Meet Mother Russia! – Last Days

Day 7 – 11 Oktober 2015

Jam 4 pagi, ada pesan dari Augustine “I’ve just arrived in Yakutsk.” Sementara aku masih berada di Hotel FEFU. Hari ini kalau di jadwal summit adalah hari kepulangan para delegasi, namun para delegasi Indonesia selain Ilham masih tinggal di hotel karena mengincar tiket promo tanggal 12 Oktober. Ilham, teman sekamarku, meninggalkan hotel pukul 11.00. Sementara delegasi Indonesia yang lain ada kegiatan diskusi mengenai rencana pembentukan organisasi Russia-ASEAN Youth Council bersama Permira Vladivostok serta penjelasan mengenai beasiswa yang disediakan oleh FEFU. Namun aku nggak ikut karena memang masih ngerasa nggak enak badan. Hal yang kulakukan cuma browsing, download, sambil nyoba buffer pelajaran Bahasa Rusia di YouTube. Tadinya kupikir aku cuma akan menghabiskan waktu sendirian dan nggak ngapa-ngapain seharian ini.

Sekitar jam 4 sore, tiba-tiba Umam mengajakku untuk pergi ke pusat kota Vladivostok untuk mencari oleh-oleh. Aku pun akhirnya ikut karena memang belum cukup bawa oleh-oleh. Kami sempat bingung bis apa yang harus dinaiki untuk bisa ke center. Kami sempat turun di halte tempat gembok itu, karena bingung. Dari modal bertanya dan menengok ke Google Maps, ternyata kami perlu naik bis 15 untuk bisa ke center. Ada lebih dari 1 jam perjalanan yang kami habiskan dari kampus FEFU sampai ke pusat kota.

Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di pusat kota adalah mengecek toko souvenir angkatan laut dekat Hostel Vladivostok. Kami sampai di depan toko itu hanya 5 menit setelah jam 18.00. Namun pemilik toko tidak mengizinkan kami masuk dan segera menutup tokonya. Kami lupa kalau weekend toko itu tutup jam 18.00. Untuk hal ini sepertinya orang Rusia begitu disiplin, mungkin kalau di Indonesia kami masih diizinkan untuk masuk. Akhirnya kami putuskan untuk makan dulu di restoran yang biasa ketika kami masih menginap di Hostel Vladivostok, dan itu adalah terakhir kalinya kami makan di tempat itu. Kemudian kami membeli souvenir di sebuah toko lain yang tulisannya Russian Souvenirs, walaupun harganya agak mahal, akhirnya kami tetap membeli beberapa barang di toko itu.

Beres dengan souvenir, kami kemudian pergi ke toko parfum yang terletak di sebelah kantor cabang MTC di pusat kota. Ceritanya Umam mau bawa oleh-oleh parfum untuk ayahnya. Di toko itu, parfumnya sebenarnya kebanyakan buatan Prancis dan harganya pun kebanyakan di atas 2000 rubel. Cukup mahal memang. Tapi Umam memang sudah bertekad untuk balas budi ke ayahnya karena sudah diberi sangu yang cukup banyak untuk perjalanan ke Rusia ini. Aku sebenarnya kepikiran hal yang serupa, tapi sepertinya bapakku ataupun ibuku nggak terlalu mengharapkan oleh-oleh. Kupikir matryoshka yang aku beli sudah cukup untuk dijadikan pajangan di rumah yang akan kubawa ketika aku pulang kampung di liburan semester nanti.

Hal yang paling lucu dan tak terlupakan hari ini adalah ketika kami bertemu dengan seorang laki-laki yang kelihatannya agak nggak normal. Kami hendak mencari kue atau permen bungkusan gitu buat oleh-oleh, rencananya mau cari minimarket gitu di sekitar pusat kota. Karena tidak tahu jalan, akhirnya kami menanyakannya ke orang yang kami temui di jalan, kebetulan kami bertanya ke seorang remaja laki-laki. Dia tampak bahagia, memakai tas selempang, dengan pakaian khas mahasiswa, kupikir dia seorang mahasiswa. Dia terlihat kesulitan menjawab pertanyaan kami, jadi kami sodorkan saja kertas kosong untuk dia gambar denah disana. Tapi kemudian dia malah menggambar sesuatu yang aneh, sambil menggumam-gumam sendiri dan tersenyum. Beberapa saat kemudian, datang seorang wanita yang bertanya “Are you smoking?” dan disahut dengan jawaban yang aneh juga dari si laki-laki. Kedua orang itu seperti menemukan oase di padang pasir, aku dan Umam sudah mulai mencium something fishy dari sini. Ketika kami meminta buku dan pulpennya, si laki-laki malah menyembunyikan pulpen Umam di balik badannya dan kemudian meminta kami memilih left or right. Dia ingin main tebak-tebakan! Kayaknya orang ini lagi mabuk. Akhirnya kami ladeni dan untungnya benar. Dia mengatakan namanya Eugene, ya sudahlah, haha. Untungnya orang berikutnya yang kami tanyai langsung memberikan petunjuk yang jelas buat ke minimarket, dan sampailah kami disana. Petugas minimarket disini tampak tidak ramah, beda dengan kasir pada umumnya di Indonesia. Walaupun begitu, pelayanannya cepat.

Ketika kami balik ke kampus FEFU, bisnya sangat penuh dengan muda-mudi yang kira-kira seusia dengan mahasiswa. Kami mengasumsikan bahwa para mahasiswa ini berniat kembali ke kampus setelah menghabiskan weekend untuk bermain di pusat kota melepas penat. Umam bahkan sempat menganalisis karakter warga Vladivostok. Enaknya jadi orang asing disini adalah kita bebas ngomongin orang di depannya langsung tanpa takut orang tersebut merasa tersinggung atau omongan kita diketahui oleh orang lain, hehe.

Day 8 – 12 Oktober 2015

Hari ini adalah hari terakhir di Vladivostok. Sungguh 8 hari ini adalah pengalaman yang luar biasa dalam hidupku. Pengalaman pertamaku pergi ke luar negeri, dan itu bukan untuk sekadar jalan-jalan, tapi mengikuti sebuah acara yang mengajariku banyak hal. Aku mencoba merenungi hari terakhir ini sambil menatap pemandangan pantai di depan kampus FEFU dari jendela kamarku. 8 hari yang luar biasa, bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Orangtuaku ingin agar aku mencoba mendaftar ke Kementerian Luar Negeri usai lulus dari UI nantinya. Entah takdir akan berkata apa di masa depan nanti. Dari jendela, pohon-pohon masih berwarna kecoklatan khas musim gugur, pemandangan yang tak mungkin bisa disaksikan di Indonesia yang cuma memiliki 2 musim. I wonder when could I get a chance to visit Russia again? Ada beberapa kota besar di Rusia yang masih aku ingin eksplorasi, Moskow yang merupakan ibukota Rusia, Sankt Peterburg yang kental dengan nuansa Eropa-nya, Yakutsk yang sangat dingin dan juga kampung halaman Augustine, dan Kazan yang merupakan tempat dengan komunitas Muslim terbesar di Rusia.

Kami berangkat dari hotel tepat jam 11, kembali bersama Paint dan Kritaphat. Kami bareng datangnya dan bareng juga pulangnya. Di dalam bis, sepanjang jalan menuju bandara, Anggit memutar lagu-lagu galau Sheila On 7. Rasanya aku jadi ikut baper, bakal kangen sama Rusia nih, terlebih Vladivostok. Tapi memang hidup itu selalu berubah. Kalaupun aku terus menerus di Vladivostok, aku nggak akan ketemu lagi dengan teman-teman dari summit. Karena yang membuat memori itu bukan hanya tempat, tapi juga orang-orang di dalamnya. Sekali lagi, yang membuat memori itu adalah manusia, senyum dari orang-orang, yang dibingkai oleh indahnya tempat.

IMG_20151012_115554.jpg
Berpisah dengan Vladivostok, kembali ke Indonesia

 Depok, 20 Oktober 2015 21:30 WIB dalam hangatnya malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s