Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

image

“Garansi 100% uang kembali jika Anda tidak mendapatkan manfaat setelah membaca buku ini.”

Begitulah bunyi kalimat yang tertera di kaver seri buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Hal tersebut yang kemudian menyentuh hati saya untuk membawa salah satu dari seri buku ini, yaitu buku keduanya, ke kasir di Toko Buku Gramedia Samarinda pada 2011 lalu. Seri buku yang memiliki judul asli Opening the Doors of Your Heart ini memang memiliki tingkat penjualan yang baik di Indonesia. Dalam sebulan setelah terbit, telah dicetak ulang sebanyak 3 kali. Entah pada awalnya orang membelinya karena telah mengetahui tentang penulisnya atau memang terjebak oleh label garansi di kaver seperti saya, yang jelas seri buku ini termasuk salah satu a-must-read-book-before-you-die versi saya sendiri.

Buku ini ditulis oleh seorang biksu Buddha yang bernama Ajahn Brahmavamso yang lebih sering dikenal dengan Ajahn Brahm (Ajahn: guru). Beliau lahir di Inggris pada tahun 1951 dengan nama Peter Betts dan sempat mengenyam pendidikan di Cambridge University mengambil jurusan Fisika Teori. Kemudian beliau berguru pada Ajahn Chah di Thailand sebelum bermukim di Australia sekarang. Sebagai biksu Buddha, beliau memiliki jam terbang yang tinggi. Sempat melakukan tur ceramah keliling Indonesia dan menulis banyak buku yang termasuk 3 seri si cacing. Pengalaman beliau sebagai biksu Buddha lah yang membuat ketiga buku ini menarik untuk diikuti.

Masing-masing dari ketiga buku seri Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya terdiri dari 108 cerita tentang berbagai hal yang temanya bermacam-macam. Cerita-cerita yang disajikan di buku-buku ini sekilas mengingatkan saya pada seri Chicken Soup for the Soul. Ceritanya disampaikan secara tematik dengan mengambil contoh dari pengalaman sehari-hari. Misalnya pada buku ke-2, ada subtema tentang Tubuh yang Kian Rentan. Di salah satu cerita di subtema tersebut, Ajahn Brahm menceritakan pengalamannya ketika sakit di suatu hari di masa kuliah. Beliau merasa kalau rasa sakit itu sangat tidak nyaman. Namun tiba-tiba ia kedatangan kiriman tape recorder yang beliau kirim dari rumahnya sendiri ke asrama kampusnya. Beliau kemudian memutar lagu-lagu Jimi Hendrix dan hal tersebut membuatnya merasa bersemangat kembali. Sederhana, lugas, penuh energi positif. Itulah yang menurut saya menjadi kekuatan dari ketiga buku ini.

Mungkin bagi Anda yang tidak beragama Buddha sedikit bertanya-tanya “Apa tidak apa apa jika saya yang tidak beragama Buddha membaca buku-buku tersebut?” Inilah hal lain yang membuat buku ini menarik. Mungkin pada beberapa bab, ada pembahasan mengenai meditasi. Tetapi apa yang disampaikan oleh Ajahn Brahm melalui buku ini sangat jauh dari yang namanya indoktrinasi. Justru ada beberapa cerita dalam buku ini yang menceritakan tentang toleransi antaragama, tentang hubungan Ajahn Brahm dengan beberapa tokoh pemuka agama lain seperti Islam dan Kristen misalnya yang menarik untuk diikuti.

Fakta lain buku ini selain garansi pengembalian uang 100% jika tidak mendapatkan manfaat setelah membacanya, buku ini telah beberapa kali membuat pembaca yang berniat untuk bunuh diri mengurungkan niatnya pada akhirnya. I’d like to recommend this book to everyone who likes inspiring life stories and multiculturalism.

#30DaysWritingChallenge #26 #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s