Startup!

Saya memang bukan mahasiswa IT ataupun bisnis, tapi startup sedang menjadi sesuatu yang menarik bagi saya selama setahun belakangan ini. Dan kalau melihat fenomenanya, di Indonesia sendiri sudah berkembang beberapa inkubator yang mendukung perkembangan startup. Orang-orang di atas rata-rata di negeri ini kian hari kian banyak yang berlomba-lomba mendirikan startup untuk mengatasi berbagai permasalahan di negeri ini. Kalangan awam pun sudah tak asing lagi dengan nama-nama seperti GO-JEK atau Ruangguru.com misalnya. Berbekal pengetahuan yanh seadanya, saya ingin mencoba menjelaskan tentang startup dan apa saja kelebihannya dibandingkan bekerja di korporat.

Secara sederhana, startup seringkali didefinisikan sebagai bisnis yang memanfaatkan teknologi. Namun ada definisi yang lebih tepat untuk menjelaskannya, yaitu suatu konsep bisnis yang bisa dibuat berulang-ulang dan menghasilkan uang berulang-ulang pula. Artinya konsep startup ini seperti siklus yang terus berulang-ulang awal dan akhirnya. Mungkin penjelasan ini agak susah dipahami. Oke, kita mulai dari contoh. Di tahun 1915, Henry Ford menemukan sistem bernama assembly line yang memungkinkannya memproduksi mobil dalam jumlah banyak secara kontinyu. Sistem ini kemudian merubah pemikiran banyak orang ketika itu yang masih banyak menggunakan langkah produksi manual.

Kembali ke startuppasti para penghuni kawasan Jabodetabek sudah sangat akrab dengan GO-JEK. Ojek online yang menggunakan aplikasi smartphone sebagai medianya ini telah berhasil mentransformasi pemikiran banyak orang yang tadinya mungkin masih mengandalkan moda transportasi konvensional seperti ojek konvensional dan angkot. Berawal dari hal yang sederhana dan masalah yang semula terlihat sederhana, dengan langkah penyelesaian yamg kreatif. Kurang lebih seperti itulah cara kerja startup.

Ada 7 tahapan yang harus dilalui oleh sebuah startup, yaitu:
1. Start
Ini adalah tahap paling pertama yang harus dilalui oleh para founder, yaitu mencari masalah dan solusinya. Tahap ini bukan yang tersulit, tapi bukan yang termudah juga. Bisa dibilang inilah tantangan utamanya, mencari masalah dan menemukan solusinya!
2. Launch
Pada tahap ini, sudah ada produk yang dibuat, namun masih dalam bentuk prototype . Tahap ini yang paling membutuhkan evaluasi, karena para founderdapat menilai dari feedback para pengguna apakah produk yang telah dibuat mampu memberikan manfaat sesuai harapan founderatau tidak. Karena aspek kepuasan pengguna juga perlu diperhatikan. Sederhananya, untuk apa membuat sesuatu yang tidak akan dipakai, kan?
3. Build
Pada tahap ketiga ini, mulailah dibuat timelinerencana kerja selama beberapa bulan ke depan. Bisa juga dengan mendata fitur-fitur apa saja yang ingin ditambahkan pada produk. Ini juga tahap ketika dilakukan eksekusi untuk menyempurnakan produk dari yang baru berupa prototype menjadi produk jadi yang memiliki nilai jual.
4. Chasms
Pada gambar di atas, terlihat bahwa grafik menunjukkan penurunan pada tahap ini. Chasms atau bisa diartikan sebagai jurang adalah ujian utama bagi kelangsungan sebuah produk startup . Founders perlu melakukan market research untuk mengetahui apakah produknya ada yang mau memakai atau tidak, apakah dibutuhkan atau tidak. Begitu juga dengan sisi pengembangan produknya, perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah produknya user-friendly atau tidak. Karena terkadang ada founderyang ingin memadatkan banyak fitur pada produknya dan malah menyulitkan pengguna. Selain itu, marketing juga perlu digenjot di tahap ini. Karena marketing paling berperan dalam menimbulkan awareness konsumen terhadap produk. Bahkan di Amerika dan Eropa, budget untuk marketing bisa mencapai 1/3 atau 1/2 dari total dana yang dipakai untuk pengembangan startup . Terakhir, founderjuga perlu melihat feedbackdari konsumen dan menyesuaikan produknya sehingga sesuai harapan konsumen.
5. Scale
Pada tahap ini, yang dilakukan lebih kepada pengembangan dari apa yang telah dilakukan di tahap sebelumnya. Mulai dari menstabilkan infrastruktur yang ada, melanjutkan pemasaran dan penjualan, serta pengembangan lebih lanjut pada produk.
6. Mature
Ini bisa dibilang sebagai tahap aman bagi startup . Kondisi ketika startup telah dewasa dan stabil.
7. Exit
Ada 3 pilihan yang bisa diambil oleh founder pada tahap ini. Yang pertama adalah merger/acquisition , yaitu bergabung dengan pihak lain yang memiliki kemiripan visi. Hal ini menguntungkan dari sisi finansial karena ada suntikan dana. Lalu yang kedua adalah IPO , yaitu merilis saham ke pasar modal, seperti yang baru saja dilakukan oleh Facebook. Di sini, startup masuk ke bursa saham dan akan mendapat suntikan dana dari hasil penjualan saham. Yang ketiga adalah closed downatau bahasa kasarnya ditutup. Yang terakhir ini dilakukan apabila produk yang dibuat sudah tidak menguntungkan lagi.

Berikut ini adalah perbandingan antara bekerja di korporat dan startup

Screenshot (2)

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang tentunya ditentukan oleh kepribadian si pelamar kerja yang bersangkutan. Ada orang yang memang lebih cocok di startup, namun ada juga yang lebih cocok bekerja di korporat.

Sumber: Seminar Startup Uncensored 16 Mei 2016 dari BEM Fasilkom UI dan Job Planet

#30DaysWritingChallenge #19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s