Help!

Help! I need somebody
Help! Not just anybody
Help! You know I need someone
Help!(When) When I was younger (When I was young) so much younger than today
(I never need) I never needed anybody’s help in any way
(Now) But now these days are gone (These days are gone) and I’m not so self assured
(And now I find) Now I find I’ve changed my mind, I’ve opened up the doors

Help me if you can, I’m feeling down
And I do appreciate you being ’round
Help me get my feet back on the ground
Won’t you please, please help me?

(Now) And now my life has changed (My life has changed) in oh so many ways
(My independence) My independence seems to vanish in the haze
(But) But ev’ry now (Every now and then) and then I feel so insecure
(I know that I) I know that I just need you like I’ve never done before

Help me if you can, I’m feeling down
And I do appreciate you being ’round
Help me get my feet back on the ground
Won’t you please, please help me?

When I was younger, so much younger than today
I never needed anybody’s help in any way
(Now) But now these days are gone (These days are gone) and I’m not so self assured
(And now I find) Now I find I’ve changed my mind, I’ve opened up the doors

Help me if you can, I’m feeling down
And I do appreciate you being ’round
Help me get my feet back on the ground
Won’t you please, please help me?

Help me, help me
Ooh

Help adalah satu dari sekian banyak lagu the Beatles favorit saya. Karena lagu ini berbicara tentang sebuah hakikat paling dasar dari diri seorang manusia yang pasti dan akan selalu butuh pertolongan. Ada saat-saat dalam hidup kita ketika baris-baris pepohonan dan bangunan-bangunan yang berdiri di hadapan kita berubah seketika warnanya menjadi hitam putih seperti televisi di tahun 1950-an. Di hari-hari tergelap itu ketika memandang matahari pun rasanya butuh keberanian ekstra.

Mungkin akan ada banyak orang yang hadir dalam hidup kita. Ada orang-orang yang hanya akan hadir sehari atau dua hari saja, juga ada mereka yang akan selalu hadir di keseharian selama satu periode waktu, dan mereka yang akan selalu hadir kapan pun kita membutuhkan. Untuk yang terakhir ini, nggak semua orang punya. Dan di situlah sedihnya hidup menjadi manusia.

Karena apa pun yang kita lakukan, baik atau buruk pun itu, kita nggak akan bisa lepas dari judge atau label yang akan disematkan oleh orang lain. Sebagian orang bisa melaluinya tanpa kepikiran, sebagian yang lain mau nggak mau menjadikan itu suatu standar bagi diri mereka.

Pilih hidupmu. Pilih karirmu. Pilih asuransimu. Pilih perumahanmu. Pilih akun bank-mu. Pilih keluargamu. Pilih dana pensiunmu. Pilih rekreasimu. Pilih liburanmu. Pilih pendidikan anak-anakmu. Pilih perceraian dengan istrimu. Pilih gambar-gambar atau video-video yang akan kamu post di media sosial. Pilih mesin cucimu. Pilih televisimu. Pilih komputermu. Pilih laptopmu. Pilih teman-temanmu. Pilih tagihan-tagihan kartu kreditmu. Pilih segalanya yang membuatmu bahagia.

Tentang mimpi, tentang cita-cita

anne-frank-pic-and-quote
Anne Frank Huis, Amsterdam

“Ik zal niet onbetekenend blijven, ik zal in de wereld en voor de mensen werken!” /

“Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak berarti, aku ingin melakukan sesuatu di dunia dan untuk kemanusiaan.”

(Entry pada buku harian Anne Frank di tanggal 11 April 1944)

Ketika mencoba mendeskripsikan fase-fase dalam proses transisi karir The Beatles pada buku Shout!, Philip Norman menggunakan istilah: Wanting, Getting, Having, dan Wasting.

Umumnya, kita mengawali banyak proses dalam hidup kita dengan Wanting (menginginkan). Seperti ingin mencapai ini-itu, entah itu berkuliah di tempat yang diinginkan atau memulai karir sesuai passion. Di proses wanting ini, terkadang jalan hidup kita belum jelas. Karena kita hanya melakukan segala sesuatu sekenanya saja, sesuai dengan apa yang kita anggap benar ketika itu. Tidak jarang pula manusia melakukan proses trial-and-error ketika berusaha melalui proses ini. Seperti misalnya, mencoba berbagai macam hal dari yang terlihat normal sampai yang paling aneh. Beberapa orang berhenti pada proses wanting, karena tidak melihat adanya kemajuan yang signifikan atau adanya kesempatan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya.

Pada beberapa orang, proses Wanting ini akan berkembang menjadi Getting (mendapatkan), ketika elemen-elemen yang mendukung untuk terwujudnya keinginan itu tersedia dalam kehidupan kita. Seperti misalnya, adanya kesempatan atau momentum yang tepat untuk mewujudkannya. Proses getting juga bukanlah hal yang mudah, karena terkadang muncul tantangan yang bukan munculnya dari luar, tapi justru dari diri kita sendiri dan orang-orang terdekat kita. Seperti dikatakan oleh banyak petuah, kalau pertempuran tersulit itu adalah melawan diri kita sendiri. Karena pertempuran itu seringkali tidak kita saksikan dan kita rasakan hawa-hawa perjuangannya. Untuk bisa menang pada proses getting, kita perlu mendefinisikan dengan jelas mengenai apa yang benar-benar kita inginkan pada proses wanting. Karenanya mengevaluasi kembali hal-hal yang telah kita lakukan sesekali adalah hal yang perlu untuk dilakukan.

Setelah berjuang pada proses Getting, beberapa orang akan sampai pada proses Having (memiliki). Banyak orang menganggap proses ini sebagai hasil akhir, bahkan puncak dari kehidupan. Sebagian yang lain akan menganggap having sebagai hal yang biasa saja seiring berjalannya waktu, karena hal yang terasa spesial di awal pun akan menjadi hal yang biasa saja pada akhirnya. Karena itulah, tidak banyak manusia yang berakhir pada fase having. Kebanyakan dari mereka akan menuju ke fase berikutnya, yaitu Wasting (menyia-nyiakan).

Manusia itu pada dasarnya punya banyak kemauan, tanpa sadar bahwa masa hidupnya tidaklah lama. Karena itulah, menjadi hal yang penting untuk menyeleksi antara hal-hal yang hanya merupakan keinginan sementara dengan hal-hal yang menjadi panggilan hidup kita. Bisa jadi selama ini kita terjebak melakukan sesuatu yang bukan benar-benar cita-cita, harapan hidup kita. Berapa banyak orang yang kemudian kehilangan kewarasannya karena kerasnya situasi kerja di era modern? Modernitas menuntut banyak hal, salah satunya adalah terbatasnya waktu kita untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.

Sayangnya, aku terlambat menyadari panggilan hidupku. Tapi bukanlah masalah jika kau terlambat menyadarinya. Sepanjang hal itu terjadi ketika kau masih memiliki nafas untuk mewujudkan panggilan hidup itu dan semangat untuk meraihnya.

Untuk: Azizah Dwi Fatmawati, adik perempuanku yang tahun ini akan memulai masa kehidupannya sebagai mahasiswa di Teknik Mesin Universitas Brawijaya.

Baca, baca, dan terus baca

“Mungkin kau tak pernah bertemu denganku, tapi segala hal yang ada di pikiranku kini ada di kepalamu.”

Sampai saat ini, aku masih merasa kalau buku adalah penemuan paling ajaib yang pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, walaupun mungkin sekarang sudah bertebaran juga berbagai artikel dan buku dalam wujud elektronik. Karena melalui buku, kita dapat berkomunikasi dengan manusia yang berbeda waktu dan tempat dengan kita.

Mungkin kalau boleh diibaratkan dengan konsep tentang perpindahan ruang dan waktu, buku ibarat sebuah peti kemas tempat kita bisa menyimpan baik-baik berbagai hal yang saat ini ada di kepala kita untuk dibuka kembali oleh orang lain yang bisa jadi hidup di 2000 tahun yang akan datang, atau mungkin tinggal ribuan kilometer jauhnya dari tempat kita berada.

Bukankah itu hal yang mengagumkan? Ketika kau bisa bercakap-cakap tentang filsafat alam dengan Aristoteles atau menikmati bagaimana Mary Shelley menceritakan kisah Frankenstein.

Selain sebagai penemuan terhebat, aku juga merasa buku adalah barang investasi yang paling berharga nilainya. Mungkin sedikit berlebihan, karena kita tahu kalau banyak buku bekas yang dihargai jauh lebih murah daripada buku baru. Akan tetapi perlu diperhatikan, kalau buku bekas yang dihargai murah kebanyakan adalah buku-buku yang rentang usianya kurang dari 100 tahun.

Justru, hei! Buku-buku tua yang sudah lapuk dan kuning dimakan usia akan dicari oleh manusia mana pun yang haus akan pengetahuan di dalamnya. Karena begitu berharganya pemikiran yang ada di dalamnya dan nilainya sebagai sebuah artefak. Saat ini, tentu bukan hal yang mudah untuk menemukan incunabula (incunabula: buku-buku pertama yang dicetak setelah Gutenberg menemukan teknik mencetak buku) dan menaruhnya di rak lemari buku kita.

Suatu hal yang menarik bahwa buku-buku itu menjadi sarang debu-debu dan jaring laba-laba di perpustakaan hingga waktu yang lama. Aku jadi bertanya-tanya sendiri pada wujud pikir manusia. Jika buku-buku itu tempat manusia mengawetkan pemikiran-pemikirannya, lalu debu-debu memenuhinya, lantas apakah pemikiran manusia sudah berdebu?

Menyelami Masa Depresi Amerika pada Kacamata Scout Finch/Depression Period in the US through Scout Finch Lens

715vlp6m-olIdentitas Buku/Book Identity

Judul buku/Title: To Kill A Mockingbird

Penulis/Author: Harper Lee

Penerbit/Publisher: Hachette Book Groups

Jumlah halaman/Total Pages: 389 halaman/389 pages

“Shoot all the blue jays you want, if you can hit ’em, but remember it’s a sin to kill a mockingbird.”

To Kill A Mockingbird bisa dibilang sudah menjadi sebuah karya klasik abad ke-20 yang perlu dibaca oleh orang-orang di generasi mendatang. Harper Lee memulai petualangan yang ada dalam buku ini dengan menghidupkan dua tokoh kakak-beradik Jeremy dan Scout Finch, yang masing-masing berusia 6 dan 10 tahun saat dimulainya cerita. Finch bersaudara ini tinggal bersama ayah mereka, Atticus Finch, yang merupakan seorang pengacara yang sangat disegani di lingkungan mereka. Selain Atticus, kehidupan rumah keluarga Finch juga dipenuhi dengan cerita mengenai Calpurnia, seorang wanita Afro-Amerika yang menjadi pengasuh Scout dan Jeremy, di samping juga mengerjakan segala urusan rumah tangga keluarga Finch.

To Kill A Mockingbird has been a classic of the 20th century which need to be read by people from the next generation. Harper Lee began the adventure on her book by describing the life of Jeremy and Scout Finch, who were 6 and 10 in the story. The two Finch were living with their father, Atticus Finch, who was a lawyer with high reputation in their neighborhood. Other than Atticus, the house of Finch also filled in with stories about Calpurnia, an Afro-American woman who babysit Scout and Jeremy, besides did all the housework of the Finch household.

Mengambil setting waktu di masa depresi sekitar tahun 1920-1930-an, Harper Lee dapat dengan baik mendeskripsikan kesulitan perekonomian yang dialami oleh keluarga-keluarga di Amerika Serikat. Hal itu dapat kita lihat dari salah satu teman sekelas Scout, Walter Cunningham, yang ayahnya merupakan salah satu pengguna jasa Atticus Finch sebagai pengacara. Walter Cunningham, Sr. menggunakan sekarung hasil panennya untuk membayar jasa Atticus yang menjadi pengacaranya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian pada masa itu sedang mengalami penurunan hingga mengakibatkan berlakunya sistem barter pada situasi tertentu.

Through the book which took setting in the period of depression during 1920-1930’s, Harper Lee described well the harsh economic condition which needs to be faced by Americans at that time. We can witness it in one of Scout’s classmate, Walter Cunningham, whose father was one of Atticus clients. Walter Cunningham Sr., gave a pack of his crops to pay Atticus for his job. This showed that the economic condition declined at that time which caused people to trade their goods in some situations.

Selain masalah ekonomi, Harper Lee juga turut menyorot diskriminasi yang terjadi antara orang-orang berkulit putih dengan orang-orang berkulit hitam. Hal ini didukung oleh beberapa elemen dalam cerita. Yang pertama, adalah pemilihan latar tempat di Madison County yang letaknya di Negara Bagian Alabama, yang merupakan basis dari wilayah selatan pada Perang Saudara Amerika. Seperti telah kita ketahui sebelumnya, Perang Saudara Amerika atau American Civil War (1861-1865) yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abraham Lincoln merupakan peristiwa yang terjadi salah satunya karena perbedaan pendapat antara wilayah utara dan selatan mengenai perbudakan.

Other than economic problems, Harper Lee also noted discrimination between white and black people. This is supported by some elements of the story. The first one is the selection of the place which took place in Madison County which located in Alabama State, which was the base of the Southern Army during American Civil War. As we already knew, American Civil War (1861-1865) which happened during the reign of President Abraham Lincoln was a war which happened because of different perspectives on slavery between Northern and Southern part of the US.

Di wilayah selatan, para budak dari ras negroid memegang peranan penting dalam menyokong perekonomian, sehingga hal ini menjadi suatu keberatan yang besar bagi wilayah selatan untuk memerdekakan budak. Diskriminasi ini pun masih menjadi sesuatu yang sulit untuk dihilangkan hingga satu abad selanjutnya. Masalah rasisme ini pula yang menjadi bahasan utama dari buku ini, ketika Atticus Finch pada akhirnya mempertaruhkan reputasinya sebagai pengacara dan wakil dari masyarakat kulit putih ketika harus membela seorang nigger.

In the south, the slaves from the negroid race had the vital point on supporting the economy, which caused the Southern problems to release their slaves. This discrimination was still a major problem until the next century. The problem of racism also became the major topic of this book, especially when Atticus Finch bet up his reputation as a lawyer and a white race since he has an obligation to defend a nigger.

Tak hanya berbicara mengenai hal-hal serius, Harper Lee juga menyelipkan beberapa humor khas anak-anak pada buku ini yang terwujud dari kepribadian Scout Finch dan beberapa temannya. Salah satunya adalah permainan mereka mengenai tokoh Boo Radley. Boo Radley adalah anak laki-laki dari keluarga Radley yang tinggal di sebuah rumah bernama Radley Place. Ia hampir tidak pernah keluar rumah, serta memiliki gosip buruk seperti liurnya selalu menetes dan senang menyiksa anak-anak. Pada awalnya, Scout dan teman-temannya sering mengganggu kediaman keluarga Radley dengan mengetok pintu atau pun sekadar berteriak dari luar rumah. Namun, di akhir cerita diungkap bahwa Boo Radley adalah sosok religius yang baik dan bahkan menyelimuti Scout ketika terjadi kepanikan akibat kebakaran di musim dingin.

Not only talk about serious things, Harper Lee also provided us with some child-like humor in this book which brought up through the personalities of Scout Finch and some of her friends. One of those was the humor concerned with Boo Radley. Boo Radley was the son from Radley family who lived in a house called Radley Place. He almost never got out of the home, also had some bad gossips like his saliva always tore down and he also enjoyed teasing kids. At first, Scout and her friends often disturbed the Radley household by knocking on their door or by shouting from the outside of the home. But in the end, Boo Radley was a religious caring person who even covered Scout with a blanket after a fuss caused by the fire in the neighborhood during winter.

Walaupun topik yang dibawa pada novel ini cukup berat, mengenai rasisme dan masa depresi ekonomi, pembawaan Harper Lee melalui tokoh Scout Finch cukup bisa mendeskripsikan kondisi yang ada di dunia nyata. Kekuatannya ada pada penggunaan tokoh anak-anak yang pada dasarnya masih polos dan belum tersentuh oleh berbagai kepentingan seperti halnya pada orang dewasa. Namun, secara keseluruhan pembawaan dari Harper Lee di awal cerita terkesan akan terkesan cukup datar bagi sebagian orang karena perkembangan cerita yang lambat di awal.

Even though the topic of this novel is a bit hard, about racism and depression period, Harper Lee can bring the story together through the characterization of Scout Finch and described the realities well. The power lies in the characterization of children who were still blank and had no personal interests. But, the story is a bit slow paced in the beginning which can cause it to be boring for some people.

L’art pour l’art, Seniku dalam Belajar

rba-image-1110984

Saya pertama kali mengenal frasa l’art pour l’art ketika saya mengikuti kuliah Perkembangan Kesusastraan Belanda di semester ketiga perkuliahan saya. L’art pour l’art dapat diterjemahkan secara etimologi menjadi seni untuk seni dalam bahasa Indonesia atau art for art’s sake dalam bahasa Inggris. L’art pour l’art adalah slogan dalam bahasa Prancis yang populer di antara para penyair di Eropa abad ke-19 yang berusaha memaknai seni sebagai sesuatu yang murni. Dengan kata lain, seni harus merupakan sesuatu yang murni dan bebas dari segala unsur didaktik, moral, dan utilitarian. Sederhananya seni tidak boleh memuat unsur politik apapun.

Edgar Allan Poe sempat menyinggung mengenai konsep ini dalam esainya yang berjudul The Poetic Principle (1850):

“We have taken it into our heads that to write a poem simply for the poem’s sake […] and to acknowledge such to have been our design, would be to confess ourselves radically wanting in the true poetic dignity and force: – but the simple fact is that would we but permit ourselves to look into our own souls we should immediately there discover that under the sun there neither exists nor can exist any work more thoroughly dignified, more supremely noble, than this very poem, this poem per se, this poem which is a poem and nothing more, this poem written solely for the poem’s sake.”

Hakikat kemurnian seni ini menjadi sesuatu yang penting pada zaman itu. Ada pula suatu pendapat yang mengatakan bahwa seni itu dapat dijadikan suatu indikator bagi perkembangan peradaban. Semakin maju sebuah peradaban, seharusnya semakin berkembang pula karya seni pada zaman itu.

Sampai kemudian saya sampai pada suatu pendapat bahwa konsep seni ini pun ada dalam belajar. Seni harus murni dibuat untuk seni itu sendiri, maka menurut saya dalam belajar pun kita perlu melakukannya murni karena kita ingin belajar. Learn for Learn’s sake!! Karena bukan sekali dua kali saya menemukan orang-orang yang belajar karena alasan-alasan yang kurang membuat proses belajar itu berlangsung dengan baik.

Katakanlah, mungkin kita sendiri termasuk dari beberapa di antaranya. Ada orang-orang yang belajar karena mengejar nilai di atas kertas semata, atau demi mendapat pengakuan dari masyarakat. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, tetapi ketika kita berusaha keras mempelajari hal-hal yang tidak kita sukai, hal tersebut akan menjadi sesuatu yang membebani pikiran kita.

Let me ask: are you curious about something right now? when was the last time you felt curious?

Rasa penasaran itu yang menggerakkan kita untuk maju. Kapan terakhir kali Anda merasa penasaran dengan apa yang Anda pelajari? Mungkin Anda seringkali melihat sesuatu dan bertanya-tanya mengenai asal-usulnya, tetapi apa rasa penasaran itu hanya berhenti menjadi rasa penasaran? Karena ada begitu banyak pertanyaan yang masih belum terjawab hingga kini, menunggu ada jawabnya.

Salah seorang Imam Mazhab dalam Islam, Imam Syafi’i pernah mengatakan: Jika kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.” Menuntut ilmu itu penting, dan untuk bisa menjaga intensi kita dalam belajar, kita perlu terus memantik rasa penasaran kita pada hal-hal baru. Curiosities is important, bro-sist. Lalu bagaimana cara menjaga rasa penasaran kita agar tetap ada? Kita bisa memulai dari hal-hal sederhana, sesederhana meng-google sesuatu yang ada di keseharian yang menimbulkan pertanyaan di kepala kita. 

René Descartes mencontohkannya dengan Teori Keragu-raguannya yang mempertanyakan segala sesuatu dan meragukan apa yang ada di alam ini. Seperti misalnya, ketika kita sedang pergi dengan naik KRL Commuter Line, kita coba mencoba mencari tahu sesimpel bagaimana KRL bisa berjalan, kapan KRL mulai beroperasi di Jabodetabek, atau bagaimana pantograf pada KRL berguna untuk menerima aliran listrik dari gardu listrik. Konsep 5W+1H (What, Why, When, Where, Who, How) yang dulu kita pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia semasa sekolah dapat diaplikasikan di sini.

Belajar lah karena kita memang harus belajar. Dan jangan sampai Anda merasa terpaksa karenanya. Ikutilah rasa penasaran Anda, sampai rasa penasaran Anda hilang karena Anda sudah tahu jawabannya!

Tentang Diriku yang Sebentar Lagi Pergi 

Hidup itu sebuah anugerah, karena ada begitu banyak hal yang patut disyukuri. Kicau burung di pagi hari, hangatnya matahari di siang hari, sepotong senja di kala terbenamnya hari, hingga sapuan gelapnya malam. 

Karenanya air mataku sering kali meleleh mengingat bahwa bumi yang fana ini hanya sebentar kali kusinggahi. Beribu-ribu kali kualamatkan pada Yang Maha Mencipta bahwa aku ingin hidup seribu tahun lagi. 

Ingin kuucap salam selamat tinggal pada ribuan kilometer jauhnya alam terbentang, alam yang hingga kini masih belum kujejak dengan dua telapak kakiku. Begitu pula dengan bangunan-bangunan tua dan orang-orang asing yang belum kuajak bicara. 

Menampik luka lama yang kutorehkan pada umat manusia, aku hanya ingin meminta maaf pada sang setan yang kerap kali menyertaiku. Karena dia tak bisa berlama-lama lagi menyesatkanku pada jalan yang ia tempuh sejak jaman dahulu kala. 

Kukirimkan sebuah doa, doa pada orang-orang yang selalu menertawakanku dan perlahan membunuhku dengan kata-kata mereka, dengan diamnya mereka. 

Aku hanya lah bocah rapuh, bocah yang sempat diikat oleh tali-tali penuh siksa dan darah oleh induk semangnya. Bocah yang tak pernah mendengar sepatah kata mutiara pun dari mulut sang pemberi uang. 

Aku hanya lah bocah rapuh, bocah yang oleh teman selalu dianggap paling kuat. Bocah yang sebenarnya berdiri dengan dua kakinya sendiri pun tak mampu, karena ia masih butuh sebuah tongkat sandaran yang walaupun rapuh tetap dipegangnya. 

Siapa yang mengetahui, maka ia lah yang berhak untuk memutuskan.

Untukmu yang membaca, carilah aku, carilah aku hingga ke ujung dunia. Karena aku, tak kan pernah kau temukan lagi. Karena aku, hanya singgah di dunia yang fana ini. Karena aku, tak kan tertulis di buku sejarah mana pun. Karena aku, yang akan selalu sendirian hingga akhir waktu ini cukup mengerti. 

YLCCC 2017: 3 Days as a Climate Ranger

“Earth provides enough for everyone’s need, but not for every man’s greed.”

(Mahatma Gandhi)

Earlier this year from February 24th to 26th 2017, I got a chance to participate at the Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 (YLCCC 2017) in Bandar Lampung with a visit to UNESCO site at Bukit Barisan Selatan National Park. YLCCC is a 3-day training which aim is to equip 50 selected youth from all over Indonesia with knowledge on climate change. The selection itself was rather rigorous and competitive. Prior to this event, the prospective participants must make a team consist of 5 persons with gender balance (either 3 women and 2 men or 3 men and 2 women). Each team had to fill the form, also send our Curriculum Vitae along with motivation letters.

Actually, my team failed once in the selection of YLCCC at Gunung Leuser National Park which was held some days prior to the one in Lampung. But we tried to edit our motivation letters to make sure that our intentions delivered into the committee’s minds and fit the requirements. February 20th, 2017 marked the day when we got the announcement of our participations. It was a good news for my team: Reni, Uty, Faris and Garda, as we were able to participate in the event.

Day 1 – February 24th. 2017

On the first day, 50 delegates who come from different places in Indonesia gathered at Ashoka Luxury Hotel in Bandar Lampung to learn and discuss climate change. This event was held by The Climate Reality Project Indonesia, YFCC (Youth for Climate Change) Indonesia, UNESCO, SIDA, UNCC-LEARN, UNITAR in order to equip youth with knowledge on climate change and share the knowledge after the event. The committee greeted us with a warm welcome and gave us a morning coffee. It was a nice first impression.

The first thing was a pre-test! The pre-test was conducted by the committee in order to assess the participant’s knowledge on climate change. It contains 10 questions about various topics which we will discuss for the following 3 days. Then, we had welcoming remarks from Shahbaz Khan (UNESCO Jakarta), Amanda Katili Niode (Climate Reality Project Indonesia) and Kristina Rekakavaz (UN:CC Learn). Next thing, we had an ice breaking from the MC, Ms. Lia Zakiyyah. After that, we had a coffee break and lunch.

We had some sessions afterward. The first session after the lunch was a brief introduction on climate change by Mrs. Amanda. It was a nice session. Even some of us who did not really familiar with climate change issues and terms were getting enough insights on climate change. After that, we had a short introduction on UNESCO and how can UNESCO help in combating climate change. UNESCO has a role in educating sustainable development goals, to assess the risk of natural disaster, to monitor the effect on climate change in UNESCO sites and to promote low carbon use.

Then, we had an introduction to Bukit Barisan Selatan National Park by Mr. Timbul Batubara, the Head of Bukit Barisan Selatan National Park. He told us about the programs in Bukit Barisan Selatan National Park and its correlation with climate change. He has done various works which helped to raise a number of rare species there. The next session was about Carbon Footprint by Mrs. Murni Titi. The participants learned how to calculate our carbon footprint use.

16788708_203460150134797_3466232693149138944_n
Learning about carbon footprint with Mrs. Murni Titi. (Source: YLCCC Team)

After the next coffee break, we learned about how to communicate climate change to the mass from Ms. Lia Zakiyyah. The main emphasis of this session was that so we can portray positive vibes that we will gain if we prevent climate change from happening. Since most of these days’ campaign on climate change portray only the dangers caused by climate change. The last for today was a session from Ray Nayoan about how to turn our ideas into a great short movie which will be the good for climate change campaign.

Day 2 – February 25th, 2017

We were supposed to gather at the hotel lobby at 6.00 am, but it turned out that most of the participants showed up late at the venue. It seemed that the participant’s lack of rest triggered this. Hence, we entered the bus at 6.30 am and had our breakfast there. We had to have our breakfast on the way because it takes about 3 hours from Bandar Lampung to the meeting point at Bukit Barisan National Park (TNBBS). We got a warm welcoming remark from TNBBS.

16788936_738273179683830_5891238869910683648_n
Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. (Source: YLCCC Team)

The 10 teams were divided into 3 routes: Rhino Camp, Tarsius, and Turaff Waterfall. My team went to Rhino Camp with some other groups. We started our journey from the post of Rhino Camp with some guides from locals and TNBBS. The guides told us that we can encounter elephants and Rafflesia arnoldi if we are lucky enough. In the end, we did not encounter any elephants or Rafflesia flower. We only saw some of the elephant’s traces such as the feces’ and footprints.

It was not easy to encounter elephants because they have a great sense of human signs such as smells and sounds. They could predict human whereabouts from 5 kilometers distance. Some of us have taken a bath this morning and smelled good so it could be the cause of why the elephants did not show their nose for us.

IMG_20170225_113403
The view of the main post at Bukit Barisan Selatan National Park (TNBBS).

What really interesting about our journey today, was our encounter of Nephentes. As we already know, Nephentes could digest small animals such as ants when it entered its inside. The inside of Nephentes contains water which can be used for cures of various diseases before its bloom, but it will become toxic once it has bloomed.

Other than that, we also managed to plant some small trees in some areas which have been prepared by the guides. It was fun and also encouraging. Our hands were dirty, but we were happy to do these things. At the end of the journey, the guides released some birds as a symbolism of the birds’ rights to have freedom within nature. There were also some other animals which have been confiscated from irresponsible hunters such as kukangs and snakes which also got released.

We went back to the hotel and arrived at 19.28 pm. After a one-hour break, we got two sessions from Ms. Lia and Mr. Ray. Ms. Lia reviewed how we can frame our campaign into positive thinking, while Mr. Ray reviewed our video shots which we took prior to the session while we did our journey at TNBBS. Our videos were not really good, which become the main topic of the discussion. Mr. Ray pointed to some of our faults while taking the videos and gave some solutions to overcome these problems. Finally, we got a new task for tomorrow! To make a short film: the script, the shooting, and the editing. Not forget to mention, we also got some tasks for the post-camp activities.

16465865_1889700967968011_8881448333210550272_n
The session about video-editing with Mr. Ray Nayoan.

Day 3 – February 26th, 2017

Today we began our activities at 8.00 am after having a quick breakfast due to our late wake-up. Our first task was to shoot a short video to give positive frame about climate change. Our team chose “Think Eat Save” as the theme. The main purpose of this theme is to prevent the viewers to not throw away the food and take it only as they needed.

Wasting the food can increase gas emission on the earth. So we should decrease meat and other foods with high carbon consumption. In addition, by decreasing meat consumption we can replace it with vegetables. Consuming vegetables can decrease carbon emission on earth.

We took 2 hours to take a video, from 08.00 am-11.00 am. We were guided by Mr. Ray on producing visual story-telling. He gave tips and tricks such as managing ISO, duration, zooming and angle. In presentation session from Mr. Ray, we can understand the materials. But in reality, it is not that easy. We got some problem like taking the angle, noises from surrounding areas and lighting. But that is OK for us as a beginner. At 11:00 am, we started editing the video. The movies of my group did not finish yet due to the short time.

After lunch, all of the group presented their videos. It was a funny moment to watch how diverse is of each team’s video. They made video campaign with their own style. Unfortunately, my group video could not be played due to the technical issue. Mr. Ray gave each group technical advice to make sure that they can make good videos.

At last, we got a post-test from the committee. The problems were similar to the pre-test which we got on our first day. If we were to recall, most of us can do the test better than the pre-test. We also wrote a postcard which we sent to our address to remind us the dream to combat climate change in our own ways. It was a memorable experience, especially for me who love to do Postcrossing around the world.

IMG_20170226_145926
We were sending our postcards!