Tokyo Tower

image

Hanya dengan kehadiranmu
Hanya dengan kehadiranmu
Suasana menjadi lebih ceria
Hanya dengan kehadiranmu saja
Perasaan semua orang menjadi tenang
Aku pun ingin menjadi seperti itu

Dari judulnya saja, menurut saya buku ini sudah cukup menarik. Tokyo Tower: Antara Aku, Ibu, dan Terkadang Ayah. Yang bisa ditangkap pertama kali dari judul tersebut “mungkin novel ini berbicara tentang keluarga”. Ya, hal tersebut benar adanya. Novel ini memang bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki yang bernama Nakagawa Masaya yang dalam novel ini berperan sebagai tokoh aku. Sebagai seorang anak, kehidupan Masaya cukup rumit karena ayah dan ibunya tidak tinggal bersama. Setelah Masaya berumur 3 tahun, ia dan ibunya beberapa kali berganti tempat tinggal dari yang semula di Kokura, Prefektur Fukuoka ke tempat bibinya, hingga akhirnya tinggal di tempat neneknya dari pihak ibu di Chikuho. Selama berada di Chikuho ini, digambarkan proses perkembangan interaksi antara Masaya dengan ibunya. Masaya yang hampir semua kebutuhannya dipenuhi oleh ibunya, walaupun keadaan hidup mereka pas-pasan tampaknya lebih cepat dewasa ketimbang teman-teman seumurannya di sekolah. Dia merasa ingin hidup mandiri selepas SMP.

Hal tersebut yang kemudian mengantarkannya untuk merantau pertama kali demi bersekolah di sekolah seni di Beppu. Pada bagian ini sedikit digambarkan proses interaksi antara Masaya dengan ayahnya, bagaimana sang ayah yang jarang bertemu turut membantu dan memotivasi sang anak untuk bisa bersekolah di sekolah seni tersebut. Penulis buku menggambarkan bagaimana kepribadian Masaya sedikit demi sedikit berubah ketika dia tinggal sendirian. Seperti mulai sering bolos sekolah, menghabiskan uang untuk bermain pachinko, merokok, dan lain-lain. Namun di sinilah menariknya, bagaimana hubungan ibu dan anak tersebut mampu saling mendukung hingga Masaya bisa lulus dari sekolah seni di Beppu tersebut dan kemudian juga lulus kuliah dari Musashino Art University Tokyo.

Sihir yang dimiliki buku ini adalah penggambaran yang sangat realistis dan nyata. Terutama bagi para pembaca yang merasakan bagaimana hidup jauh dari orang tua. Penulis buku ini mampu menggambarkan periode kepribadian seorang anak dari periode anak-anak, periode membangkang pada orangtua yang umumnya dialami oleh anak remaja, hingga ke periode merawat orangtua sendiri yang sudah tua. Salah satu hal yang membuat saya bingung adalah penulis buku ini menggunakan nama pena Lily Franky yang merupakan nama perempuan, namun dia bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana kehidupan Masaya sebagai laki-laki, terutama pada perubahan kepribadiannya. Hal tersebut terjawab ketika saya mengetahui di akhir cerita bahwa Lily Franky tak lain dan tak bukan adalah Nakagawa Masaya itu sendiri. Buku ini adalah autobiographical novel yang berdasarkan pada kisah hidup penulisnya.

Sejujurnya saya merekomendasikan buku ini. Terutama kepada mereka yang hidup sendiri jauh dari keluarganya. Ada sedikit obat yang saya rasakan ketika membaca bait demi bait kalimat pada buku ini. Walaupun ditulis dengan gaya bahasa kekinian, namun tidak mengurangi substansi yang ingin disampaikan. Yaitu tentang pentingnya keluarga, yang mungkin baru akan kita rasakan ketika sudah kehilangan. Bagi yang kurang suka membaca buku, karena memang buku ini cukup tebal halamannya ada sekitar 400 halaman, buku ini sudah diadaptasi ke film layar lebar dan TV series dengan judul yang sama. Hanya saja, menurut saya ceritanya lebih dibahas secara mendalam di dalam bukunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s