Meet Mother Russia! – Day 5

Day 5 – 9 Oktober 2015

Hari ini akhirnya dimulailah perhelatan resmi dari acara ini. Usai sarapan, acara Third Russia-ASEAN Youth Summit. Seluruh peserta acara beserta Keynote Speaker berkumpul di ruang konferensi. Acara dimulai dengan masing-masing keynote speaker menyampaikan pendapatnya masing-masing tentang kerjasama yang bisa dilakukan antara Rusia dengan ASEAN. Bisa dibilang, sebelum yang muda berbicara, kami diberi contoh terlebih dahulu bagaimana para profesional melakukan proses diplomasi di forum internasional. Karena memang keynote speaker yang dipilih disini memang orang-orang yang profesional di bidangnya. Ada Ambassador Alexander Ivanov yang sempat menjadi Duta Besar Federasi Rusia untuk RI, Timor Timur, dan Papua Nugini. Ada pula Ambassador Rosario G. Manalo dari Filipina yang sempat menjadi Duta Besar di beberapa negara di Eropa Barat seperti Belgia, Prancis, dan Spanyol. Ada pula Profesor Kriengsak Chareonwongsak, seorang Thailand yang sempat mengenyam pendidikan di 3 almamater prestis dunia, Harvard, Cambridge, dan Oxford. Beliau sekarang menjabat sebagai prime minister advisor di negaranya, Thailand. Bahkan ada juga Wakil Gubernur Provinsi Primorskiy Kray tempat Vladivostok berada.

vladivostok_8147.jpg
Suasana plenary session, masing-masing profesional menyampaikan pendapatnya

Sebenarnya aku agak sulit mengikuti diskusinya, karena diskusi ini dilakukan dalam 2 bahasa. Para profesional dari Rusia berbicara dalam Bahasa Rusia, sementara profesional dari ASEAN berbicara dalam Bahasa Inggris. Hal ini agak disayangkan sih, karena sudah tertera di proposal acara bahwa bahasa resmi yang digunakan dalam acara ini seharusnya adalah Bahasa Inggris. Mungkin ini salah satu hal yang menghambat diplomasi Rusia dengan ASEAN, kebanyakan orang Rusia masih gengsi untuk bisa berbahasa Inggris! Dari yang bisa kutangkap melalui interpreter, para profesional Rusia tersebut mencoba meyakinkan bahwa Vladivostok dapat menjadi kota transit yang menghubungkan antara negara-negara Asia dengan Eropa, mempermudah transfer baik barang maupun penumpang, dan mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk pengiriman, serta menjadikan FEFU sebagai institusi yang mampu menjadi tempat belajar bagi para mahasiswa dari ASEAN yang ingin belajar di Rusia. Sementara para profesional dari ASEAN lebih terlihat seperti menguji keyakinan pihak Rusia dalam mempertahankan argumennya. Dari yang kulihat, sepertinya diplomasi bukan hal yang sulit asalkan kita benar-benar memainkan dengan benar pengetahuan terkini yang kita miliki.

1446378380060.jpg
Beberapa delegasi Indonesia dan Thailand bersama Prof Charaeonwongsak, prime minister advisor Thailand

Seusai plenary session tadi, ada lunch di kafetaria yang kemudian dilanjutkan dengan sesi workshop 1. Di workshop 1 ini, kami dibagi ke dalam 3 grup yang masing-masing membahas tentang satu dari tiga pilar ASEAN Community yaitu ASEAN Economic Community, ASEAN Socio-Cultural Community, dan ASEAN Political Security Community. Aku masuk dalam grup satu, yang membahas tentang ASEAN Economic Community untuk hari ini. Topik spesifik yang dibahas adalah What are ASEAN current aims in term of economic integration? What does ASEAN Economic Community mean for ASEAN dialogue partners? Seperti workshop pada umumnya, kami mendapatkan pemicu dulu dari pemateri. Yang menjadi pemateri di grup 1 adalah Profesor Kriengsak Chareonwongsak dari Thailand. Beliau begitu berapi-api dalam menyampaikan tentang ASEAN dan keuntungan ekonomi yang bisa didapatkan Rusia dari bekerjasama dengan ASEAN. Beliau memberikan 6 solusi praktis yang perlu dilakukan oleh kami sebagai para pemuda dari Rusia dan ASEAN untuk bisa memajukan kerjasama, yaitu:

  1. Concrete program, kami harus membuat program yang mampu diterapkan langsung dan tidak mengawang-ngawang. Jelas kapan, bagaimana, dan siapa yang akan mengeksekusinya.
  2. Dual degrees, beliau meng-encourage kami untuk tidak hanya mendalami satu bidang saja dalam studi. Misalnya sarjananya di bidang ekonomi, maka coba saja ambil master di bidang hubungan internasional.
  3. Flight link directly between Southeast Asia and Vladivostok.
  4. Change the name of our project into more interesting name. Beliau memberi contoh untuk membuat branding nama ASEAR atau Association of Southeast Asia-Russia. Nama adalah branding.
  5. Joint venture. Untuk bisa mengeksekusi suatu project yang besar, kita memerlukan partner. Maka beliau menyarankan untuk membuat proposal kerjasama sebanyak-banyaknya dengan lebih banyak pihak.
  6. Welcoming more details about Vladivostok and Southeast Asia development.

Setelah Profesor Chareonwongsak menyampaikan materinya, ada sesi presentasi dari masing-masing satu perwakilan dari pihak ASEAN dan satu perwakilan dari pihak Rusia. Dari ASEAN, diwakili oleh Loh Jie Sheng dari Malaysia. Dan aku lupa siapa yang mewakili Rusia. Untuk sesi presentasi di hari pertama ini kurang menarik, karena masing-masing hanya menyampaikan secara general tentang ASEAN Economic Community. Setelah presentasi, para peserta berkumpul per 4-5 orang untuk melakukan drafting rekomendasi yang perlu dilakukan pihak Rusia dan ASEAN terkait AEC. Aku satu kelompok dengan Augustine, Paint, dan 1 orang lagi yang namanya Belova Anna. Ide kami tak banyak, aku mencoba menambahkan tentang penghapusan visa tariff serta FTA antara Rusia dengan ASEAN.

And then, sesi hari ini berakhir dengan dinner. 🙂

1444395542540
Dinner bersama 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s