempuh menggunakan kapal untuk pergi ke Johor Baharu di Malaysia hanya memakan waktu 45 menit dari Desa Sungai Tohor, jauh lebih dekat daripada ke Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak, Riau yang membutuhkan waktu 3 jam. Produk-produk Malaysia pun lebih mudah didapatkan dan harganya lebih murah daripada produk-produk Indonesia yang biaya kirimnya mahal untuk bisa mencapai Kepulauan Meranti. Namun warga-warga Kepulauan Meranti masih tetap loyal sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk mempersiapkan perayaan kemerdekaan 17 Agustus, aku menyaksikan sendiri bagaimana siswa-siswa SMA setempat berlatih tiap hari dari pagi sampai petang. Selain itu, dengan listrik yang hanya menyala pada jam tertentu dan transportasi yang sulit, siswa-siswa di daerah ini masih tetap semangat untuk belajar hingga ke perguruan tinggi. Kadang aku merasa, sebenarnya keterbatasan yang kita rasakan sebenarnya adalah apa yang dibatasi oleh pemikiran kita sendiri karena sebenarnya potensi manusia itu sangat luas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s