Generasiku, di Abad ke-21

“Apakah aku terlahir di zaman yang salah?” Pertanyaan itu seakan sebuah siksaan yang tak berujung. Walaupun aku tahu setiap orang memiliki jalannya sendiri dan memiliki tempat perjuangannya sendiri. Di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, ada suatu hal yang hilang dari kehidupan kita. Sesuatu yang biasa kita sebut “kebersamaan”. Ada yang mengatakan “Teknologi mendekatkan yang jauh, namun juga menjauhkan yang dekat”. Itu perumpamaan yang seakan menyindir betapa sebagian besar masyarakat abad ke-21 sangat bergantung pada teknologi. Ketika misalnya Anda duduk berhadapan dengan seseorang di sebuah rumah makan, bisa jadi yang dilakukan bukanlah mengobrol atau sekadar basa-basi, tapi menatap layar sebuah perangkat kecil di tangan yang oleh masyarakat biasa kita sebut dengan smartphone. Kita lebih disibukkan dengan orang lain yang entah ada dimana dibandingkan dengan orang yang ada di hadapan kita.
Sekali lagi aku bertanya “Apakah aku terlahir di zaman yang salah?” Karena aku merasa aneh ketika hidup di dunia yang seakan segala sesuatunya begitu transparan. Manusia seakan menjadi tanpa privasi. Update status di social media menjadi suatu gaya hidup yang tak bisa terlepas dari kehidupan di abad ke-21 ini. Betapa anehnya dunia ini ketika kau tak bisa hidup dengan memilih untuk menjadi diri Anda sendiri. Ketika kamu dengan terpaksa harus mengikuti kebiasaan aneh dari orang-orang yang hidup sezaman dengan Anda. Mungkin pernyataan ini cuma jadi sekadar pepesan kosong. Suatu kegelisahan di keseharian di era modern ini. Terkadang ada yang beralasan “Kalo ada teknologi seperti sekarang kan jadi mudah ngejarkomnya”, namun hal itu justru memperlihatkan betapa kurangnya toleransi generasi sekarang terhadap waktu. Dahulu orang bisa berkumpul dengan jumlah yang banyak, dengan membuat kesepakatan tentang waktu dan tempat sebelum berkumpul. Apa daya teknologi malah dijadikan alasan agar bisa menunda sebuah janji atau bahkan membatalkannya dengan segera. Suatu hal yang menakutkan bukan? Terkadang aku berpikir “Tidakkah lebih baik jika kita kembali ke zaman ketika kita masih menanam padi di sawah sendiri seperti dulu tanpa disibukkan oleh teknologi yang mengalihkan ini?” Walaupun ini mungkin cuma sekadar utopia dari seorang bocah abad ke-21 yang bahkan belum sampai 20 tahun usianya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s