Meet Mother Russia! – Day 6

Day 6 – 10 Oktober 2015

Nggak terasa, sudah hari keenam aku pergi dari Indonesia dan sudah hari kelima aku berada di Rusia. Hari ini pun adalah hari terakhir dari rangkaian Third Russia-ASEAN Youth Summit 2015. Seperti halnya kemarin, hari ini pun kami mempunyai jadwal untuk workshop. Kali ini workshop dimulai pagi sehabis sarapan, karena nggak ada plenary session seperti kemarin. Workshop yang kedua di grup satu mengambil tema besar tentang ASEAN Socio-Cultural Community dengan topik How can Russia and ASEAN promote tolerance towards other nations through proper education and youth contact? What can be the role of NGOs in this process? Menurutku sesi kali ini lebih menarik daripada yang kemarin. Yang menjadi keynote speaker di sesi ini adalah Mr Kim Rithy, vice chairman dari Union of Youth Federation of Cambodia atau UYFC. Sesuai pendapat R. Putman, beliau menjelaskan bahwa social capital dapat dibangun dari 3 hal, yaitu networking, trusting, dan reciprocity. Reciprocity dapat diartikan sebagai memiliki satu sama lain dan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan. Selain itu kita perlu melakukan bridging dibandingkan dengan hanya bonding, artinya membangun jaringan yang lebih luas lagi dengan cara menggabungkan antara satu jaringan yang sudah kuat dengan jaringan yang lain lagi. Contoh sederhananya, mungkin adalah kerjasama Rusia dengan ASEAN.

12080131_313948872062760_2764061778485070823_o.jpg
Mr. Kim Rithy, vice chairman dari Union of Youth Federation of Cambodia (UYFC)

Hal sukses yang sudah dicapai beliau selama membuat gerakan di UYFC adalah mengadakan kegiatan International Youth Cultural Festival di Cambodia pada pertengahan tahun ini. Kegiatan tersebut berupa festival pertukaran kebudayaan yang diikuti oleh 142 delegasi dari 16 negara, yang terdiri dari 10 negara ASEAN, Cina, Jepang, India, Rusia, Korea, dan Australia. Hasilnya adalah timbul awareness, kesadaran dari masing-masing negara tentang pentingnya budaya mereka masing-masing dan lebih menghargai perbedaan. Hal tersebut juga menjadi forum yang mampu mewadahi pemuda dari ke-16 negara tersebut untuk bertemu dan bertukar pikiran untuk kerjasama yang dapat dilakukan di masa depan. Beliau juga meng-encourage kami untuk menjadi tuan rumah dari International Youth Cultural Festival kedua di masa depan nanti.

12015100_313948928729421_8343768448103938837_o
Suasana ruangan di sesi workshop group 1

Setelah sesi materi di workshop, ada presentasi dari masing-masing pihak Rusia dan ASEAN. Dari ASEAN, yang mewakili adalah Supadcharee Rueangsittichai, seorang mahasiswa asal Thailand yang sedang mengambil master degree di MGIMO University. Masing-masing menyampaikan tentang toleransi seperti pada topik. Delegasi dari Rusia menyampaikan bahwa intoleransi adalah ignorance yang biasanya disebabkan oleh ketakutan pada hal-hal yang masih belum diketahui. Dengan pendidikan, kita bisa meningkatkan kerjasama regional, menguatkan networking antara satu negara dengan negara lain, dan ada pertukaran budaya. Pendidikan juga bisa menjadi solusi untuk menghapuskan intoleransi karena membuat pertukaran informasi menjadi lebih baik sehingga mengurangi persepsi yang salah. Sementara Kate, yang dari Thailand, menyampaikan bahwa edukasi dapat memicu toleransi dari individu, harus dimulai dari sektor publik maupun swasta, dan perlu ada usaha lebih dari kedua pihak untuk mempelajari budaya masing-masing (antara ASEAN dan Rusia). Untuk pemuda, kerjasama bisa ditingkatkan dengan mengadakan lebih banyak event sehingga memperbanyak kontak. NGO perlu hadir sebagai pemberi nasehat, serta menghubungkan antara pemuda dengan pihak yang mempunyai otoritas, dan meningkatkan awareness di masyarakat. Media perlu menjadi sesuatu yang netral di tengah banyaknya tekanan kepentingan.

Yang membuat seru sesi hari ini adalah proses drafting yang dilakukan langsung dalam grup, artinya kami langsung berdiskusi bersamaan tanpa grup kecil. Masing-masing langsung mengemukakan pendapatnya. Beberapa hal yang sempat diusulkan yang sempat aku ingat seperti perlu ada usaha untuk memahami kebutuhan dari negara mitra yang ingin diajak bekerjasama. Misalnya, menyediakan space untuk beribadah di kampus. Lalu juga membuka lebih banyak Program Studi Rusia di negara-negara ASEAN dan Program Studi tentang negara-negara ASEAN di Rusia. Perlunya membangun ASEAN Center di Vladivostok, dan lain-lain. Aku merasa di sesi terakhir ini jauh lebih banyak belajar mengenai diplomasi.

Usai dengan workshop, kami makan siang dan segera bersiap untuk Vladivostok city tour.

IMG_20151010_190043.jpg
Bersama dengan Ambassador Djauhari Oratmangun, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Federasi Rusia merangkap Belarusia
12096354_877241885687229_5100450763047753533_n.jpg
Workshop Group 1

Untuk city tour ini, seluruh delegasi dibagi menjadi dua kelompok yang masuk ke dalam dua bus. Hal yang cukup disayangkan, city tour ini kurang membaur anggotanya. Kebanyakan masih bergerumul dengan kelompoknya masing-masing. Kami dibawa ke stasiun kereta api Vladivostok yang disana terdapat kereta uap Trans-Siberia dari abad ke-19 yang sudah dijadikan monumen. Lalu kami juga sempat mengunjungi tempat yang sempat aku dan teman-teman delegasi Indonesia kunjungi di hari pertama kami ke Vladivostok, tempat yang ada banyak gemboknya itu. Dan terakhir, kami pergi ke museum kapal selam. Itu benar-benar literally sebuah kapal selam yang sudah tidak difungsikan bekas dari perang dunia kedua dan sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Isinya banyak dokumen-dokumen penting dan foto-foto lama. Di depan kapal selam tersebut, ada monumen dinding yang bertuliskan nama-nama pejuang angkatan laut Rusia yang gugur dalam perang di masa lalu. Serta ada monumen api abadi, tempat Ilham duduk tersungkur disana. Aku merasa orang ini freak sekali, hehe. Di perjalanan ini, bisnya diisi oleh delegasi Indonesia dan teman-teman dari MGIMO. Aku paling suka dengan Maxim, karena dia sangat ramah dan mau jadi teman mengobrol selama perjalanan ini. Dia murah senyum dan sangat baik. Setelah kami sampai kembali di kampus FEFU, aku memberikan pin bendera Indonesia-Rusia yang aku dapatkan dari Pak Djauhari kepadanya. Ya siapa tahu, di masa depan dia bakal jadi duta besar atau gimana kan nggak ada yang tahu, hehe.

vladivostok_4073.jpg
Indonesia-Russia!
IMG_20151010_145000.jpg
Museum kereta api di jantung Kota Vladivostok, konon perjalanan menggunakan kereta api Trans-Siberia rute Vladivostok-Moscow memakan waktu seminggu lamanya
IMG_20151010_145755.jpg
Patung dari Vladimir Lenin, pelopor komunisme di masa Uni Soviet
IMG_20151010_151155.jpg
Pernikahan di Rusia
IMG_20151010_151433
Museum Kapal Selam Vladivostok, kapal selam pada masa Perang Dunia Kedua yang sudah tidak digunakan ini dimuseumkan

Setelah dari city tour dan coffee break, para delegasi Indonesia langsung latihan buat perform. Rada dikejar deadline sebenarnya, karena kami baru mulai serius latihan jam 6 sore dan jam 9 malamnya sudah mulai acara awarding dan penutupan. Beberapa saat sebelum jam 9, si Augustine bilang kalau dia mungkin nggak bisa menyaksikan kami tampil karena jam 22.00 sudah harus meninggalkan kampus FEFU menuju ke bandara. Aku agak kaget, bingung juga harus bagaimana bersikapnya ke dia dengan waktu yang terbatas ini. Jam 9 malam, dia masih datang ke lantai 12. Penutupannya agak ngaret, karena baru dimulai jam 21.30.

Kegiatan penutupan dimulai dengan sesi awarding yang dilakukan oleh Prof. Sumsky kepada para keynote speakers dan pihak-pihak yang turut membantu suksesnya acara Third Russia-ASEAN Youth Summit 2015 ini. Pada akhirnya, Augustine pergi jam 22.00 dari ruangan. Aku sempat bengong sekitar 5 menit sebelum sadar, bahwa mungkin saja aku nggak bisa ketemu dengan dia lagi secara langsung untuk waktu yang lama, bahwa dia adalah orang non-Indonesia di acara ini yang paling akrab denganku, bahwa aku ingin say a proper good bye ke dia sebelum dia pergi. Tiba-tiba aku kepikiran buat ngasih pulpen batik yang sedang aku pegang ke dia. Langsung saja aku lari ke lift dan turun ke bawah. Aku sempat panik ketika melihat keluar dari gerbang utama FEFU, disana sudah sepi banget dan nggak kelihatan seorang pun yang terlihat mirip dengan Augustine. Aku mulai panik, tentu saja. Apalagi baterai HP-ku tinggal 5% dan ruang gerakku terbatas oleh WiFi kampus karena aku nggak tahu pasti posisinya si Augustine. Pesan Line yang kukirim ke dia pun nggak langsung dibalas, ada dua kali kutelepon dan hasilnya pun nihil. Aku bagai orang yang menemukan oase di padang pasir ketika dia membalas pesan Line-ku, dan ternyata dia sedang berada di hotel. Sumpah aku sudah hopeless banget, mengira dia sudah di perjalanan ke bandara atau gimana gitu saat itu. Langsung saja aku berlari ke hotel, cuma pakai batik lapis 1 dalam dinginnya malam, rasanya seperti disayat-sayat. Fortunately, ternyata dia masih duduk di ruang tunggu lantai 1 hotel. Begitu aku bertemu dengannya, tanpa ba-bi-bu langsung saja aku berikan pulpen yang sedari tadi aku pegang dan aku katakan “This is a souvenir from Indonesian Delegates, please take this with you.” Aku mencoba menghindari sesuatu yang lebih privat, karena aku tahu kita hidup di dunia yang benar-benar berbeda. Ketika aku mencoba membayangkannya, sepertinya ekspresi mukaku saat itu mirip dengan Pad ketika menembak Earn di film Thailand yang berjudul Suck Seed. Aku melihat wajah Augustine kelihatan terharu, dan dia memelukku. Dia menjawab “Thank you, I will miss you. You will always welcome to Yakutsk.” Dan kurasa aku sudah melakukan a proper good bye kepada sahabat Rusia terbaikku ini. Entah kenapa scene ini mirip di film-film, haha.

1444474154256.jpg
Commemorative Photo dengan Augustine, sahabat terbaik di acara ini 🙂

Setelah berpisah dengan Augustine, aku langsung balik ke gedung utama FEFU tempat acara penutupan tadi. Waktu pergi ke hotel tadi, aku hanya menghabiskan 5 menit, tapi kemudian waktuku habis jauh lebih banyak pas kembali karena aku nyasar! Bayangkan betapa paniknya aku ketika itu. Aku mencoba mengirim pesan ke teman-temanku buat nanya apakah perform-nya sudah mulai atau belum, namun nggak ada yang jawab. Firasatku benar ternyata, ketika aku balik, teman-temanku udah selesai tampil dan nggak ada yang sadar kalo aku nggak ada. -__- Aku pun menjadi bulan-bulanan disana. Tapi ya sudahlah, yang sudah terjadi ya terjadilah. Mana mungkin bisa diputar balik lagi. Kemudian ada penampilan dari teman-teman MGIMO yang menyanyikan lagu Katyusha, lagu national anthem dari Federasi Rusia. Setelah itu, teman-teman Thailand menampilkan tarian mereka yang merupakan tarian mix antara tradisional dan modern. Lima delegasi Thailand itu, Kritaphat, Joe, John, Paint, dan Yumelaa menari bersama-sama sambil kemudian mengajak penonton yang lain ikut menari. Yang paling lucu menurutku adalah ketika si Roman Grishanov, dia adalah mahasiswa S2 MGIMO yang dulu sempat belajar di UGM, menyanyikan lagu dangdut Alamat Palsu. Dia bahkan mengajak para delegasi Indonesia ikut bernyanyi di panggung. Sungguh nggak terbayangkan bakal nyanyi dangdut di Rusia dan dipandu oleh bule pula, haha.

Usai dengan pesta, aku makan sisa hidangan yang ada di meja prasmanan, karena aku lapar banget belum makan malam. Ketika aku duduk sendirian, ada seseorang yang tiba-tiba mendekat. Dia adalah Jie Sheng, delegasi asal Malaysia yang sedang belajar di Ural, yang kutemui di hari pertama. Kami mengobrol tentang kesan pesan terhadap acara ini, dan rencana kami kedepannya setelah acara ini. Masih seperti hari pertama, dia masih agak kelihatan terpaksa buat tersenyum, hehe. Tapi aku rasa dia sebenarnya baik, hanya kurang ekspresi saja. Kami akhirnya bertukaran akun Facebook dan berpisah. Dia langsung ke hotel bersama teman-temannya dari Malaysia, sementara aku dan para delegasi Indonesia berkumpul dulu di lantai 6. Kami membicarakan rencana barbeque-an, tapi aku sudah sangat ingin istirahat karena rasanya nggak enak badan banget. Mungkin karena tadi lari-larian cuma pakai batik lapis 1 di tengah dinginnya malam Vladivostok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s