Meet Mother Russia! – Day 4

Day 4 – 8 Oktober 2015

12032702_1088123374532517_5354892456528643370_o
Bersama Mr John Milone (dokumentasi: Facebook)

Di hari keempat ini, kami akhirnya check out dari Hostel Vladivostok yang sudah kami tempati selama 2 hari dan pindah menginap ke Hotel FEFU. Kami mengucapkan selamat tinggal ke pemilik hostel yang ramah dan Mr John Milone, seorang bule Amerika yang juga tinggal di hostel dan sedang mengajar sementara di Vladivostok. Agak sedih sebenarnya ketika harus meninggalkan hostel, karena memang sudah merasa nyaman disini. Namun kembali pada tujuan utama kami disini, yaitu untuk mengikuti summit. Kembali kami mengangkut koper dari lantai 5 ke lantai dasar, lebih ringan karena tinggal turun saja. Kami agak telat ke kampus FEFU karena beberapa ada yang berpencar dulu ke toko souvenir ataupun membeli sarapan. Perjalanan ke kampus FEFU memakan waktu hampir satu jam dari pusat kota menaiki bis. Rutenya cukup mudah, karena kami tinggal naik bis nomor 15 yang memiliki tujuan akhir FEFU. Kami melewati beberapa jembatan selama perjalanan ke kampus.

IMG_20151008_131816.jpg
Pemandangan dari Hotel FEFU

Oh iya, kampus FEFU ini unik karena dia terletak di sebuah pulau tersendiri. Pulau itu bernama Russky Island. Konon ceritanya, dahulu kampus FEFU letaknya tersebar di beberapa titik di Kota Vladivostok. Mirip-mirip lah dengan UNPAD, UI, UNAIR, atau ITB yang saat ini keadaannya multikampus. Lalu di tahun 2012, Vladivostok menjadi tempat diselenggarakannya KTT APEC. Pemerintah Rusia kemudian membangun kompleks gedung di sebuah pulau terpisah untuk menjadi tempat diselenggarakannya KTT APEC tersebut, termasuk tempat tinggal para delegasi yang dibangun di dalam satu kompleks. Setelah KTT APEC selesai, kompleks gedung tersebut dialihfungsikan menjadi kampus baru Far Eastern Federal University. Gedung yang tadinya tempat tinggal delegasi menjadi asrama mahasiswa dan tempat tinggal bagi karyawan FEFU. Dengan gedung yang lebih modern, FEFU menjadi perguruan tinggi yang terkemuka di kawasan Russian Far East.

Sesampainya di kampus FEFU, kami langsung menuju kompleks hotel 1 tempat kami menginap. Satu kamar diisi oleh dua orang, aku sekamar dengan Ilham di kamar 717 yang terletak di lantai 7. Kamarnya sangat mewah, ada TV, 2 kasur, sebuah kulkas kecil, lemari dua pintu, koneksi WiFi yang kencang, dan WC yang dilengkapi bath-tub. Mbak Agnes bilang, asrama mahasiswa di FEFU sama bagusnya dengan hotelnya. Aku sulit membayangkan jika kamar di asrama mahasiswa UI bisa sebagus ini, kualitasnya berbeda jauh, hehe. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di hotel karena jam 11 ada sesi diskusi dengan seorang mahasiswa FEFU yang berasal dari sebuah negara di Afrika.

Kami berdiskusi dengan Mr. Joseph, beliau adalah warga negara Tanzania. Beliau sekarang sudah tahun kedua di FEFU, belajar tentang ilmu medis. Ia menceritakan tentang diskriminasi yang sempat dialaminya sebagai orang kulit hitam. Banyak orang yang mengidentikkan Afrika dengan sebuah negara, padahal di Afrika sendiri ada banyak negara yang masing-masing memiliki bahasa yang berbeda. Ada sekitar 2000 bahasa lokal dan 54 negara di Benua Afrika. Ia juga menekankan tentang bagaimana media membentuk persepsi orang-orang tentang Benua Afrika yang kebanyakan negatif dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Memang beberapa informasi yang disebarluaskan benar, seperti misalnya konflik antarsuku atau penyebaran penyakit ebola, namun pada faktanya banyak informasi yang kurang sesuai. Menurut analisis beliau, orang barat mencoba menyebarluaskan informasi yang keliru tentang Afrika agar mereka lebih bebas mengeksploitasinya, karena ada kebutuhan akan sumberdaya. Bagi beliau, Afrika adalah benua yang kaya sumberdayanya dan kaya akan budaya. Kalau di Eropa, yang pintar yang berkuasa, maka orang Afrika percaya akan bakat mereka masing-masing apapun itu.

vladivostok_5518.jpg
Mr Joseph, seorang mahasiswa medis di FEFU yang berasal dari Tanzania

Selesai dengan Mr. Joseph, kami kembali melanjutkan diskusi. Kali ini dengan Mr. Andrei. Beliau adalah dosen Ilmu Hubungan Internasional di Far Eastern Federal University. Beliau mencoba menjelaskan posisi politik dan ekonomi Rusia dengan negara-negara anggota ASEAN. Menurut analisis beliau, sejauh ini masih belum ada interaksi yang intens antara Rusia dengan ASEAN jika dibandingkan dengan antara Rusia dengan Cina dan Jepang. Masih belum ada proyek-proyek terkait di bidang teknologi dan ekonomi antara Rusia dengan ASEAN.

vladivostok_320.jpg
Prof Andrei, dosen HI di FEFU

Usai dengan 2 sesi diskusi yang cukup panjang tadi, ada sesi pertama dari summit. Bisa dibilang 2 sesi diskusi tadi hanya pra-nya, dan kali ini baru dimulai sesi yang melibatkan seluruh peserta summit. Pukul 4 sore, dimulailah sesi Russian language master class. Biarpun dibilang master, tapi ini hanya untuk mengajarkan frase-frase sederhana dalam Bahasa Rusia. Pematerinya mengajarkan kepada kami alfabet dalam Bahasa Rusia yang biasa disebut Kyril dan beberapa ucapan sederhana. Seperti zdravstuyte (halo), privet (hai), kak dela (apa kabar?), harassho (baik), dan lain-lain. Sayangnya pematerinya langsung menggunakan huruf tegak bersambung di papan tulis sehingga aku cukup kebingungan untuk mengikuti pelajarannya. Di sesi ini, aku berkenalan dengan orang Malaysia yang namanya Lao Jie Sheng. Dia sekarang sedang belajar Matematika di Ural State University. Orangnya pendiam dan hanya tersenyum kadang-kadang, tapi menurutku dia sebenarnya baik. Mungkin hanya perbedaan budaya. Dia tidak begitu fasih berbahasa Melayu, karena sudah 2 tahun tinggal di Rusia dan dengan keluarganya lebih sering menggunakan Bahasa Mandarin.

Beres dengan Russian language master class, kami langsung diarahkan untuk menuju ke lantai 12. Di lantai 12, sudah berdiri panggung besar yang menurutku megah sekali. Meja-meja dan kursi sudah tertata rapi, meja makan di sebelah kanan panggung sudah dipenuhi hidangan-hidangan ala karpet merah. MC langsung memasuki panggung dan membuka acara. Seperti acara pada umumnya, ada beberapa sambutan yang mengawali acara ini. Yang sempat aku ingat, ada sambutan dari Rektor FEFU, perwakilan mahasiswa ASEAN yang diwakili oleh Kate Rueang dari Thailand, dari MUN Russia Far East, dari MGIMO University yang diwakili oleh Professor Victor Sumsky, dari ASEAN yang diwakili oleh Ambassador I Gede Ngurah Swajaya, dan dari Indonesia yang diwakili oleh Ambassador Djauhari Oratmangun. Entah mengapa, aku merasa acara ini agak Indonesia-sided karena banyak sekali orang Indonesia, baik dari delegasi maupun pejabat yang hadir.

Di sesi makan malam ini, aku sempat berkenalan dengan beberapa orang, baik yang dari Rusia maupun dari negara-negara ASEAN. Yang paling berkesan tentu saja dengan seorang gadis dari Yakutsk yang namanya Chiryaeva Avgusta atau Augustine. Berbeda dari orang Rusia lain yang biasanya jutek ketika pertama kali ketemu, Augustine begitu ramah. Pertama kali melihatnya, aku mengira dia berasal dari Korea, Jepang, atau negara Asia lainnya, tapi ternyata dia asli Rusia! Oh iya, konon katanya Yakutsk adalah daerah terdingin di Rusia karena suhunya bisa mencapai -60 derajat Celcius di musim dingin. Suhu yang luar biasa dingin dan tak terbayangkan untuk kami yang biasa tinggal di daerah tropis. Augustine belajar Arsitektur di North Eastern Federal University, Yakutsk. Aku satu grup dengannya di grup 1, sehingga kami akan berjumpa lagi besok.

1444393567570
Bersama Augustine :3

Seusai makan malam, khusus delegasi Indonesia ada satu kegiatan lagi. Yaitu diskusi dan sharing session dengan orang-orang Kementerian Luar Negeri RI yang terdiri dari Ambassador I Gede Ngurah Swajaya (Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk ASEAN, Bakal Duta Besar RI untuk Singapura), Ambassador Djauhari Oratmangun (Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Federasi Rusia dan Belarusia), Ambassador Iwan Suyudhie Amri (Sekretaris untuk Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Bakal Duta Besar RI untuk Pakistan), dan Rahadian Wisnu Utomo (Sekretaris 2 KBRI Moskow). Kami berdiskusi tentang segala hal yang berhubungan dengan Indonesia-Rusia. Mulai dari latar belakang adanya Russia-ASEAN Youth Summit yang diinisiasi oleh Pak Ngurah bersama-sama dengan Professor Sumsky (ASEAN Center MGIMO University) yang bertujuan mendekatkan hubungan Rusia dengan ASEAN. Hingga masuk ke bagian yang spesifik seperti pandangan masyarakat Indonesia yang masih menstereotipkan Rusia dengan komunisme dan masih skeptis dengan adanya ASEAN. Bahwa Indonesia aktif dan berada dalam ASEAN adalah sebuah keniscayaan dan di masa depan baik Rusia maupun Indonesia akan saling membutuhkan untuk memajukan perekonomiannya.

vladivostok_3007.jpg
Sesi diskusi dengan Bapak Djauhari Oratmangun, Bapak Iwan Suyudhie Amri, Bapak I Gede Ngurah Swajaya, dan Bapak Rahadian Wisnu Utomo

Hari keempat ini cukup melelahkan, namun ilmunya begitu banyak dibandingkan dengan hari sebelumnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s