Cerita Pindah Kuliah

SBMPTN_2014

Pindah kuliah? Bisa dibilang inilah dilema yang sempat kualami beberapa waktu yang lalu. Bagi kalian yang belum tahu, aku sebelumnya pernah berkuliah di sebuah PTN di Bandung di jurusan Farmasi selama 2 semester, tepatnya aku adalah angkatan 2013 disana. Mungkin ada banyak orang sepertiku  yang merasa salah memilih jurusan kuliah. Disini aku hanya ingin sedikit berbagi pengalaman (baca: curhat), untuk benar-benar menggali minat dan bakat sebelum memutuskan untuk memilih jurusan kuliah.

Dahulu berdasarkan tes psikologi sewaktu awal masuk SMA, aku disarankan untuk masuk ke jurusan IPA. Aku sempat bertanya-tanya, karena minatku sebenarnya adalah di bidang sosial. Kalau boleh jujur, mata pelajaran yang paling kusukai adalah sejarah. Tapi apalah daya, akhirnya masuklah diriku ke jurusan IPA tanpa membayangkan ingin menjadi apa nantinya. Saat orangtuaku bilang MIPA itu bagus, bisa jadi guru ataupun peneliti, akhirnya aku memilih MIPA jadi tujuanku untuk kuliah nanti sejak kelas 11. Hal itu berlanjut hingga masa-masa UN dan transisi dari SMA ke perkuliahan.

Aku gagal di SNMPTN, tapi diberikan rezeki oleh Allah untuk masuk di farmasi di SBMPTN. Waktu itu aku memilih farmasi karena secara keilmuan tidak jauh beda dengan MIPA, hanya sedikit lebih ke terapan. Hal itu baru kusesali ketika sudah memasuki dunia perkuliahan. Ternyata aku tak begitu menyukai hal yang namanya praktikum, merasa sangat kesulitan belajar biologi seperti di masa SMA, selain itu lingkungannyaa juga menuntutku untuk beradaptasi pada tingkat yang membuatku kesulitan untuk mengikutinya.

Aku sempat menghindari kuliah beberapa lama untuk meyakinkan diriku, bahwa perasaan ingin pindah ini bukan cuma sesuatu yang muncul karena kejenuhan sesaat, tapi memang dilandasi dari rasa ketidakcocokan dengan jurusan yang kuambil saat ini. Memang pilihan yang berat, tetap kuliah di tempat yang sekarang demi menjaga gengsi dan pamor, ataukah pindah ke jurusan yang memang kuminati agar passion-ku tersalurkan dengan baik? Ini pilihan yang sulit. Aku merasa bahwa setelah setahun mengikuti perkuliahan, tak banyak yang berubah dari sisi akademikku, dari sisi pergaulan sosial, juga dari sisi pengembangan karakternya. Sepertinya proses belajarku masih kurang tepat, atau tempat belajar saat ini kurang sesuai dengan ritme belajarku. Berarti harus ada salah satu variabel yang diubah agar tercipta kondisi yang mendekati ideal.

Tentu saja aku tak semata-mata langsung memutuskan untuk pindah kuliah. Aku banyak membaca artikel tentang pengalaman pindah kuliah, memang tidak banyak yang menge-share pengalamannya ketika pindah kuliah. Aku mencoba menilik dari sisi objektifnya, menempatkan diriku dalam posisi netral, kemudian menarik garis positif negatif nya ketika aku pindah kuliah atau ketika aku tetap berkuliah di tempat yang sebelumnya. Dan aku melihat puncaknya ketika tetap di tempat kuliah yang sekarang kurang sesuai dengan tujuan hidup yang ingin kucapai nantinya.

Sampai kemudian aku membaca artikel dari Mas Jamil Azzaini tentang Menemukan Passion. Yah aku juga masih bertanya-tanya tentang passion seperti apa sih yang aku miliki? Aku selalu merasa farmasi dan MIPA sekalipun bukanlah passion-ku, namun juga bingung ketika ditanya passion seperti apa yang kumiliki. Jadi menurut Mas Jamil Azzaini, cara menentukan passion itu adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

Pertanyaan pertama, apabila uang bukan masalah bagi Anda, artinya saat Anda perlu apa saja semua sudah tersedia maka sebutkan 5 pekerjaan atau aktivitas yang akan Anda lakukan dengan suka cita sepanjang hidup Anda. Aku menjawabnya dengan menulis, travelling, memancing, tidur, dan membaca.

Pertanyaan kedua, apabila finansial Anda terbatas, mana dari 5 pekerjaan atau aktivitas pada jawaban pertanyaan pertama yang bisa menghasilkan uang berlimpah dan cukup untuk kebutuhan hidup Anda? Jawabannya tentu saja menulis, seseorang bisa menjadi milyuner hanya dengan menerima royalti dari buku yang ia tulis, apabila buku itu sukses besar di pasaran.

Pertanyaan ketiga, sebutkan apa pekerjaan atau aktivitas yang Anda lakukan dengan mudah tanpa beban dan orang lain menilai Anda melakukan dengan sangat baik? Yang ini juga jawabannya, menulis! Mulai terbayang seperti apa passion diri ini yang sebenarnya.

Yang terakhir, untuk menguji bahwa itu benar-benar passion Anda. Apakah Anda bersedia berkorban mengeluarkan uang, energi dan waktu agar Anda menjadi yang terbaik di bidang itu? Apakah Anda rela melakukan pekerjaan itu walau tanpa dibayar? Dan jawabannya masih YA!

Mas Jamil Azzaini mengatakan bahwa kita harus cepat atau lambat dalam hidup ini menemukan passion kita, dan bekerja maupun beraktivitas mengikuti passion tersebut. Itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dalam beraktivitas di kehidupan. Sambil demikian, aku termenung membaca jawaban pertanyaan pertama, dikaitkan dengan mata pelajaran sejarah kesukaanku. Yang terbayang adalah jurusan sastra! Yah sastra, di jurusan sastra kita banyak membaca literatur kesusastraan dari negara yang kita pelajari, selain itu kita juga akan belajar tentang pranata sejarah dan kebudayaan dari negara tersebut, juga budaya menulis akan menjadi hal yang biasa. Namun, permasalahannya apakah orangtuaku akan mengizinkanku berkuliah di sastra?

Sampai kemudian tibalah waktunya untuk ujian SBMPTN. Aku mengincar jurusan Sastra Belanda UI, walaupun sebenarnya aku merasa orangtuaku tak akan mengizinkanku kuliah di jurusan sastra. Aku rasa memang sudah takdirnya aku berkuliah di sastra. Pengumuman SBMPTN di tanggal 16 Juli 2014 menunjukkan bahwa aku diterima di prodi Sastra Belanda Universitas Indonesia. Ibuku sempat khawatir pada awalnya. Di malam ketika aku diterima itu, aku mengobrol dengan bapak, ibu, Oom Didik, dan Tante Sari di teras rumah. Ketika itu bapakku cuma bilang kejarlah mimpi itu, sebelum nanti terkurung dalam pekerjaan yang membosankan dan kamu tak mempunyai minat padanya. Beliau agaknya cukup demokratis dan tak berusaha membatasi cara berpikirku. Oom Didik dan Tante Sari juga memberi saran untuk mengikuti passion, demi kebahagiaan di masa depan nanti. Sementara ibuku masih termenung.

Aku jadi teringat film 3 Idiots, dimana tokoh Farhan ingin menjadi seorang fotografer, profesi yang bisa dibilang tak menghasilkan uang dan kurang terkenal. Ayahnya menentang cita-cita Farhan habis-habisan dan menyuruhnya menjadi seorang engineer, akibatnya Farhan selalu memperoleh nilai yang buruk di perkuliahan. Sampai kemudian Rancho meyakinkan Farhan untuk memilih jalan hidupnya dan menjelaskan tentang apa yang menjadi cita-citanya kepada orangtuanya. Begitu pula yang kulakukan, aku berusaha menjelaskan kepada ibuku bagaimana dan apa yang akan kulakukan di masa depanku nanti setelah mendapat gelar S.Hum dari UI, bagaimana aku mungkin akan lebih bahagia ketika meniti jalan ini. Dan alhamdulillah akhirnya aku memperoleh restu kedua orangtuaku. Aku siap untuk berjuang, yah tak ada ampun lagi. Ini adalah jalan yang aku pilih dan aku harus mempertanggungjawabkannya kelak. Semoga Allah memberikan petunjuk untuk hamba-Nya agar menjadi lebih baik lagi!

Di tengah tenangnya malam,

Depok, 08 Agustus 2014 23:36 WIB

Advertisements

8 thoughts on “Cerita Pindah Kuliah

  1. bagaimana yan mas rasakan sekarang ini, apakah lbih baik dari sebelumnya? mungkin tekanan yang terjadi sebelumnya bisa teratasi.. terimakasih

  2. Saya juga mau pindah mas akuntansi ke ilmu komunikasi. Saya tidak bisa hitung banyak2 saya lebih senang komunikasi, dan bersentuhan langsung dengan alam.. saya tidak tahan bila berhadapan dnegan kegiatan yang monoton..
    Kreatifitas dan imajinasi saya terhambat, rasanya tersiksa bathin..

    1. Maaf baru balas sekarang. Kalau di kampus Sidar berkuliah sekarang ada jurusan ilmu komunikasi dan ada teman atau kenalan yang berkuliah di jurusan itu, baiknya coba sit in dulu di beberapa mata kuliahnya. Karena pilihan jurusan bukan cuma sebulan atau dua bulan. Nanti kalau sudah punya bayangan perbandingan dua-duanya, baru coba dipikirkan lagi. Semoga mencerahkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s