Meet Mother Russia! – Day 2

Day 2 – 6 Oktober 2015

1444136677089
Bandara Internasional Vladivostok, Knevichi

Sesampainya di Vladivostok, langsung terasa perubahan iklimnya dari iklim tropis menjadi subtropis. Begitu keluar dari pesawat, kami bertemu dengan 2 orang Thailand yang ternyata juga delegasi yang berangkat duluan karena promo tiket murah, hehe. Keduanya berasal dari Chulalongkorn University di Bangkok. Mereka adalah Kritaphat Tongpreecha dan Sawalporn Songsvrisuth (Paint). Kami berkenalan dengan mereka, dan Umam yang kebetulan punya kenalan dari Chulalongkorn University langsung cas-cis-cus dengan mereka. Begitu keluar bandara, kami sudah disambut oleh Mbak Agnes, Mas Kukut, Mas Ananta, dan Mbak Rebana dari Permira Vladivostok. Kami berfoto dulu di depan Bandara Internasional Vladivostok, lalu naik ke bus FEFU yang mengantarkan kami menuju ke kota. 2 teman dari Thailand tersebut pun ikut bersama kami. Perjalanan ke kota dari bandara cukup jauh, ada sekitar 1 jam waktu perjalanan tersebut. Padahal jalannya sangat kosong dan nggak macet sama sekali.

Kami menginap di sebuah penginapan yang terletak di depan Hotel FEFU lama. Sebuah penginapan yang dijaga oleh anjing yang galak. Sebenarnya kami menginap di penginapan tersebut hanya sampai pukul 9 di hari yang sama, karena Hostel Vladivostok yang menjadi tempat rencana kami untuk menginap masih belum available untuk ditempati. Ibu yang menjaga penginapan tersebut kurang ramah sebenarnya, dia tidak tersenyum sama sekali. Namun ia membuatkan kami teh. Kupikir memang begini tipikal orang Rusia pada umumnya, tidak banyak tersenyum namun sebenarnya baik. Di penginapan tersebut, kami yang sudah lapar akhirnya makan nasi telur yang sudah disediakan teman-teman Permira, beberapa ada yang memasak mie.

IMG_20151006_100253.jpg
Hostel di Rusia

Pukul 9 pagi harinya, kami sempat bersitegang dengan ibu pemilik penginapan karena dia ingin kami sudah meninggalkan hotel maksimal pukul 10 pagi. Sementara teman-teman Permira yang akan menjemput kami masih belum bisa dihubungi. Ibu itu menawarkan solusi untuk memanggilkan taksi yang akan membawa kami ke kota. Agak galak mungkin kelihatannya dari perspektif kita orang Indonesia yang biasa meninggikan asas kekeluargaan. Namun akhirnya teman-teman Permira yang menjemput kami pun datang dan selesailah masalah. Tiba-tiba ibu itu berubah raut wajahnya jadi penuh senyum, berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. Pengalaman yang aneh menurutku.

Kami menyeret koper-koper kami ke jalan turun ke bawah, hingga sampai di sebuah halte. Di halte tersebut, kami menaiki bis kuning bernomor 15 yang membawa kami ke center Kota Vladivostok. Begitu sampai di kota, mulailah terlihat suasana yang mirip dengan Eropa. Arsitektur bangunan yang tinggi-tinggi dan mepet-mepet, serta tulisan dengan abjad sirilik dimana-mana. Kami langsung menuju ke Hostel Vladivostok tempat kami menginap hingga tanggal 8. Hostel Vladivostok ini terletak di tingkat 5 dan nggak ada lift-nya. Jadi bayangkan saja bagaimana payahnya kami mengangkat koper yang beratnya lebih dari 10 kilogram menaiki tangga-tangga tersebut. Kamar di hotel kami cukup bagus menurutku. Tempatnya nyaman, pemiliknya mampu berbahasa Inggris, serta ada peraturan yang melarang untuk merokok, minum alkohol, serta beraktivitas yang menimbulkan suara berisik di atas jam 10 malam. View yang dapat kami lihat dari hostel pun cukup bagus. Kami dapat melihat langsung kantor gubernur Provinsi Primorskiy Kray dan satu dari tiga jembatan besar Vladivostok dari balkon.

Beres dari penginapan, kami kemudian diajak jalan-jalan oleh Mbak Agnes, Mas Kukut, Andre dan Alfa, mahasiswa Indonesia di FEFU. Tempat yang pertama kami datangi adalah money changer yang ada di dekat hostel. Disitu kami menukarkan dolar kami dengan mata uang rubel yang digunakan di Rusia. Aku hanya membawa 100 dolar yang merupakan sisa dari pembayaran visa yang aku dapatkan dari Mas Hambali. 100 dolar itu kutukarkan dengan 6400 rubel. Setelah itu, kami pergi ke sebuah restoran yang letaknya agak ke atas dari hostel. Itu adalah sebuah restoran prasmanan yang bisa kami pilih sendiri makanannya. Kalau di Indonesia kita hanya tinggal mikir untuk makan, maka berbeda halnya dengan di Rusia. Kita harus memastikan terlebih dahulu kalau makanan yang akan kita makan itu halal. Paling aman sih, langsung ngetag nasi sama ayam. Bahasa Rusia dari nasi adalah ris dan untuk ayam kita bisa bilang kuritsa. Sekali makan di restoran, bisa menghabiskan antara 100-200 rubel. Jumlah yang cukup mahal jika dirupiahkan. Karena itu, malam ini teman-teman Permira berniat membawa kami ke Tri Kata, semacam supermarket di Rusia. Kalau di Indonesia, mungkin sama dengan Hypermart atau Giant.

IMG_20151006_174316.jpg
Tempat menggantungkan gembok, konon katanya cintanya bakal abadi kalau bersama pasangan memasang gembok disini ❤

Beres dengan makan, kami pergi naik bis dan turun di halte yang sama dengan halte tadi pagi. Ternyata hanya berjalan beberapa ratus meter ke atas, ada sebuah tempat unik. Di tempat itu, ada patung Kyril, orang yang membawa ajaran Kristen Orthodox ke Rusia dan menemukan aksara sirilik. Selain itu, ada juga tempat untuk menaruh gembok yang mitosnya adalah cinta kita akan abadi ketika kita menempatkan gembok dengan seseorang yang kita cintai. Turun satu tangga ke bawah, ada tempat untuk membeli oleh-oleh. Aku memutuskan untuk masuk ke tempat oleh-oleh terlebih dahulu. Harganya cukup bervariasi. Untuk matryoshka paling murah seharga 450 rubel, gantungan kunci 50 rubel, kaos 690 rubel, dan kartu pos isi 12 seharga 150 rubel. Ketika itu aku nggak bawa duit banyak, jadi cuma beli oleh-oleh seadanya. Toh memang aneh rasanya kalau beli oleh-oleh di hari pertama kita datang, hehe. Beres dengan oleh-oleh, kami lanjut ke atas. Dari atas, kami dapat melihat langsung pemandangan Kota Vladivostok yang rapi, dipenuhi dengan kanal. Aku mencoba sesuatu yang kekinian, menulis pesan di kertas dengan latar belakang pemandangan kota dan hasilnya cukup bagus. Di tempat itu, ada banyak rombongan dari Cina yang juga ikut menikmati pemandangan tersebut.

IMG_20151006_175121
This is Russian San Fransisco! Pemandangan dari atas, zolotoy bridge.

Kami melanjutkan perjalanan ke Tri Kata menaiki bis. Gedungnya agak tersembunyi dari pinggir jalan, namun sangat besar. Di dalam Tri Kata, kami menemukan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Harganya bervariasi dari yang paling mahal sampai yang paling murah. Aku hanya membeli 2 bungkus borscht instan, serta makaroni dan roti yang join-an dengan Umam. Kesan untuk 24 jam pertama di Rusia, marvelous!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s